ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Pemerintah seharusnya memÂÂbentuk tim lacak bala dan tim verifikasi untuk memastikan asal-usul timah dan mengontrol kualitas timah yang diekspor. Hal itu diutarakan Anggota Komisi XI dari Fraksi PDIP Arif BuÂdiÂmanta di Jakarta. Usulan ini terÂkait adanya ekspor timah berÂkadar rendah oleh sejumlah smelÂter (perusahaan peleburan) ke beberapa negara, seÂperti MaÂlaysia dan Singapura.
Pasalnya, negara tujuan ekspor tersebut kemudian mengolah dan menjualnya kembali mengÂguÂnakan brand (merk dagang) yang dimiliki oleh kedua negara terÂsebut.
“Tim lacak bala diperlukan karena para pengusaha smelter di Bangka Belitung masih bisa mengekspor produk timah berÂkadar rendah, meski Permendag No 4 Tahun 2007 teÂlah meÂnyeÂbutkan kadar miÂniÂmal logam ekspor adalah 99,85 perÂsen SN,†ujar Arif.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bangka Belitung (Babel) Teguh Pramono menyebutkan, secara keseluruhan ekspor timah Bangka Belitung mengalami keÂnaikan sebesar 17,6 persen. SaÂyangÂnya, tidak semua timah yang diekspor tersebut meruÂpakan timah yang telah memiliki brand. Sehingga, ada keÂmungkinan potensi penÂdapatan yang hilang mengingat harga tiÂmah yang diekspor deÂngan brand dihargai lebih maÂhal di pasaran.
Saat ini Indonesia sudah meÂmiliki tiga brand untuk produk timah, seperti Banka dan Kundur milik PT Timah (Persero) Tbk dan Koba milik PT Koba Tin. Ketiga brand inilah yang ditaÂwarÂkan kepada konsumen melalui pasar timah Indonesia.
Teguh juga menjelaskan, Singapura masih menjadi tujuan utama ekspor timah dari Babel yang nilainya mencapai 1.445,2 juta dolar AS (76,07 perÂsen), diikuti Malaysia 159,2 juta dolar AS (8,4 persen), lalu Belanda 144,4 juta dolar AS (7,6 persen), dan TaiÂwan 77,6 juta dolar AS (4,1 perÂsen), serta Jepang 73,5 juta dolar AS (3,8 persen).
Data BPS tersebut semakin meÂnguatkan kecurigaan Ketua MaÂsyarakat Pertambangan IndoÂneÂsia (MPI) Herman Afif, yang meÂnuding Malaysia dan SingaÂpura menjadi dalang di balik peÂnolakan smelter di Bangka BeÂlitung untuk menjual produkÂnya melalui Pasar Timah Indonesia.
Padahal pasar tersebut sejatiÂnya merupakan upaya agar InÂdoÂnesia sebagai salah satu penghasil timah terbesar di dunia bisa menÂjadi penentu harga timah dunia.
Bagi Indonesia, menjadi peÂnenÂtu harga timah dunia, selain saÂngat mungkin, juga sangat penÂting. Terutama ketika harga tiÂmah dunia anjlok yang membuat seluruh pengusaha timah di BangÂka Belitung merasa perlu meÂÂngambil sejumlah langkah. Mulai dari melakukan moraÂtoÂrium hingga membentuk Pasar TiÂÂmah Indonesia. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39