Berita

ilustrasi/ist

Teknologi Demplot Dimanfaatkan untuk Swasembada Pangan

SABTU, 24 MARET 2012 | 09:48 WIB | LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK

RMOL. Kementerian Koperasi dan UKM berjanji akan mewujudkan sistem distribusi untuk kalangan petani diserahkan kepada Puskud (Pusat Koperasi Unit Desa), terutama sebagai distributor pupuk.

Karena pupuk merupakan kebutuhan utama petani beras. Kalau tidak seratur persen, sedikit 40-50 persen dan khusus untuk pupuk diserahkan kepada KUD lewat Puskud. Karena sekarang ini, Kemenkop dan UKM sedang membahasnya bersama Kementerian Koordinator Perekonomian.

Deputi bidang Produksi Kemenkop dan UKM, Braman Setyo mengatakan, pihaknya pun akan bicara dengan Perum Bulog. Tujuannya untuk mau menampung produksi beras yang sekarang dikembangkan produsen pupuk dalam kegiatan demplot.

Kegiatan ini merupakan kerjasama petani sebagai pemilik lahan, Politeknik Negeri Lampung dan PT Vitafarm Indonesia, yang pelaksanaannya dimulai sejak September 2010 hingga sekarang. Tujuan kegiatan demplot adalah mengenalkan teknologi pertanian yang berorientasi peningkatan produksi padi sawah. Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus kesuburan lahan sawah dapat dijaga secara berkelanjutan.

Pemerintah sedangkan mencanangkan swasembada pangan sebanyak 10 juta ton pada 2014. Jadi kegiatan demplot yang sudah terbukti menghasilkan produksi beras sebanyak 8,5 ton per hektar pada 2010 dan meningkat pada 2011 sebanyak 11,7 ton per hektar, maka ini bisa masuk salah satu program yang bisa membantu pemerintah dalam rangka mendukung ketahanan pangan selama ini," puji Braman Setyo, Deputi Produksi Kemenkop dan UKM pada acara Panen Bersama demplot padi di Desa Karang Anyar, Pasewaran, Lampung, Kamis (21/3).

Panen demplot bertema Revitalisasi Koperasi dan Peningkatan Kesejahteraan Petani Padi Sawah secara Berkelanjutan, dihadiri Puskud dari Jawa dan Lampung, seperti dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jogjakarta, dan Banten, yang sengaja diundang Braman. Tujuannya supaya mereka tahu kondisi panen yang melimpah sehingga membuat para Puskud bertambah semangat untuk menjadi distributor pupuk.

"Saya sengaja mengundang Puskud Jawa dan Bali, supaya mereka tahu program demplot ini secara detail. Apalagi ada 10-15 surat masuk ke pak Menteri Koperasi dari Puskud yang meminta jadi distributor pupuk, seperti dulu sebelum era reformasi yang terbukti berjalan baik dan sukses. Pupuk Vitafarm ini bisa jadi alasan juga nantinya," papar mantan Kadis Koperasi Jawa Timur.

Program demplot ini, lanjut dia, bisa diadopsi dan masuk program Kemenkop dan UKM untuk dilaksanakan di seluruh Indonesia. Sehingga panen melimpah di mana-mana dan tercapai swasembada pangan. "Itu sebabnya saya perlu membahas bersama Bulog, terutama agar tidak membeli harga gabah dari petani di bawah ketentuan, justru lebih tinggi dan harus mau membelinya. Supaya program swasembada ini tercapai," harapnya.

Direktur utama Politeknik Negeri Lampung, Ridwan Baharta menambahkan, teknologi yang diterapkan pada demplot ini didasari oleh factor penurunan kesuburan tanah yang sangat berpengaruh terhadap hasil panen para petani. Kesuburan tanah actual sangat jauh berbeda jika disbanding beberapa dasarwarsa. "Pola tanam monokultur (padi saja, red) dengan teknik penanaman yang tidak konservatif telah memicu terjadinya penurunan kandungan C-organik tanah. Paket teknologi yang dirakit dan dikembangkkan oleh Prof Simarmata (2009, red) dari Universitas Padjajaran Bandung, memanfaatkan jerami sebagai bahan baku dalam pembuatan kompos daan mengembalikannya ke sawah. Sehingga secara bertahap kandungan C-organik dalam tanah akan dapat dinaikkan," ujarnya.

Konsep penerapan paket teknologi adalah Leisa (low external input of sustainable agriculture mengembalikan jerami yang sudah dikomposkan ke lahan sawah sehingga memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah serta tampilan pertumbuhan tanaman maupun perkembangan tanaman.

"Sudah terbukti pemanfaatan teknologi ini dapat meningkatan produksi panen padi berkisar 8,7 ton per hektar dari sebelumnya 5,5 ton per hektar," pungkasnya. [zul]


Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Kebijakan Energi Harus Seimbang dengan Perlindungan Daya Beli Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 08:05

Lewat Seminar di Wonosobo, Jateng Nyatakan Perang Terhadap Hoaks

Minggu, 26 April 2026 | 07:36

Jemaah Haji Diminta Selalu Bawa Kartu Nusuk dan Dokumen Resmi

Minggu, 26 April 2026 | 07:32

Menkop Optimistis Kopdes Perkuat Ekonomi Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 07:03

Narkoba Melahirkan Rezim TPPU

Minggu, 26 April 2026 | 06:42

KH Imam Jazuli: Kiai Transformatif Cum Saudagar Gagasan

Minggu, 26 April 2026 | 06:23

Pertemuan Prabowo-Kapolri Mengandung Makna Kebangsaan Mendalam

Minggu, 26 April 2026 | 06:03

Satu Keluarga dengan Lima Nyawa Melayang di Barito Utara

Minggu, 26 April 2026 | 05:48

Tanpa Kubu Tetap

Minggu, 26 April 2026 | 05:13

Pertemuan Menhan dengan Para Jenderal Bukan Sekadar Temu Kangen

Minggu, 26 April 2026 | 05:09

Selengkapnya