Berita

Mohammad Nuh

Bisnis

Menteri Nuh Malah Izinkan Pungutan Di Ujian Nasional

Keterlaluan, Anggaran Rp 600 Miliar Masih Dianggap Kurang
SELASA, 17 APRIL 2012 | 08:41 WIB

RMOL. Anggaran ujian nasional (UN) 2012 senilai Rp 600 miliar dinilai cukup besar sehingga pungutan liar (pungli) seharusnya bisa dihilangkan. Namun, di lapangan ternyata masih ditemukan beberapa pungli yang meng­atas­na­ma­kan sumbangan di beberapa sekolah.

Ada banyak laporan dari masya­rakat yang mengeluhkan pungut­an tambahan biaya ujian yang ha­rus dibayarkan siswa ke se­ko­lah. “Masyarakat mengeluhkan pu­ngut­an ini,” kata Anggota Ko­misi X DPR Ahmad Zainuddin kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Dalam rapat kerja antara DPR dan Kementerian Pendidikan dan Ke­budayaan (Kemendikbud), Zai­­nud­din mengem­u­k­a­kan ang­garan UN siswa SD hingga SMA/sedera­jat pada ta­hun ini ditetap­kan Rp 50 ribu lebih tiap siswa.

Menurut dia, jika ada ke­ku­rang­­­­an bisa di­tutupi dari dana Ban­tuan Ope­ra­sio­nal Sekolah (BOS). Dalam BOS, salah satu komponen bia­ya­nya dialokasikan untuk biaya ujian siswa. Di­tam­bah lagi, pe­me­­rintah daerah (Pem­da) juga sudah meng­alo­ka­si­kan dana APBD un­tuk pe­lak­sa­na­an UN.

Apalagi, anggaran UN tahun ini jumlahnya lebih be­sar Rp 50 miliar dibanding ang­garan UN tahun lalu. Untuk itu, pihaknya  mendesak Pemda segera men­cairkan dana BOS ke rekening sekolah.

Menurutnya, tidak ada alasan bagi Pemda untuk menunda pen­cair­an dana BOS tersebut ke re­ke­ning sekolah mengingat pen­ting­nya dana tersebut untuk me­menuhi bia­ya operasional setiap sekolah seperti UN dan ulangan, serta pembayaran honorarium bulanan guru.

Politisi PKS ini meminta Ke­men­dikbud menertibkan pungut­an di sekolah. “Pe­merintah harus mem­beri sank­si yang tegas jika ter­bukti masih ada sekolah me­mungut biaya UN di luar keten­tuan yang ada,” tegasnya.

Dia pun berharap,  masalah pu­ng­utan tambahan tidak mem­pe­nga­ruhi hasil ujian siswa. Dia me­nyayangkan adanya indikasi be­berapa siswa yang diancam tidak dapat mengi­kuti ujian bila tidak mampu mem­bayar biaya UN tambahan yang dipungut sekolah.

Menanggapi hal ini, pengamat pendidikan Dhar­ma­ningtyas menekankan, sekolah tidak boleh meminta pungutan dari pe­serta ujian. Menurut dia, sekolah pasti sudah punya dana sendiri untuk pelaksanaan UN.

Apalagi untuk UN, pemerintah juga sudah punya anggaran sen­diri. “Tidak benar kalau siswa ha­rus mengeluarkan biaya tam­bah­an,” ucapnya kepada Rakyat Mer­deka di Jakarta, kemarin.

Kalau pun ada sekolah yang me­minta pungutan kepada sis­wa­nya dalam pelaksanaan UN, hal tersebut bisa saja kalau sekolah sulit mencari dana talangan selagi dana BOS belum disalurkan.

Mungkin saja kalau sekolah men­cari jalan cepat dalam mem­per­oleh dana tambahan dengan me­minta pungutan ke siswa. “Un­tuk UN sen­diri kan sudah terjadwal. Pasti, ang­garan untuk ini pun sudah ada. Se­harusnya memang tidak ada alasan apa­pun,” jelas Dharmaningtyas.

Menanggapi hal tersebut, Men­teri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh me­ngatakan, anggaran Rp 600 miliar untuk UN sendiri meru­pa­kan dana yang sudah optimal dan minim.

Untuk itu, jika ada dana lain ya­ng dipungut oleh sekolah ma­sih dibolehkan. Dengan catatan, ada kesepakatan antara sekolah dan orang tua peserta UN.

“Kita sudah menghitung, ang­ka Rp 600 miliar itu memang besar. Tapi, jika kita kalikan atau bagikan dengan jumlah peserta yang begitu besar, saya kira ang­ka tersebut sudah sangat minim, bahkan pas-pasan,” ungkap Nuh saat meng­gelar konferensi pers jelang UN di gedung Kemendik­bud Jakarta, Kamis, (12/4).  [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya