ilustrasi
ilustrasi
RMOL. Kementerian Keuangan (KeÂmenkeu) menegaskan peÂnambahan pasal 7 ayat 6A daÂlam Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara PeruÂbaÂhan (APBNP) 2012 akan diÂjaÂdikan katup pengaman meÂnganÂtisipasi lonjakan harga minyak dunia.
Menteri Keuangan (MenÂkeu) Agus Martowardojo meÂngaku kenaikan harga BBM subÂsidi akan membuat masyaÂrakat tertekan, khususnya golongan masyarakat kelas bawah. Namun, dengan adaÂnya bantalan anggaran untuk kompensasi seperti Bantuan LangÂsung Sementara MaÂsyaÂrakat (BLSM) itu bisa dianÂtisipasi dan fiskal juga aman.
Agus menyatakan, harga minyak dunia masih diÂpeÂngaÂruhi oleh kondisi politik di selat HorÂmuz Iran. ApaÂlagi, 1/6 miÂnyak mentah berÂedar dari sana.
“Harga minyak dunia cenÂderung meningkat. Kita juga harus mengingat, Indonesia buÂkan net ekportir lagi tapi suÂdah net importir,†kata Agus di Jakarta, kemarin.
Selain itu, realisasi IndoÂnesia Crude Price (ICP) juga terus melonjak. Bahkan, ICP di Maret tembus 128 dolar AS per barel.
Menurut Agus, selain meÂnaikÂkan pemerintah juga bisa menurunkan harga BBM seÂsuai dengan bunyi pasal 7 ayat 6A. Menurutnya, dalam pasal itu dijelaskan, pemerintah diÂberikan kebebasan jika ICP suÂdah di atas atau di bawah target ICP pemerintah. “Kalimat itu bukan hanya untuk menaikÂkan, tapi juga menurunkan harga,†ungkapnya.
Dia menegaskan, jika pemeÂrintah tidak menaikkan harga BBM maka anggaran subsidi dalam APBN bisa jebol samÂpai Rp 300 triliun, karena selama ini banyak yang tidak produkstif dan tepat sasaran.
Di tempat yang sama, MenÂko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, saat ini banyak yang salah persepsi soal penjeÂlasan pasal 7 ayat 6A. Banyak yang menilai pemerintah akan meÂnaikkan harga BBM enam bulan ke depan. Padahal peÂnyeÂsuaian harga dilakukan deÂngan melihat harga ICP seÂlama enam bulan ke belakang.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengatakan, pihaknya akan mengeluarkan kebijakan pengÂhematan energi terkait pe nundaan kenaikan harga BBM.
“Kita minta semua pihak melakukan penghematan BBM untuk menjaga kuota BBM, dampak dari ditundaÂnya kenaikan harga,†katanya.
Anggota Komisi VII DPR Bobby Rizaldy menolak jika disetujui pasal 7 ayat 6A oleh DPR karena itu akan menyeÂrahkan harga BBM ke mekaÂnisme pasar.
“Itu salah alamat, karena dalam APBNP masih ada subsidi Rp 137 triliun, bilaÂmana harga pasar jelas tidak ada subsidi,†katanya.
Menurutnya, jika hanya ada pasal 7 ayat 6 saja, konseÂkuenÂsinya subsidi Rp 178 triliun. Namun, dengan adanya pasal 7 ayat 6A, subsidi lebih hemat Rp 41 triliun yaitu hanya Rp 137 triliun untuk menyediakan 40,5 juta kiloliter BBM tanpa kenaikan harga. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26