Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Waspadai Jika Anak Sering Lakukan Gerakan Aneh

JUMAT, 06 APRIL 2012 | 08:05 WIB

RMOL.Para orangtua seharusnya me­was­padai gejala epilepsi pada anaknya sejak dini. Periksalah anak Anda ke dokter, jika sering me­lakukan gerakan-gerakan aneh. Peranan orang tua itu pen­ting me­lakukan deteksi dini, yaitu mem­perhatikan perkembangan anak dan kelainan yang mungkin ter­jadi selama tumbuh kembangnya.

“Orangtua harus mem­per­ha­ti­kan, seperti gerakan-gerakan aneh tanpa sebab dan berulang, serta reaksi terkejut (kaget) tanpa sebab yang jelas dan terjadi berulang hingga beberapa kali,” kata Ketua Perhimpunan Pe­nanggulangan Epilepsi di Indo­nesia (PERPEI) dr Anna Marita Gelgel SpS(K).

Dijelaskannya, Epilepsi meru­pakan gangguan yang terjadi pada sistem saraf otak manusia. Gangguan epilepsi dapat me­nyerang siapapun, tidak hanya orang dewasa dan anak-anak, orangtua dan bayi yang baru lahir pun dapat terserang.

Kepatuhan dalam mengon­sumsi obat antiepilepsi adalah kunci utama mengontrol sera­ngan epilepsi. Sedangkan, keti­dak­patuhan terhadap pengobatan epilepsi dapat memperparah pe­nyakit epilepsi itu sendiri akibat serangan yang tidak terkontrol.

Akibatnya, akan memicu peru­bahan neuron, sehingga menyu­litkan terapi epilepsi, bahkan menimbulkan risiko yang mem­ba­hayakan keselamatan pasien epilepsi, seperti serangan epilepsi beruntun lebih dari 30 menit yang disebut status epileptikus yang berdampak kematian.

“Serangan kejang yang sering berulang akibat ketidakpatuhan minum obat akan menyebabkan jaringan otak yang tidak rusak menjadi rusak, sehingga dapat menyulitkan terapi epilepsi, bahkan menimbulkan risiko yang membahayakan keselamatan pa­sien epilepsi,” jelas Dokter Anak dari Departemen Ilmu Ke­sehatan Anak FKUI-RSCM dr Irawan Mangunatmadja, SpA (K).

Lebih lanjut, dr Irawan me­nyampaikan bahwa anak yang masih mempunyai plastisitas otak yang baik akan berusaha mem­perbaiki ke­rusakan jaringan yang ada. Apabila serangan kejang ma­sih terjadi, plastisitas otak tidak bisa bekerja dengan baik, se­hingga k­e­rusakan jaringan se­makin nyata. Plas­tisitas otak sen­diri merupakan kemam­puan otak melakukan re­organisasi dalam bentuk adanya interkoneksi baru pada saraf. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sekolah Rakyat dan Investasi Penghapusan Kemiskinan Ekstrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03

Agenda Danantara Berpotensi Bawa Indonesia Menuju Sentralisme

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45

JMSI Siap Perkuat Peran Media Daerah Garap Potensi Ekonomi Biru

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34

PP Himmah Temui Menhut: Para Mafia Hutan Harus Ditindak Tegas!

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29

Rezim Perdagangan dan Industri Perlu Dirombak

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15

GMPG Pertanyakan Penanganan Hukum Kasus Pesta Rakyat Garut

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02

Roy Suryo Ogah Ikuti Langkah Eggi dan Damai Temui Jokowi

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00

GMNI: Bencana adalah Hasil dari Pilihan Kebijakan

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42

Pakar Hukum: Korupsi Merusak Demokrasi Hingga Hak Asasi Masyarakat

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28

DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26

Selengkapnya