Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
RMOL. Rencana pemerintah menghapus perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tidak memiliki tiga unsur kekuatan, mendapat harus terukur. Jangan sampai muncul kerugian baru.
Pengamat Ekonomi Yanuar Rizki menilai, langkah yang akan diambil Menteri BUMN Dahlan Iskan adalah hal yang wajar unÂtuk dilakukan.
“Saya setuju dengan langkah beliau yang merampingkan BUMN. Akan tetapi harus deÂngan mekaÂnisme yang jelas dan tepat,†ujarÂnya saat dihubungi Rakyat MerÂdeka, kemarin.
Namun dia mengingatkan, aksi itu harus dilakukan secara benar. Jangan sampai terjadi kesalahan dalam menghapus BUMN. “TerÂuÂtama pada BUMN yang berÂorientasi pada profit,†ujarnya.
Pendapat senada juga dilontarÂkan Ketua BUMN Watch Naldy Nazar Haroen.
“Terutama BUMN yang berÂgerak di bidang Jasa dan konsÂtrukÂsi. Selama ini kan terlalu banyak BUMN di bidang itu. Lebih baik dirampingkan saja biar tidak pada rebutan buat cari proyek,†timpalnya kepada RakÂyat Merdeka, kemarin.
Ia menceritakan, yang terjadi selama ini antar BUMN yang satu dan lainnya itu berlomba-lomba mencari proyek. Bahkan sering gontok-gontokan dengan sesama BUMN.
“Kalau bisa sih dipercepat saja untuk perampingan. Tetapi harus dengan ketelitian dan hati-hati. Jangan sampai salah hapus yang bisa berakibat fatal dikemudian hari,†sarannya.
Selain itu, Naldy menegaskan BUMN yang terus merugi dalam beberapa tahun terakhir lebih baik dilikuidasi saja. “Buat apa diÂperÂtahankan jika tidak memÂberiÂkan pemberian yang maksiÂmal kepada negara,†teÂgasnya.
Sementara Anggota Komisi VI DPR FerÂrari Romawi setuju dan menÂdukung kebijakan yang diÂlaÂkukan oleh Dahlan. Menurutnya lebih baik BUMN yang bergerak di biÂdang yang sama dibentuk saja seÂbuah Holding Company, seperti yang sudah diakukan di sektor perkebunan.
“Tapi pembentukannya harus sesuai dengan peraturan yang berlaku dan harus cermat. jangan asal digabung dan diramÂpingkan saja. Dan jangan sampai setelah dibentuk holding labanya malah turun,†jelasnya kepada Rakyat MerÂdeka, kemarin.
Dia juga menyarankan, kepada BUMN yang labanya rendah haÂrus ditingkatkan lagi dan kalau bisa jangan dilikuidasi. Karena membutuhkan biaya yang banyak.
Sementara Dirut Perum Damri Agus Subrata menyatakan pengÂgabungan ke PT KAI kurang efektif. Karena PT Damri sudah mulai untung.
Sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan berenÂcana menghapus BUMN yang tidak memiliki tiga unsur kekuatan. Tiga unsur itu adaÂlah yaitu memÂpertahankan eksÂistensi negara, memiliki mesin pertumbuhan dan menjadi peÂmimpin di Asia Tenggara.
Dahlan mengakui tengah meÂruÂmuskan tiga unsur yang harus dimiliki BUMN. Pertama, BUMN wajib mempertahankan eksistensi negara. Hal ini berÂkaitan dengan BUMN strategis, misalnya bidang persenjataan seÂperti PT Pindad dan BUMN energi seperti PertaÂmina dan PLN.
Kedua, menurut Dahlan, BUÂMN harus memiliki mesin perÂtumbuhan (engine of growth) seÂperti BUMN pangan. ContohÂnya PT Sang Hyang Seri dan PeÂrum Bulog. Syarat ketiga, BUMN haÂrus menjadi pemimpin negara di Asia Tenggara. Hal ini didasari kaÂrena Indonesia sering diseÂpeÂlekan negara lain.
Dahlan mengatakan KemenÂterian BUMN dan jajarannya sudah meÂruÂmuskan perusahaan pelat meÂrah yang berjumlah 140 itu. Menurut dia, perusahaan-peruÂsahaan kecil itu akan terlalu meÂmakan banyak energi jika tidak diÂakuisisi. Kelak, 140 BUMN itu akan menjadi lebih ramping, hanya 95 BUMN. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39