Berita

keluarga berencana (KB)

Bisnis

Duh, Pria Takut Ikut KB Vasektomi Bukan Dikebiri Lho...

MINGGU, 08 APRIL 2012 | 08:34 WIB

RMOL.Umumnya, pria Indonesia masih enggan ikut keluarga berencana (KB) dengan berbagai alasan. Hingga kini, cuma ada 1,2 persen pria yang ikut KB pakai kondom dan 0,3 persen yang menggunakan vasektomi.

Yang menjadi masalah saat ini adalah masyarakat masih meng­anggap bahwa program KB itu adalah kewajiban istri atau wa­nita. Padahal, wanita juga me­mi­liki hak reproduksi dan ke­se­ta­ra­an gender yang sama dengan pria.

Data BKKBN menunjukkan, lebih dari 60 persen pasangan usia subur sudah mengikuti program KB, tapi hanya 1,5 persen pria yang ikut ber-KB.

Kendala kontrasepsi pada pria salah satunya adalah faktor  ke­tersediaan pilihan yang terbatas, baru ada kondom dan vasektomi.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Sugiri Syarief menge­mukakan, alat kontrasepsi yang tersedia untuk pria saat ini adalah kon­dom dan vasektomi (KB steril pria). Untuk pil KB pria, ka­tanya, masih dalam tahap pe­ngujian klinis fase kedua.

Selain kendala tersebut, lan­jut­nya, pria takut ikut KB karena pu­nya anggapan yang salah. “Takut tidak bisa ‘berdiri’ atau kalau pa­kai kondom katanya tidak enak,” kata Sugiri di Jakarta.

Terkait  minimnya jumlah  pria yang ikut vasektomi, Ketua Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia Prof Dr Biran Affandi, SpOG menjelaskan bahwa va­sektomi atau sterilisasi pada pria adalah salah satu metode kon­trasepsi yang aman dan tidak ada efek sampingnya.

“Metode ini sangat ampuh, efisien, dan tidak berbahaya. Tak berpengaruh terhadap kemam­puan maupun kepuasan seksual suami-isteri,” kata Biran yang juga perwakilan Asia Pasific Council of Con­traception.

Biran juga menyampaikan cara KB permanen untuk pria ini dapat dilakukan bagi pria yang sudah tidak ingin punya anak lagi, yaitu memotong saluran sperma yang menghubungkan buah zakar dengan kantong sperma, se­hingga tidak dijumpai lagi bibit dalam ejakulat seorang pria.

“Tapi bukan dikebiri lho, ke­ba­nyakan pria menganggap va­sek­tomi adalah dikebiri,” ujar Biran.

Menurut dia, operasinya aman dan mudah, hanya me­merlukan beberapa menit  dibius lokal di klinik atau praktek dokter, ma­lahan lebih mudah dari tubek­tomi. “Tapi, vasektomi baru efek­tif setelah ejakulasi 20 kali atau tiga bulan pasca operasi. Sebelum itu masih menggunakan kon­dom,” tambah Biran.

Dijelaskannya, spermatozoa pria yang sudah divasektomi masih terus dipro­duksi buah zakar, namun karena tertahan tidak bisa dialirkan memasuki prostat, tumpukan spermatozoa akan diserap kem­bali oleh tubuh.

“Itu bukan masalah pada ke­sehatan seks pria dan tidak mem­pengaruhi kesehatan tubuh,” tan­dasnya.

BKKBN menemukan bahwa angka ke­sadaran menggunakan alat kontrasepsi di masyarakat miskin masih rendah.

Padahal, jumlah penduduk yang terus membludak akan menjadi ancaman serius jika tidak diimbangi ketersediaan pangan dan lapangan kerja.

“Masyarakat di daerah-daerah terpencil masih lebih sulit men­jangkau pusat pelayanan KB. Apalagi, tenaga penyuluh BKKBN saat ini hanya ada 20.000 orang yang harus me­layani 77.000 desa di seluruh Indonesia. Idealnya, satu desa dilayani satu petugas.

“BKKBN  mengalami keku­rangan 57.000 tenaga penyuluh,” ujar Deputi Bidang KB dan Kesehatan Re­produksi BKKBN dr Julianto Witjaksono.

Ia menjelaskan, beberapa ken­dala yang menyebabkan ren­dah­nya kesadaran ma­sya­rakat mis­kin ini adalah masih tingginya per­sepsi bahwa anak merupakan sumber investasi di masa depan.

Menurut dia, ma­syarakat miskin belum menyadari pentingnya KB dan masih enggan menjangkau tempat pelayanan KB.

Dikatakannya, kenyataan ini ini diperburuk lagi atas te­muan bahwa  40-60 persen peserta KB suntik tidak me­lanjutkan peng­gu­naan kontra­sepsi karena ter­ken­dala biaya dan jarak perjalanan.

Untuk mempermudah pela­yanan KB, masyarakat di daerah pe­da­laman dianjurkan meng­gunakan kon­­trasepsi jangka panjang. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sekolah Rakyat dan Investasi Penghapusan Kemiskinan Ekstrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03

Agenda Danantara Berpotensi Bawa Indonesia Menuju Sentralisme

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45

JMSI Siap Perkuat Peran Media Daerah Garap Potensi Ekonomi Biru

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34

PP Himmah Temui Menhut: Para Mafia Hutan Harus Ditindak Tegas!

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29

Rezim Perdagangan dan Industri Perlu Dirombak

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15

GMPG Pertanyakan Penanganan Hukum Kasus Pesta Rakyat Garut

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02

Roy Suryo Ogah Ikuti Langkah Eggi dan Damai Temui Jokowi

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00

GMNI: Bencana adalah Hasil dari Pilihan Kebijakan

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42

Pakar Hukum: Korupsi Merusak Demokrasi Hingga Hak Asasi Masyarakat

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28

DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26

Selengkapnya