Berita

dahnil anzar simanjuntak/ist

Gawat, Lebih 84 Persen Ladang Minyak Indonesia Dikuasai Asing

KAMIS, 29 MARET 2012 | 15:45 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi terpaksa harus dinaikkan karena pemerintah dan DPR mengalami penyakit rabun jauh atau myopic. Pemimpin negeri ini sejak lama abai perspektif jangka panjang. Akhirnya tata kelola dan manajemen perminyakan kita tidak berpihak pada kepentingan bangsa dalam jangka panjang.

"Tengok saja lebih 84 persen ladang minyak kita dikuasai oleh operator asing sehingga kita tidak bisa mendorong kebijakan perminyakan dalam negeri berpihak pada masyarakat," ujar ekonom Dahnil Anzar Simanjuntak kepada Rakyat Merdeka Online (Kamis, 29/3).

Lebih konkret dia mencontohkan kebijakan pada masa Orde Baru. Pada tahun 1970-1980, pada saat booming minyak terjadi, saat itu ekonomi Indonesia stabil dan sangat memungkinkan harga minyak dijual dengan harga keekonomian. Tetapi sayanganya, hal itu tidak dilakukan Soeharto, Presiden RI saat itu. Soeharto tidak menaikkan harga BBM untuk menjaga stabilitas ekonomi.

"Bagi saya itu adalah awal dari kondisi hari ini dimana perekonomian Indonesia sudah terbiasa dengan harga BBM murah. Sehingga ketika ada shock perubahan harga, dampaknya meluas dan merantai bagi ekonomi," ujarnya.

"Akibatnya, karena ada kenaikan harga minyak mentah dunia pilihan paling mudah adalah menaikkan harga jual BBM dan mengurangi subsidi. Ini semua akibat, kita terjebak pada tirani urgensitas. Semua kebijakan dibuat argumentasi urgensitas yang abai kepentingan jangka panjang," tandas pengajar di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten ini. [zul]


Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Khalid Basalamah Ngaku Hanya jadi Korban di Kasus Yaqut

Kamis, 23 April 2026 | 20:16

Laba BCA Tembus Rp14,7 Triliun

Kamis, 23 April 2026 | 20:10

Singapura Masih jadi Investor Terbesar RI, Suntik Rp79 Triliun di Awal 2026

Kamis, 23 April 2026 | 20:04

TNI-Polri Buru Anggota OPM Penembak ASN di Yahukimo

Kamis, 23 April 2026 | 19:43

Hilirisasi Sumbang Rp147,5 Triliun Investasi di Triwulan I 2026

Kamis, 23 April 2026 | 19:26

Bareskrim Gandeng FBI Buru Ribuan Pembeli Alat Phising Ilegal

Kamis, 23 April 2026 | 19:17

Jemaah Haji Terima Uang Saku 750 Riyal dari BPKH

Kamis, 23 April 2026 | 19:15

Data Rosan Ungkap Investasi RI Lepas dari Cengkeraman Jawa-Sentris

Kamis, 23 April 2026 | 19:02

PLN Pastikan Listrik Jakarta Sudah Pulih 100 Persen

Kamis, 23 April 2026 | 18:56

Idrus Marham Sindir JK: Jangan Klaim Jasa, Biarlah Sejarah Menilai

Kamis, 23 April 2026 | 18:41

Selengkapnya