ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat menyindir pemerintah yang lamÂban membangun infrastruktur. MeÂnurut dia, kondisi tersebut meÂnyebabkan biaya logistik tinggi.
“Minimnya pembangunan inÂfratruktur menyebabkan biaya logistik menjadi tinggi. Ujung-ujungnya kita kalah bersaing dari produk impor,†kata Ade.
Ia mencontohkan masih miÂnimnya infrastruktur pelabuhan. Pelabuhan Tanjung Priok sudah tidak mampu lalu menampung lagi kapal-kapal besar.
“Sekarang kapal tidak bisa langsung masuk karena harus antre. Ini yang membuat lama dan biaya itu bebankan ke peÂnguÂsaha,†tegasnya.
Karena itu, Ade berharap progÂram Masterplan Percepatan PerÂluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) bisa memÂpercepat pembangunan infraÂstruktur. Dia juga meminta angÂkutan logistik tidak hanya diÂfokuskan pada angkutan jalan.
Menurut Ade, yang harus dilaÂkukan adalah mengembangkan infrastruktur kereta api karena leÂbih cepat dan bebas macet. “Jika itu bisa dikembangkan biaya loÂgistik bisa ditekan,†cetusnya.
Pemerintah memang menarÂgetkan biaya logistik turun tiga perÂsen menjadi 24 persen dari ProÂduk Domestik Bruto (PDB) di 2015 dari semula 27 persen.
“Kita ingin melakukan efiÂsiensi biaya logistik sekaligus peÂngawasannya. Yang kita target meÂnurunkan biaya logistik 3 perÂsen terhadap PDB pada 2012,â€ungkap Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawady.
Edy menjelaskan, negara seÂkelas Amerika serikat (AS) meÂmiliki biaya logisitk hanya semÂbilan persen dari PDB-nya.
Namun begitu, dengan adanya rencana pengurangan biaya loÂgistik tersebut, dia tidak menÂjamin akan ada penghematan siginifikan dalam biaya logistik tersebut dikarenakan target pÂeÂnurunannya hanya 3 persen.
“Biaya logistik dibanding PDB sekarang posisi kita 27 persen, lalu AS 9 persen, kita mau meÂnguÂrangi sampai 3 persen tapi kita nggak terlalu mau ambisi, negara pusing,†jelasnya.
Selain itu, yang terpenting adalah memperkuat perekoÂnoÂmian domestik agar pendisÂtriÂbusian ke segala daerah berjalan dengan lancar.
“Yang paling penting kita ingin memperkuat integrasi ekonomi domestik. Desa yang terisolasi kita buka, salah satunya. Tahun ini kita akan bangun pusat disÂtriÂbusi pasar. Tapi paling tidak pada tahun ini ada 2 pusat distribusi dan pembaÂngunan pasar-pasar baru, revitaÂliÂsasi pasar, pasar desa, pasar traÂdiÂsiÂonal, untuk mengurangi dispaÂriÂtas biaya transaksi,†tuturnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39