Berita

Diingatkan, Tolak Kenaikan Harga BBM Salah Satu Alternatif yang Disodorkan PKS

SENIN, 26 MARET 2012 | 10:34 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Partai Keadilan Sejahtera menegaskan, bahwa menolak kenaikan harga bahan bakar minyak adalah salah satu alternatif yang disodorkan kepada pemerintah lewat sebuah surat yang dilayangkan beberapa waktu lalu.

"Tidak menaikkan harga BBM itu bukan satu-satunya pilihan. Ada pilihan-pilihan yang lain," ujar Sekretaris Fraksi PKS Abdul Hakim kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini.

Hal itu dikatakannya saat dikonfirmasi bukankah yang ditangkap publik bahwa PKS menolak harga BBM dinaikkan. Sementara saat ini, partai tersebut justru belum mengeluarkan sikap final.

Opsi kedua, dalam surat yang dilayangkan kepada Presiden adalah, harga BBM tidak dinaikkan untuk kendaraan umum dan niaga, kalau pada akhirnya harga BBM dinaikkan. Kenaikan harga BBM hanya untuk kendaraan pribadi.

"Kita sepakat konsistensi kebijakan terkait adanya pengaturan BBM. BBM bersubsidi ingin kita betul-betul tepat sasaran. Itu prinsip dasarnya sebetulnya. Sekarang kalau terjadi kenaikan harga BBM yang flat Rp1.500 untuk seluruh pengguna BBM. Jadi yang terkena beban terberatkan yang meskinya mereka mendapat subsidi," ungkapnya soal rasionalisasi opsi kedua.

Sedangkan alternatif ketiga, kalaupun harus ada kenaikan harga BBM dengan berbagai pertimbangan dan sebagainya, kenaikannya yang minimal, yaitu Rp500 per liter.

Namun, berdasarkan hasil rapat pemerintah bersama Badan Anggaran, saat ini ada opsi, yang kalau dikonkretkan pertama menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah terkait kebijakan itu atau menolak kenaikan harga BBM.

"Tetapi tentu altenatif pertama memberikan (kewenangan) ke pemerintah. Tapi kami tetap kami ingin memberikan saran kepada pemerintah sebisa mungkin tidak menaikkan BBM. Karen itu risiko sosialnya begitu besar," jelasnya.

Tapi, soal  bagaimana sikap akhirnya, PKS masih akan mengkajinya dalam satu dua hari ini. Masalah kenaikan harga BBM ini menjadi bahasan dalam Mukernas PKS di Medan.

"Kita lihat saja perkembangan dari satu dua hari ini. Pada akhirnya PKS akan memilih terhadap pilihan-pilihan itu. Berikan kesempatan kepada kami untuk mencermati berbagai alternatif itu seperti apa. Walaupun sudah ada dua alternatif, yang dirumuskan Banggar bersama pemerintah," demikian Hakim. [zul]


Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Khalid Basalamah Ngaku Hanya jadi Korban di Kasus Yaqut

Kamis, 23 April 2026 | 20:16

Laba BCA Tembus Rp14,7 Triliun

Kamis, 23 April 2026 | 20:10

Singapura Masih jadi Investor Terbesar RI, Suntik Rp79 Triliun di Awal 2026

Kamis, 23 April 2026 | 20:04

TNI-Polri Buru Anggota OPM Penembak ASN di Yahukimo

Kamis, 23 April 2026 | 19:43

Hilirisasi Sumbang Rp147,5 Triliun Investasi di Triwulan I 2026

Kamis, 23 April 2026 | 19:26

Bareskrim Gandeng FBI Buru Ribuan Pembeli Alat Phising Ilegal

Kamis, 23 April 2026 | 19:17

Jemaah Haji Terima Uang Saku 750 Riyal dari BPKH

Kamis, 23 April 2026 | 19:15

Data Rosan Ungkap Investasi RI Lepas dari Cengkeraman Jawa-Sentris

Kamis, 23 April 2026 | 19:02

PLN Pastikan Listrik Jakarta Sudah Pulih 100 Persen

Kamis, 23 April 2026 | 18:56

Idrus Marham Sindir JK: Jangan Klaim Jasa, Biarlah Sejarah Menilai

Kamis, 23 April 2026 | 18:41

Selengkapnya