presiden sby
presiden sby
Mayoritas Fraksi di DPR sudah menyatakan menolak, begitu juga rakyat, pemuda, mahasiswa, dan buruh sejak awal sudah mengungkapkan penolakan yang sama. Bila tetap kenaikan harga BBM dipaksakan, dikuatirkan akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
"Harus ada kearifan dari pemerintah melihat situasi terakhir," ujar Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Bidang ESDM Yahya Habib kepada Rakyat Merdeka Online siang ini (Jumat, 30/3).
Habib memandang, banyak kekurangan kebijakan menaikkan harga BBM tersebut. Selain substansi, juga sosialiasinya yang sangat lemah.
"Pemerintah harus mau duduk bersama. Saya sudah bilang dari dulu lemahnya sosialisasi. Saya pergi ke daerah-daerah, pedagang warteg tahunya naik Rp500. Mereka sendiri kaget, kok naik Rp1500," jelasnya.
Menurut Habib, Pemerintah Indonesia tidak perlu menjadikan alasan harga BBM di negara tetangga sebagai alasan penguat untuk menaikkan harga BBM di luar negeri. Memang, harga BBM di Malaysia dan Singapura lebih tinggi dari di Indonesia. Tapi Indonesia punya kekayaan energi yang berlimpah berbeda dengan kedua negara itu. Sehingga tidak layak untuk dibandingkan.
"Saya pikir itu tidak menjadi alasan. Indonesia ya Indonesia. Kita punya sumber daya alam sendiri. Harusnya kita kelola sendiri. Supaya bisa membawa penghasilan sendiri," ujarnya.
Selain itu, cara pandang ekonomi pemerintah juga harus diubah. Selama ini Indonesia bangga dijadikan sebagai pasar potensial. Karena hanya sebagai pasar, harga dalam negeri juga tergantung kepada asing.
"Cara pandang kita terhadap energi kita sendiri perlu dievaluasi. Kita sendiri kan tidak merdeka terhadap energi kita sendiri. Terbukti bahwa banyak sumber energi kita dikuasi asing," ungkapnya.
Terakhir, Habib menyerukan kepada pengunjuk rasa dan aparat keamanan untuk bisa sama-sama menahan diri. Dia menyesalkan terjadinya bentrok kedua belah pihak. "Ini demi masa depan bangsa ini," tandasnya. [zul]
Populer
Senin, 20 April 2026 | 14:11
Sabtu, 18 April 2026 | 02:00
Jumat, 17 April 2026 | 17:46
Senin, 13 April 2026 | 14:18
Kamis, 16 April 2026 | 00:32
Senin, 20 April 2026 | 12:50
Kamis, 16 April 2026 | 18:10
UPDATE
Kamis, 23 April 2026 | 20:16
Kamis, 23 April 2026 | 20:10
Kamis, 23 April 2026 | 20:04
Kamis, 23 April 2026 | 19:43
Kamis, 23 April 2026 | 19:26
Kamis, 23 April 2026 | 19:17
Kamis, 23 April 2026 | 19:15
Kamis, 23 April 2026 | 19:02
Kamis, 23 April 2026 | 18:56
Kamis, 23 April 2026 | 18:41