Berita

rizal ramli/ist

Rizal Ramli: Saatnya Tritura Jilid Dua!

Setgab Tidak Beradab, Tak Ubahnya Kerja Sama Para Pendusta
SELASA, 10 APRIL 2012 | 18:42 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Koalisi Parpol yang tergabung dalam Sekretariat Gabungan (Setgab) adalah koalisi tidak beradab dan sama sekali tidak membawa manfaat bagi rakyat. Bahkan koalisi tersebut tidak ubahnya dengan kerja sama para pendusta yang menyengsarakan rakyat. Untuk itu sudah saatnya digulirkan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) jilid dua, yaitu turunkan harga, turunkan SBY, dan hapus UU yang merugikan rakyat.

Demikian mengemuka dalam diskusi bertajuk “Koalisi atau Konspirasi?” yang  diselenggarakan Rumah Perubahan 2.0, Selasa (10/4). Hadir sebagai pembicara adalah pengamat politik dari LIPI Siti Zuhro,  pakar hukum tata negara Margarito Kamis, dan budayawan Ridwan Saidi.

Istilah “Tritura Jilid Dua” pertama kali disampaikan tokoh perubahan nasional Rizal Ramli. Ketua Aliansi Perubahan untuk Rakyat (ARUP) yang siang itu ikut hadir dalam diskusi, didaulat untuk memberikan pendapatnya seputar koalisi parpol. Rizal Ramli yang mantan Menko Perekonomian tersebut hanya sedikit menyinggung soal koalisi. Dia justru menggulirkan perlunya Tritura Jilid Dua untuk segera mengakhiri penderitaan rakyat yang berkepanjangan.


Dia mengatakan, beban hidup rakyat sekarang sudah amat berat. Yang lebih memprihatinkan lagi, banyak sekali UU yang menyengsarakan rakyat karena draft-nya disusun oleh asing. Contoh paling nyata adalah UU Migas. Saat RUU ini diajukan pertama kali ke DPR, sebagai penasehat ekonomi DPR, ECONIT memberi masukan bahayanya RUU tersebut bagi bangsa dan rakyat Indonesia. Akhirnya,  RUU migas tersebut tidak gol.

“Tapi ketika kita semua masih sibuk dengan transisi ketika Gus Dur  dijatuhkan, RUU ini kembali diajukan. Hanya dalam tempo kurang dari 2 bulan, RUU migas gol dan disahkan menjadi UU. Sesaat setelah itu Kedubes AS di Jakarta membuat laporan ke Washington, bahwa mereka sukses mendorong disahkannya UU Migas,” ungkap Rizal Ramli.
 
Pemimpin Perubahan

Menurut Margarito, harga bahan bakar minyak (BBM) memang tidak jadi naik. Meski demikian, harga berbagai kebutuhan rakyat sudah telanjur naik dan tidak akan turun lagi. Akibatnya, beban hidup rakyat menjadi semakin berat. Dalam konteks Tritura jilid dua, tuntutan menurunkan harga adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

“Kita tahu persis, naiknya harga-harga membuat rakyat jadi semakin menderita.  Itulah sebabnya turunkan harga menjadi tuntutan yang pertama. Jangan pernah berharap Koalisi Parpol akan menjadi solusi. Selain tidak ada dalam Konstitusi, pada praktiknya Setgab telah menjadi tidak beradab,” ujar Margarito.

Ridwan malah berpendapat di tahun 1950an, Setgab yang sekarang disebut dengan Monster Verbond alias "kerja sama para setan." Parpol berkumpul hanya untuk kepentingan kelompoknya, baik secara ekonomi maupun kekuasaan.

Sehubungan dengan itu, dia sependapat perlunya Tritura Jilid Dua. Namun Ridwan mengusulkan agar urutan tuntutan diubah, yaitu Turunkan SBY menjadi yang pertama. Alasannya, selama tujuh tahun berkuasa, SBY terbukti tidak bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dia malah sibuk melayani kepentingan para majikan asingnya.

“Kita perlu perubahan agar rakyat hidup lebih baik. Untuk itu kita butuh pemimpin yang kuat dan berpihak kepada rakyat. SBY sama sekali tidak bisa diharapkan. Menurut saya, biarkan Rizal Ramli menjadi pemimpin perubahan buat kita semua. Kalau saya, karena sudah berumur, cukup bantu-bantu saja,” tukas Ridwan.

Sedangkan Zuhro mengingatkan agar Tritura Jilid Dua tidak kembali mengulang kesalahan pergantian kekuasaan yang terjadi sebelumnya, baik dari Orde Lama ke Orde Baru maupun dari Orde Baru ke Orde Reformasi. Pada zaman Soeharto, misalnya, saat itu yang terpikir hanyalah bagaimana menggulingkan dia. Mahasiswa dan aktivis tidak mempersiapkan sistem dan pemimpin penggantinya. Akibatnya, Indonesia tidak kunjung menjadi lebih baik pasca reformasi.

“Tapi tema perubahan yang diusung pak Rizal Ramli adalah bagian dari demokrasi yang diharapkan rakyat menuju kehidupan yang lebih baik. Saya percaya, beliau sudah menyiapkan sistem pengganti, sehingga gerakan perubahan kali ini tidak asal mengganti presiden,” kata Zuhro.[dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Siswa Sekolah Rakyat akan Dilatih 1.000 Taruna Akmil

Minggu, 05 Juli 2026 | 18:21

Jokowi Pilih Lampung sebagai Awal Safari karena Tanah Tak Bertuan

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:41

OTT Bupati Langkat Temukan 55 Keping Platinum Senilai Rp40 Miliar Lebih

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:16

Hampir 3.000 Orang Tewas, Venezuela Mulai Hentikan Operasi Pencarian Korban Gempa

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:07

Komedian Narji Bikin Khitanan Massal PSI Diserbu Anak-Anak

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:52

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Absen di Pemakaman Ayahnya

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:26

Sudah Ada Perpres, Pakar: Promosi LGBT di Medsos Bisa Berujung Pengadilan

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:13

PM Singapura Dijadwalkan Bertemu Presiden Prabowo Besok

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:08

Pemerintah Perkuat Literasi Siber Antisipasi Ancaman AI dan Hoaks

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:01

Daftar Lengkap 16 Negara yang Lolos ke Babak 16 Besar

Minggu, 05 Juli 2026 | 15:55

Selengkapnya