Berita

sby/ist

Ibarat Gadis Genit yang Suka Serong, PKS Wajar Tak Lagi Di Setgab

RABU, 04 APRIL 2012 | 16:47 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Kalau PKS gentle maka harusnya legowo dan bisa memahami kenapa harus keluar dari barisan koalisi pendukung pemerintah. Itu bagian dari resiko politik karena PKS bersikap berbeda dengan koalisi. Bukan malah menunggu dikeluarkan oleh SBY selaku ketua Setgab.

"PKS tidak perlu membanting rumah tangga sendiri dengan menyalahkan SBY sebagai 'menantu' yang tidak berani bertanggung jawab. Pengkambinghitaman justru menunjukkan kualitas dan karakter PKS yang rendahan," ujar Ketua Umum Banteng Kedaulatan, Farhan Effendi kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Rabu, 4/4). Banteng Kedaulatan merupakan ormas pendukung SBY.

Sudah dipahami bahwa apa yang dimainkan oleh PKS adalah politik pragmatis untuk kekuasaan semata. Segudang dalil yang dimajukan elit PKS, kata dia, hanyalah jubah untuk menutupi kedok birahi kekuasaannya.


"PKS mestinya berkaca, ibarat gadis yang dipinang, PKS adalah gadis genit yang suka serong. Gampang main mata jika ada lelaki lain. Jika menguntungkan, dia tidak segan mencoleknya. Inilah kenyataan praktek politik partai PKS," kata dia.

Menurutnya, terlalu tinggi jika PKS menuntut SBY sendiri yang berbicara mengeluarkan PKS dari koalisi. Sebab PKS tidak terlalu terhormat dalam permainan politik yang sudah disepakati bersama dalam komitmen pembentukan Setgab. Apalagi semua sudah tahu bukan dalam isu kenaikan harga BBM saja PKS berseberangan sikap dengan koalisi.

"Aksi sepihak (PKS) membuat kestabilan koalisi terganggu. Catatan merah praktik politik PKS sangat berisiko bagi SBY. Dalam kacamata etika, jelas PKS melakukangan pengangkangan atas kebersamaan koalisi. Dari segi disiplin, dikeluarkanya PKS dari koalisi akan mempertajam ketaatan peserta koalisi yang lain, dalam mematuhi fatsun politiknya," tutup Farhan.[dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Siswa Sekolah Rakyat akan Dilatih 1.000 Taruna Akmil

Minggu, 05 Juli 2026 | 18:21

Jokowi Pilih Lampung sebagai Awal Safari karena Tanah Tak Bertuan

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:41

OTT Bupati Langkat Temukan 55 Keping Platinum Senilai Rp40 Miliar Lebih

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:16

Hampir 3.000 Orang Tewas, Venezuela Mulai Hentikan Operasi Pencarian Korban Gempa

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:07

Komedian Narji Bikin Khitanan Massal PSI Diserbu Anak-Anak

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:52

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Absen di Pemakaman Ayahnya

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:26

Sudah Ada Perpres, Pakar: Promosi LGBT di Medsos Bisa Berujung Pengadilan

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:13

PM Singapura Dijadwalkan Bertemu Presiden Prabowo Besok

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:08

Pemerintah Perkuat Literasi Siber Antisipasi Ancaman AI dan Hoaks

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:01

Daftar Lengkap 16 Negara yang Lolos ke Babak 16 Besar

Minggu, 05 Juli 2026 | 15:55

Selengkapnya