ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Air susu ibu (ASI) sangat diperlukan pada awal pertumbuhan bayi. Namun, apa jadinya kalau bayi kurang minum ASI? Bayi bisa mengalami alergi karena mengkonsumsi susu sapi sebelum berusia enam bulan.
Orangtua seharusnya meÂwasÂpadai jika bayinya mengaÂlami alergi dan tetap memberikan ASI. Protein pada susu sapi ternyata tidak dapat diterima baik oleh beberapa anak sehingga memicu timbulnya alergi.
Namun, karena terbatasnya produksi ASI, seorang ibu terÂpaksa memberikan susu formula ke bayinya. Padahal, sebagian besar bahan susu formula tersebut berasal dari protein susu sapi.
Dokter Spesialis Anak dan KonÂsultan Alergi Imunologi dari RSCM Dr. dr. Zakiudin Munasir, SpA(K) mengatakan, faktor peÂnyebab alergi sebenarnya bukan hanya disebabkan susu sapi.
“Faktor genetika atau keturunÂan, masalah imunitas dan faktor lingkungan juga turut memÂpeÂngaruÂhinya,†ucap dr Zakiudin daÂlam diskusi media di Jakarta, bebeÂrapa waktu lalu.
Dia mengungkapkan, bayi yang berusia kurang dari 12 bulan leÂbih rentan menderita alergi susu. Hal ini disebabkan sistem salurÂan pencernaan bayi masih belum semÂpurna. Faktor ketuÂruÂnan dari orangÂtua yang mengaÂlami alergi bisa mencapai 50 persen, Namun dia menginÂgatÂkan, jenis alergi yang dialami anak belum tentu sama dengan orangtuanya.
Misalnya, seorang ayah menÂderita arlegi debu, bisa jadi anak justru alergi terhadap seaÂfood atau makanan laut. SeÂkaÂliÂpun beÂgitu, risiko alergi pada bayi seÂbeÂnarnya bisa ditekan. Salah satuÂnya dengan memberikan ASI eksÂklusif dan ibu berpantang maÂkaÂnan tertentu.
Selain itu, imunisasi yang dibeÂrikan bayi juga dapat mengurangi risiko infeksi pada bayi. Jika bayi mendapat imunisasi, kekeÂbalan tubuhnya terhadap kuman seÂmakin tinggi.
Gejala alergi ini memunculkan berbagai reaksi. Seperti kulit gatal kemudian memeÂrah. Selain itu juga reaksi di saluran cerna, mulai dari muntah dan diare. Gejala alerÂgi pun tidak langsung terlihat, buÂtuh waktu setengah hingga dua jam setelah anak meminum susu sapi.
Sementara gejala yang sering diÂabaikan para orangtua adalah seÂring menyepelekan batuk dan piÂlek, karena diangap hal yang biasa, justru harus waspada jika bayi mengalami batuk dan pilek yang berkepanjangan. Gejala batuk pilek bisa jadi salah satu tanda bayi mengalami alergi susu sapi.
“Dari beberapa kasus yang terjadi, batuk pilek merupakan gejala yang sering diabaikan. SeÂbab, kebanyakan orang mengÂangÂgap batuk dan pilek adalah hal biasa, bukan gejala alergi,†jelas dr Zakiudin.
Pada alergi berat atau akut, bayi bisa mengalami nyeri perut yang disertai kejang-kejang peÂrut, biasanya terjadi satu hingÂga tiga jam setelah meminum susu. Gejala berikutnya adalah bayi meÂngeluarkan tinja yang berÂcamÂpur darah.
Dikatakan, alergi susu sapi ini biasanya akan menghilang seÂbeÂlum anak berÂusia tiga tahun, meski ada juga yang menetap sampai anak berÂanjak remaja. Anak yang menÂdeÂrita alergi susu sapi, baik itu yang derajat ringan atau sedang, sebaiÂkÂnya menghindari produk makanan yang berbahan susu agar alerginya tidak menjadi berat. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39