ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Gejolak harga yang mendaÂhului kenaikan tarif BBM menjadi indikasi bahwa pemerintah sudah tidak mampu mengendalikan pedagang maupun tengkulak.
Bekas anggota Komite EkonoÂmi Nasional (KEN) HS Dillon meÂÂngaÂtakan, jelang momentum keÂnaikan harga BBM selalu diÂiringi dengan kenaikan harga bahan keÂbutuhan pokok. PihakÂnya mengÂanggap, oknum penguÂsaha sudah memanfaatkan keÂsemÂpatan tanpa peduli dengan kondisi ekonomi masyarakat.
ÂÂKondisi ini, kata Staf Ahli PreÂsiden Bidang Pengentasan KeÂmiskinan ini, berbeda dengan di Malaysia. Di negeri jiran terseÂbut, pemerintahnya mengacu pada UnÂdang-Undang (UU) yang menghaÂramkan terjadinya lonjaÂkan harga secara tidak wajar.
“DuÂnia usaha tidak peka terÂhadap nasib orang kecil. Di MaÂlayÂsia, ada Undang-Undang yang meÂngaÂtur harga di saat ada kebijaÂkan pemerintah. Pengusaha tidak akan berani menaikkan harga seÂenakÂnya karena akan terjerat sankÂsi. Di Indonesia mana ada seperti itu,†kritik Dillon kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.
Dia menyayangkan sikap peÂmeÂrintah, DPR maupun elite parÂpol yang sibuk tarik ulur soal keÂnaikan harga BBM. Pejabat pubÂlik itu dinilai hanya berargumen soal setuju atau tidak setuju adaÂnya kenaikan harga BBM dan mekaÂnisme Bantuan Langsung SemenÂtara Masyarakat (BLSM). PadaÂhal, yang terpenting apaÂkah “pertolongan†pemerintah terseÂbut sampai kepada seluruh lapiÂsan masyarakat.
“Kondisi ini bukan hal yang baru. BLSM belum mampu meÂngajak warga miskin naik kelas. Pada kenaikan harga BBM yang lalu, pemerintah juga membagiÂkan BLT (Bantuan Langsung TuÂnai) namun hanya sedikit masyaÂrakat yang berhasil meningkatkan taraf perekonomiannya,†lanjut pakar pertanian IPB ini.
Anggota Komisi VI DPR NasÂril Bahar menegaskan, moÂmenÂtum rencana kenaikan harga BBM sudah dimanfaatkan tengÂkulak maupun spekulan untuk menimbun barang pokok dan BBM. Hal itu merupakan damÂpak terburuk dari sebuah kebiÂjakan pemerintah.
Dia mengimÂbau agar pemerinÂtah bisa mengaÂtasi hal itu dengan memÂberikan sanksi tegas kepada tengkulak maupun spekulan.
“Presiden harus keluarkan InÂpres (Instruksi Presiden) dan meÂnugaskan Kementerian PerdaÂgangan untuk menghukum peÂlaku tindak kejahatan ekonomi agar membuat efek jera,†kata Nasril kepada Rakyat Merdeka.
Saat ini, lanjutnya, sanksi tegas belum diÂberikan kepada tengkulak mauÂpun spekulan. Hal ini memÂbuat ruang lingkup tindak kejaÂhatan tersebut bebas dari hukumÂan. SpeÂkulan merasa tindakannya diÂbenarkan karena tidak ada paÂyung hukum yang jelas.
PemeÂrintah melalui KemenÂterian PerÂdagangan diÂminÂta seÂcara rutin melakukan sidak pada pasar-paÂsar di daerah. TinÂdakan ini meÂruÂpakan salah satu upaya perlinduÂngan konsumen dari lonjakan harga.
“Sekarang saja, BBM belum naik tapi harga sudah naik 10-20 persen. Nanti setelah BBM naik, maka harga akan naik lagi 10-20 persen. Artinya terjadi keÂnaikan harga 2 kali yang merugiÂkan masÂÂyarakat,†pungkas Nasril. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26