Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Jalan Utama di Jakarta Bakal Bebas Pasokan BBM Subsidi?

Migrasi Muncul Karena Tidak Ada Ketegasan
MINGGU, 08 APRIL 2012 | 08:48 WIB

RMOL.Pemilik mobil mewah makin gila mengkonsumsi BBM subsidi ketika harga pertamax melonjak dari Rp 9.950 menjadi Rp 10.200 per liter. Yayasan Lembaga Kon­sumen Indonesia (YLKI) men­duga, akan ada migrasi besar-be­saran dari konsumsi bensin non subsidi (pertamax) kepada ben­sin bersubsidi (premium).

Pasalnya, kata Ketua YLKI Suryadatmo, kerenggangan harga meninggi pasca kenaikan perta­max senilai Rp 10.200 per liter.

“Dulu perta­max naik, orang migrasi. Apalagi tidak ada aturan kalau premium hanya boleh diisi oleh orang yang layak  disub­sidi,” ungkap Suryadatmo di Ja­karta, kemarin.

Umumnya, kata Suryadatmo, karakter konsumen bensin Indo­nesia sangat sensitif dengan harga sehingga warga akan beralih meski memiliki kendaraan me­wah yang sebenarnya lebih co­cok dengan pertamax.

Menurutnya, hal itu ter­jadi aki­bat tidak adanya kebera­nian pe­merintah untuk mengatur pela­rangan penggunaan premium oleh kendaraan beroktan tinggi.

“Dampaknya penggunaan pre­mium menjadi salah sasaran. Pa­salnya, warga dengan kemam­puan keuangan tinggi yang mam­pu membeli ken­daraan mewah turut menikmati subsidi premi­um,” katanya.

Anggota Komite Badan Pe­ngatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) Qoyum Tjandra­ne­gara mengatakan, adanya ke­nyataan BBM bersubsidi ‘dimi­num’ mobil mewah sejenis Al­phard, Jaguar, BMW dan se­ba­gainya, pemerintah akan me­nia­dakan premium di SPBU di jalan-jalan yang dianggap sering di­lewati kalangan kelas atas.

“Kami akan sempurnakan aturan se­belumnya, akan kami buat aturan sebaik mungkin. Pembatasan ha­rus dilakukan. Bayangkan BBM bersubsidi ha­nya dinikmati masyarakat yang berhak kurang dari 10 persen,” te­gas Qoyum kepada Rakyat Merdeka, Rabu (4/4).

Qoyum mencontohkan Ja­karta, jalan-jalan yang biasa di­lewati kalangan menengah atas dengan mobil-mobil mewahnya yang sangat tidak pantas dan tidak ber­hak mengkonsumsi pre­mium atau BBM bersubsidi. “Seperti jalan di Kuningan, Gatot Subroto, Thamrin, Senayan dan lainnya yang sering dilewati mobil-mobil kelas menengah atas,” jelasnya.

“Pakai RFID (Radio Frequen­cy Identification), smartcard dan lainnya agar mobil kelas atas ti­dak bisa pakai pre­mium memang butuh waktu, minimal 1-2 ta­hun. Tetapi untuk langkah ce­patnya, kami akan ko­songkan premium di jalan-jalan yang se­ring dile­wati kalangan mene­ngah atas,” ujarnya.

Vice President Corporate Co­mmunication Pertamina M Harun menyatakan, Pertamina meng­imbau pengguna mobil me­wah untuk tidak beralih ke pre­mium meski harga pertamax saat ini terbilang tinggi. Menu­rut­nya, dalam kondisi itu, Pertamina tak bisa berbuat banyak, sebab pi­hak­nya hanya bisa mengimbau, tidak kuasa melarang.

“Pertamina tidak bisa memak­sa konsumen untuk tetap meng­konsumsi pertamax. Perta­mina hanya memberikan im­bauan dan menyampaikan etika bahwa peng­guna mobil mewah dan se­jenisnya untuk tetap meng­guna­kan pertamax,” ungkapnya.

Anggota DPR dari Fraksi Gol­kar Bambang Soesatyo usul, jika ada mobil me­wah yang ketahuan mengisi ben­sin premium, harus­nya dipermalukan agar kapok. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya