ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo menyindir kinerja PT PLN (Persero), terutama dalam penyelesaian proyek listrik 10.000 Mega Watt (MW).
Menurut Agus, lambatnya peÂnyelesaian mega proyek itu memÂbuat subsidi untuk listrik memÂbengÂkak. Alasannya, dengan moÂlornya pembangkit listrik batuÂbara itu, maka penggunaan BBM yang biaÂyanya mahal tak bisa dikurangi.
Selain itu, saat ini PLN juga maÂsih menggunakan BBM sebaÂgai energi campuran. Padahal, deÂngan menggunakan gas atau baÂtubara saja dapat menghemat subÂsidi listrik dalam jumlah besar.
“Sekarang sudah ada 3 pemÂbangkit tenaga listrik berbasis BBM yang sudah mendapatkan gas. Satu pembangkit saja itu bisa memberikan efisiensi sampai Rp 6 triliun setahun,†jelas bekas DiÂrekÂtur Utama Bank Mandiri itu.
Menurut Agus, dari ketiga pemÂbangkit listrik itu saja sudah bisa menghemat subsidi Rp 18 triliun.
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga menilai PLN gagal melakukan efisensi kinerja maÂnajemen dan terdapat inefiÂsienÂsi bahan baku primer pemÂbangÂkit senilai Rp 27,8 triliun.
Hal itu berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan BPK terhadap kinerja PLN sepanjang 2010. BPK juga menyebutkan, PLN tiÂdak dapat memenuhi kebutuhan gas untuk pembangkit sesuai deÂngan volume dan spesifikasi tekÂnis yang dibutuhkan. Hal itu terÂjadi pada delapan unit pemÂbangÂkit yang berbasis dual firing, seÂhingga harus dioperasikan deÂngan high speed diesel atau solar yang lebih mahal dari gas.
Hal itu mengakibatkan BUMN listrik tersebut kehilangan kesemÂpatan menghemat biaya bahan baÂkar sebesar Rp 17,9 triliun pada 2009 dan Rp 19,6 triliun pada 2010.
Pasalnya, penggunaan bahan baÂkar high speed diesel pada pemÂbangkit yang berbasis dual firing PLN mengakibatkan biaya peÂmeÂliharaan pembangkit lebih tingÂgi dibanding bahan bakar gas (BBG).
Seperti diketahui, saat ini PLN menggunakan BBM non subsidi (harga industri) sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrikÂnya. Besaran subsidi untuk lisÂtrik dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) mencapai Rp 65 triliun ditamÂbah cadangan risiko energi Rp 23 triliun.
Anggota Komisi VII DPR Achmad Rilyadi mengatakan, seÂhaÂrusnya temuan BPK terse-but dijaÂdiÂkan peringatan buat jajaran direkÂsi PLN agar meningÂkatkan kinerÂjanya dan segera melakuÂkan efiÂsiÂenÂsi penggunaÂan energi primer.
“Temuan itu harus menjadikan PLN lebih baik mengelola energi primernya. Karena itu, perlu ada strategi cepat dari PLN melaÂkukan efisensi,†katanya kepada Rakyat Merdeka.
Untuk pasokan gas, Rilyadi juga minta pemerintah dan seluÂruh stakeholder memprioritaskan paÂsokan gas untuk PLN. MeÂnuÂrutnya, jika perusahaan listrik peÂlat merah itu bisa menghemat pengÂÂgunaan BBM untuk pemÂbangÂkitnya, tentu akan menguÂraÂngi beban subsidi dalam APBN.
Direktur Utama PLN Nur PaÂmudji saat dikonfirmasi mengaÂtakan, hasil audit BPK soal energi primer perseroan bukan kerugian negara. “BPK menghitungnya begini, seharusnya PLN bisa mengÂÂgunakan gas dibanding BBM unÂtuk pembangkitnya kaÂrena akan menghemat anggaran Rp 17,9 triliun,†kata Pamudji.
Namun, dia balik mempertaÂnyaÂkan gasnya dari mana. Sebab, PLN hingga kini masih kesulitan menÂdapatkan pasokan gas.
Terkait molornya proyek pemÂbangunan pembangkit 10.000 MW, Nur mengakui terjadi keterÂlambatan penyelesaian. “Tapi kami menargetkan 2012 selesai,†tandasnya.
Untuk diketahui, laba bersih PLN selama 2011 turun Rp 2,9 triÂliun. Laba bersih PLN tuÂrun dari Rp 10,1 triÂliun di 2010 menjadi Rp 7,2 triliun di 2011. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26