Berita

Benny Mamoto

Wawancara

WAWANCARA

Benny Mamoto: Selama 2012, Sembilan Napi Ditangkap Terkait Narkoba

KAMIS, 19 APRIL 2012 | 08:40 WIB

RMOL. Badan Nasional Narkotika (BNN) tetap melakukan inspeksi mendadak di Lembaga Pemasyarakatan maupun Rumah Tahanan meski Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia membekukan nota kesepahaman.

“Kami merujuk pada apa yang disampaikan Pak Menkumham Amir Syamsuddin bahwa kerja sama terus berjalan. Kalau ada narapidana yang mengendalikan jaringan, kami tetap lakukan si­dak,” kata Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Benny Ma­moto, kepada Rakyat Mer­deka, di Jakarta, Senin (16/4).

Ada MoU atau tidak, lanjutnya, sidak tetap dilakukan dan selalu berkoordinasi dengan Kemen­kum­ham. “Kan MoU tidak bisa mengalahkan Undang-Undang. Di Undang-Undangnya kan su­dah jelas bahwa kami bisa mela­kukan penangkapan di manapun di seluruh wilayah Indonesia,” jelasnya.

Seperti diketahui, Kemenkum­han membekukan MoU dengan BNN karena peristiwa penam­paran sipir saat sidak Wakil Men­kumham Denny Indrayana ber­sama BNN di Lembaga Pemasya­rakatan (Lapas) IIA Pekanbaru.

Benny Mamoto selanjutnya mengatakan, BNN selalu berpi­jak pada UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Tindak Pidana Nar­kotika. Di situ disebutkan, pene­gak hukum diperintahkan mela­kukan langkah-langkah pencega­han dan pemberantasan. Maka­nya BNN tetap menjalankan si­dak di Lapas.

Berikut kutipan selengkapnya:


Menkumham bilang lebih baik BNN menyerahkan data saja ke Kemenkumham, ko­men­tar Anda?

Itu kan teknisnya. Nanti kami akan bicarakan lebih jauh lagi dengan Pak Menteri. Nggak bisa dipukul rata begitu saja. Ini kan operasi. Artinya sebelum kami melakukan sidak, kami sudah mengetahui targetnya siapa.

    

Bagaimana BNN mengetahui ada napi sebagai pengedar nar­koba di Lapas?

Kami ini menangkap dulu para pengedar dan pengguna nar­koba yang di luar Lapas atau Ru­tan, kemudian me­rem­bet ke dalam. Sebab, yang menja­lan­­kan ope­rasi pengedaran nar­­koba di luar La­pas. Me­reka me­ngaku di­suruh dari se­seorang yang berada di da­lam Lapas. Makanya, ka­mi me­nangkap yang di dalam Lapas.

   

Kapan BNN mela­ku­kan perte­muan dengan Men­kum­ham me­ngenai MoU yang di­be­ku­kan itu?

Kami agendakan secepatnya. Kami sedang atur waktunya. Nanti tergantung dari keterse­diaan masing-masing saja. Sebab, masih ada beberapa hal yang harus kami tangani.

   

Berapa banyak kira-kira pe­makai atau pengedar di Lapas?

Kalau pemakai itu akan lebih mudah dideteksi dengan tes urin. Kalau bandar-bandar yang me­ngendalikan dari dalam Lapas ke luar, tentu harus dideteksi dari ha­sil penyelidikan.

Kalau di dalam Lapas, mereka ini lebih banyak pengendali, bu­kan pemakai. Di dalam Lapas inilah yang mengatur semuanya, termasuk distribusi, mengatur keuangan hingga pemasarannya.

   

Kenapa di dalam Lapas bisa mengatur seperti itu?

Karena mereka membawa alat komunikasi. Kalau nggak ada alat komunikasi sangat sulit bagi me­reka mengendalikan di luar.

   

Bukankah membawa alat ko­­munikasi di Lapas dilarang?

Ya. Tetapi nyatanya hasil sidak kami di lapas selama ini mem­buktikan bahwa mereka mem­bawa alat komunikasi. Misalnya saja di Lapas Makassar, kami me­nemukan banyak sekali alat ko­munikasi.

   

Ada oknum petugas Lapas yang terlibat?

Pasti ada keterlibatan oknum. Nggak mungkin ada alat ko­munikasi kalau oknumnya tidak terlibat. Kan nggak mungkin ada alat komunikasi beredar di Lapas jika tidak ada yang terlibat.


Bagaimana jika ada petugas lapas yang terlibat?

Kami juga berhak menindak para petugas-petugas itu.


Selama 2012, berapa napi di­tangkap di Lapas?

Di Lapas Tanjung Gusta Me­dan satu orang. Lapas Pekanbaru empat orang. Lapas Cipinang Jakarta targetnya satu orang ma­lah dapat tiga orang.

Di Lapas Tangerang satu orang. Ini berarti selama empat bu­lan, sembilan napi ditangkap ter­kait narkoba.


Apa ada sasaran berikutnya?

Yang kami incar berikutnya pasti ada. Tapi nggak boleh di­bo­corkan terlebih dahulu, bisa ba­haya nantinya.

     

Apa lebih banyak dari yang su­dah ditangkap itu?

Itu tergantung dari hasil pe­nyelidikan yang kami lakukan. Biasanya setelah ada penang­ka­pan, mereka siaga semuanya.  Sidak yang kami lakukan tidak pernah bocor karena rapih se­kali. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Kejagung Tetapkan 11 Tersangka Korupsi CPO dan POME Rp 13 Triliun, Ini Daftar Namanya

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Kesehatan Jokowi Terus Merosot Akibat Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 11 Februari 2026 | 04:02

Berarti Benar Rakyat Indonesia Mudah Ditipu

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:34

Prabowo-Sjafrie Sjamsoeddin Diterima Partai dan Kelompok Oposisi

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:06

Macet dan Banjir Tak Mungkin Dituntaskan Pramono-Rano Satu Tahun

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:00

Board of Peace Berpotensi Ancam Perlindungan HAM

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:36

Dubes Djauhari Oratmangun Resmikan Gerai ke-30.000 Luckin Coffee

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:19

Efisiensi Energi Jadi Fokus Transformasi Operasi Tambang di PPA

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:14

Jagokan Prabowo di 2029, Saiful Huda: Politisi cuma Sibuk Cari Muka

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:18

LMK Tegas Kawal RDF Plant Rorotan untuk Jakarta Bersih

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:06

Partai-partai Tak Selera Dukung Prabowo-Gibran Dua Periode

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:00

Selengkapnya