Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas)
Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas)
RMOL.90 pejabat Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) diberikan fasilitas kartu kredit khusus untuk mentraktir rekan bisnis dan perusahaan minyak.
“Kita para pejabat BP Migas diberi kartu kredit khusus yang digunakan untuk membangun society, seperti mentraktir rekan bisnis atau perusahaan minyak dan itu wajib digunakan. Kalau tidak digunakan artinya si pejabat tidak membangun society mereka deÂngan baik,†kata Kepala BP Migas R Priyono di kantornya, kemarin.
Para petinggi BP Migas yang menÂdapatkan kartu kredit tersebut dianggap mempunyai weweÂnang dalam pengambilan kepuÂtusan. Artinya dari pimpinan hingÂga kepala dinas atau general manager.
Namun, kata Priyono, pengÂgunaan kartu tersebut harus dengan nilai kewajaran, dan itu penggunaannya terus diaudit. Jangan sampai digunakan di luar kepentingan pekerjaan.
“Contoh pernah kita temukan digunakan untuk beli gelang. Loh, ini kan tidak ada huÂbuÂnganÂnya, maka kita minta itu dikemÂbalikan,†tegas Priyono.
Dia menambahkan, pemberian kartu kredit ini juga berhubungan dengan kebijakan bahwa pejabat BP Migas tidak boleh ditraktir oleh mitra kerja, khususnya perusahaan minyak.
“Kalau kita yang traktir boleh. Ini berlaku juga untuk perjalanan dinas, semua biaya ditanggung oleh BP Migas sendiri, tidak boleh dibayarin perusahaan miÂgas,†ungkapnya.
Dia menyebut, aturan tersebut sudah berlaku sejak 2009 dan ada sanksi apabila aturan tersebut diÂlanggar oleh pegawai BP Migas.
“Apabila ketahuan, kalau suÂdah tiga kali kita tegur masih bandel akan kita rotasi jabatannya. Memang 1-2 orang pejabat masih keÂdapatan ditraktir saat aturan itu baru berÂjalan, tapi sejak dua tahun terÂakhir sudah tidak diteÂmukan lagi,†tandas Priyono
Pengamat perminyakan KurÂtubi menyayangkan, pemberian fasiÂlitas mewah kepada pejabat BP Migas, karena tidak sebanÂding dengan kinerjanya dalam meÂningÂkatkan produksi minyak nasional.
“Pemberian fasilitas kartu kredit itu pemborosan anggaran,†ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Apalagi, kata dia, saat ini produksi minyak nasional terus turun, sementara biaya cost recovery-nya terus meningkat setiap tahun. Kurtubi meneÂgaskan, keberadaan BP Migas juga sejak awal memang memÂbebani anggaran negara.
Menurutnya, saat ini pegawai BP Migas mencapai 700 orang. Padahal saat Pertamina yang mengelola perusahaan migas asing, perusahaan pelat merah itu hanya butuh 40 orang. Karena itu pemerintah harus mengkaji kebeÂraÂdaan BP Migas yang hingga saat ini tidak optimal dalam peÂnerimaan negara. “Sebaiknya peÂngelolaan migas itu dikembalikan ke Pertamina,†ujarnya.
Saat dikelola Pertamina, peneÂriÂmaan negara dari sektor migas menÂcapai 80 persen dari total peÂneriÂmaan negara. Selain itu, biaya cost recovery juga bisa dikelola efisien.
Hal berbeda disampaikan angÂgota Komisi VII DPR Iqbal Alan Abdullah. Menurutnya, pemÂberian kartu kredit khusus untuk pejabat BP Migas untuk menÂtraktir rekan bisnis adalah hal yang wajar, apalagi untuk meÂnarik investasi masuk.
“Apalagi aturan BP Migas sendiri pejabatnya tidak boleh menerima traktiran perusahaan minyak. Jadi itu wajar,†katanya.
Namun, yang harus ditingÂkatkan adalah pengawasan pengÂgunaan kartu kredit itu agar tidak disalahgunakan untuk kepenÂtingan pribadi dan di luar tujuan.
“Kalau ada pejabat yang meÂmanfaatkan kartu itu untuk keÂpenÂtingan pribadi, pejabat itu harus mengganti,†tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39