Bank Danamon
Bank Danamon
RMOL.Bank Indonesia (BI) hingga kini masih merasa kecolongan dengan aksi jual beli saham Bank Danamon kepada DBS Group. Kehadiran OJK diharap tidak mengulang tumpulnya pengawasan BI.
Direktur Pengawasan II Bank Indonesia (BI) Endang KusÂsuÂlanjari Tri Subari mengatakan, pemÂbelian saham Bank Danamon oleh DBS Group Singapura menÂjadi peÂringatan bagi pihaknya.
Ia mengaku sempat ditegur GuÂbernur BI Darmin Nasution kaÂrena dinilai lalai mendeteksi adaÂnya transaksi pembelian saham Bank Danamon itu.
“Saya yang mengawasi, saya dimarahi oleh Pak Darmin. KeÂnaÂpa kok tidak terdeteksi sejak dini,†ungkap Endang di acara Seminar ImÂpleÂmentasi Sistem Pengawasan LeÂmÂbaga Keuangan Pasca disahÂkannya Undang-Undang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta, kemarin.
Dia menjelaskan, dalam tranÂsakÂsi itu memang penjual dan pemÂbeli sama-sama berasal dari SiÂngapura. Ia mengakui, aksi korÂpoÂrat yang biasa dilakukan perÂusaÂhaan-perusahaan asal Negeri Singa itu sering tidak transparan.
“Harapannya, nanti bisa terÂdeteksi lebih dini dengan adanya inteÂlijen dan lebih terintegrasi,†harapnya.
Endang menegaskan, SingaÂpuÂra memang salah satu negara yang sulit memberikan informasi. Ia lalu mencontohkan, bank seÂhaÂrusÂnya memiliki keterbukaan data. Namun tidak demikian dengan bank asal Singapura yang beroperasi di Indonesia.
Endang mengakui, untuk menÂdapatkan informasi perihal akuisisi yang melibatkan perÂusaÂhaan asing seringkali sulit. MeÂnurut pengalaman BI, mereka kerap kesulitan melacak alamat maupun informasi perusahaan asing dinegaranya.
Bahkan, perwakilan BI di Singapura terpaksa harus mencari alaÂmat sendiri secara langsung. “Kita perlu semacam intilijen unÂtuk pengecekan sendiri,†ujarnya.
Ia melanjutkan, saat ini perÂwaÂkilan BI di negara-negara tertentu hanya bersifat kerja sama, bukan sebagai lembaga pengawasan.
Karena itu, kelahiran OJK diharapÂkanÂnya dapat mendeteksi lebih dini kejadian seperti akuisisi saÂham Bank Danamon oleh DBS Group. “Saya berharap OJK daÂpat memÂpertajam unit intelijeÂnÂnya dalam mendeteksi berbagai aksi korporasi yang sensitif,†tuturnya.
Anehnya lagi, tambah Endang, aksi DBS ini tidak terdapat dalam rencana bisnis bank (RBB) DaÂnamon. “Dalam RBB tidak mengÂindikasikan adanya keÂmungÂkinan akuisisi tersebut,†sesal Endang.
Pengamat ekonomi dari UniÂversitas Gadjah Mada (UGM) Tony A Prasetiantono menilai, peÂÂrilaku DBS tidak pantas dan BI seÂharusnya terÂsinggung dengan sikap tersebut. “Saya menyaÂranÂkan BI menegur DBS dan TeÂmaÂsek (seÂbagai holdings),†katanya keÂÂpada RakÂyat Merdeka, kemarin.
Setali tiga uang, pengamat ekoÂnomi Yanuar Rizki pun juga mengÂÂkritisi proses akuisisi DaÂnaÂmon dengan DBS Group. MeÂnuÂrutÂnya, restu dari BI sangat penÂting, karena transaksi ini meÂnimÂbÂulkan pergantian pemegang saÂham pengendali. “Mengubah rencana bisnis bank (RBB) saja, bank harus lapor, apalagi ultimate shareholder (pemilik) berganti,†katanya.
Sementara itu Presiden Direktur Danamon Henry Ho menjelaskan, pihaknya tetap melanjutkan bisÂnisnya kenÂdati akuisisi tersebut diangÂgap bermasalah. “Kami teÂtap akan lanÂjutkan bisnis sesuai yang diÂrencanakan. Saya tidak mau koÂmenÂtar banyak soal itu,†kaÂtanya di Jakarta, kemarin.
Warga negara Singapura ini yaÂkin, aktivitas DBS dalam kredit korÂporate komersial dapat menjadi pelengkap bagi Danamon. “Jadi kaÂmi akan fokus ke mass market dan akan melakukan diversiÂfiÂkaÂsi,†ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39