Berita

Jusuf Kalla

Wawancara

WAWANCARA

Jusuf Kalla: Mau Capreskan Ical, Terserah Tapi Ukur Keinginan Rakyat...

SELASA, 10 APRIL 2012 | 09:20 WIB

RMOL. Bekas Wakil Presiden Jusuf Kalla tidak ambil pusing bila Partai Golkar menggelar Rapimnassus untuk menetapkan Aburizal Bakrie (Ical) menjadi calon presiden 2014.

“Kalau mau menetapkan Aburizal Bakrie (Ical) menjadi calon presiden 2014.  Ya terserah pengurus Partai Golkar saja. Tapi  yang saya pahami penentuan ca­pres dari Partai Golkar itu ber­dasarkan hasil survei. Perta­nyaan­nya apakah penetapan itu sudah berdasarkan survei,” kata Jusuf Kalla kepada Rakyat Mer­deka, di Jakarta,  kemarin.

Menurut bekas Ketua Umum Partai Golkar itu, bila penetapan capres itu tidak berdasarkan sur­vei, berarti melanggar putusan Rapimnas Partai Golkar yang di­laksanakan tahun lalu.

“Apalagi,’Partai Golkar itu selalu mengusung jargon suara Golkar adalah suara rakyat,’’ ujarnya.

Berikut kutipan selengkapnya:


Dengan Rapimnasus itu pe­luang Anda menjadi capres dari Partai Golkar ditutup, apa ke­cewa?

Nggaklah. Saya tidak ambil pusing soal itu. Terserah pengu­rus Partai Golkar saja. Itu urusan internal Partai Golkar. Saya tidak mau ikut campur.


Kalau tidak ke­cewa, ke­napa Anda me­­nying­gung jargon Par­tai Golkar?

Jargon itu kan sudah disam­paikan kepada pu­blik. Seharus­nya dipatuhi. Kalau sesuai jargon itu, tentunya capres yang diusung Golkar harus sesuai dengan ke­inginan rakyat. Untuk mengeta­hui apakah rakyat menginginkan atau tidak, diperlukan survei.

    

Apakah penilaian berdasar­kan survei bisa efektif?

Survei itu kan berdasarkan hati rakyat, keinginan rakyat. Meski survei tidak 100 persen benar, paling tidak dengan survei ini kita akan tahu apa dan siapa yang diinginkan rakyat.

   

Bukankah survei sudah di­la­ku­kan?

Saya tidak tahu dan saya tidak mau mencampurinya. Sebab, saya ini kan bukan pengurus Partai Golkar lagi. Saya rasa, pe­ngurus  yang mengetahui hal itu.

   

Petinggi Partai Golkar tidak pernah membicarakan hal itu kepada Anda?

Nggak. Ada omongan seperti itu dari pengurus Golkar. Saya tidak ingin mempengaruhi itu.


Bagaimana dengan parpol lain, seperti Nasdem dan PPP yang melirik Anda menjadi ca­pres 2014?

Saya berterima kasih banyak kepada semua yang mendukung saya. Pokoknya, kita lihat per­kem­bangannya saja nanti. Karena pemilu kan masih lama, sekitar dua tahun lagi. Kita tunggu saja.

   

Anda siap bersaing dengan Aburizal Bakrie bila Anda di­jagokan parpol lain?

Kita cermati dulu saja. Kita harus mengukur keinginan ma­syarakat berdasarkan survei. Memang saya akui, akhir-akhir ini hasil dari survei cukup banyak yang mendukung saya. Saya ber­terima kasih banyak. Kita lihat saja perkembangannya.

   

O ya, Taufik Kiemas menilai yang sudah tua, termasuk Anda menjadi king maker saja, tangga­pannya?

Saya sangat menghargai omo­ngan beliau. Justru berdasarkan konstitusi memang ada pemba­tasan usia minimum, tidak ada pembatasan usia maksimum. Menurut saya, tidak masalah bila capres sudah tua.

Secara formal dalam UUD 1945 mengenai pemilihan presi­den hanya disebutkan minimum usia 35 tahun. Berapa pun usia­nya kalau di atas 35 tahun, boleh-boleh saja, asal masih sehat.

Syarat paling utama itu ke­mam­­puan sebagai presiden, bu­kanlah mengenai usia. Banyak yang muda tapi kurang mampu. Banyak yang tua kurang mampu juga. Presiden hanya satu, se­hingga jangan dicoba-coba.

     

Maksudnya?

Kalau menteri itu salah atau keliru bisa diganti. Sedangkan kalau presiden itu salah pilih, maka selama lima tahun menjadi masalah. Maka dibutuhkan yang betul-betul mampu memimpin dan berkualitas. Negara kita ini masih banyak masalah.

      

Anda siap menyelesaikan masalah-masalah itu?

Dibutuhkan kemampuan pre­siden untuk menyelesaikan masa­lah itu. Makanya Calon presiden itu sebaiknya dilihat track re­cord-nya. Bukan hanya janji-janji saja. Tapi tidak dilaksanakan.

Semua orang bisa membuat janji. Seribu janji pun bisa. Tapi bagaimana melaksanakannya. Makanya kemampuan presiden  yang paling utama untuk me­nyelesaikan banyak masalah tersebut.


Pandangan Anda terkait de­ngan capres dari masing-ma­sing parpol?

Peluang untuk menjadi capres 2014, saya rasa harus menunggu hasil pemilu legislatif dulu. Saya melihat, masing-masing parpol sudah mempersiapkan jagoan­nya. Dan itu sah-sah saja. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Eks Relawan: Jokowi Manusia Nggedabrus

Minggu, 01 Februari 2026 | 03:33

UPDATE

Kesehatan Jokowi Terus Merosot Akibat Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 11 Februari 2026 | 04:02

Berarti Benar Rakyat Indonesia Mudah Ditipu

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:34

Prabowo-Sjafrie Sjamsoeddin Diterima Partai dan Kelompok Oposisi

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:06

Macet dan Banjir Tak Mungkin Dituntaskan Pramono-Rano Satu Tahun

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:00

Board of Peace Berpotensi Ancam Perlindungan HAM

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:36

Dubes Djauhari Oratmangun Resmikan Gerai ke-30.000 Luckin Coffee

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:19

Efisiensi Energi Jadi Fokus Transformasi Operasi Tambang di PPA

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:14

Jagokan Prabowo di 2029, Saiful Huda: Politisi cuma Sibuk Cari Muka

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:18

LMK Tegas Kawal RDF Plant Rorotan untuk Jakarta Bersih

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:06

Partai-partai Tak Selera Dukung Prabowo-Gibran Dua Periode

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:00

Selengkapnya