Berita

Hadar Nafis Gumay

Wawancara

WAWANCARA

Hadar Nafis Gumay: Masyarakat Tak Percaya KPU, Tentu Kami Akan Kerepotan­

SABTU, 24 MARET 2012 | 08:54 WIB

RMOL.Tujuh anggota Komisi Pemiluhan Umum (KPU) periode 2012-2017 sudah dipilih DPR melalui voting Kamis (22/3) di Gedung DPR. Mereka yang terpilih adalah Sigit Pamungkas (45 suara), Ida Budiati (45 suara), Arif Budiman (43 suara), Husni K Manik (39 suara), Ferry Kurnia Rizkiyansyah (35 suara), Hadar nafis Gumay (35 suara), dan Juri Ardiantoro (34 suara).

Mengingat makin mepetnya Pemilu 2014, mereka dituntut be­kerja ekstra. Lalu apa saja priori­tas kerja anggota KPU terpilih ini. Hadar Nafis Gumay misal­nya, berjanji akan menekankan kinerja KPU kedepan dengan ter­buka dan partisipatif.

“Ke depan mudah-mudahan sistem kerja terbuka ini akan disepakati teman-teman anggota KPU lain,” kata Hadar kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Secara tegas dia mengatakan, jika tidak bekerja secara terbuka akan menimbulkan berbagai masalah. Baginya, kerja terbuka dan partisipatif di lembaga yang satu ini sangat urgen.

Nafis Gumay selanjutnya me­nga­takan, dengan bekerja ter­buka, maka semua stakeholder peserta pemilu, pilkada dan ma­syarakat umum akan mengetahui kinerja KPU.

Berikut wawancara selengkap­nya dengan pria yang sebelum­nya aktif di Centre for Electoral Reform (Cetro) ini:

Anda yakin semua anggota KPU terpilih mau kerja secara ter­buka?

Kami ini kan baru terpilih dan belum secara resmi atau belum dilantik. Makanya saya berharap, ide saya ini bisa diterima. Karena, jika kita bekerja secara terbuka, masyarakat akan mudah mengo­reksi KPU dan mengetahui ada permainan atau tidak.

Bagaimana jika anggota KPU lain tidak menerima ide Anda?

Kerja terbuka itu untuk ke­bai­kan. Kalau bekerja secara ter­tutup, minimal akan menimbul­kan ke­curigaan. Pada­hal se­sungguh­nya tidak ter­jadi kecu­ra­ngan. Dengan terbuka, fitnah-fitnah itu bisa di­hin­dari.

Selama ini kerja KPU tidak ter­buka ya?

Bukan ti­dak ter­bu­ka, tetapi kurang terbuka. Karena itulah, di dalam visi dan misi saya sa­lah satu poin­nya ingin kerja secara ter­buka. Saya ingin sekali lem­baga ini bekerja terbuka, karena banyak hal yang bisa kami dapat­kan. Masyarakat pun bisa lebih percaya lagi terhadap KPU.

Anda menilai tingkat keper­ca­­yaan masyarakat terhadap KPU selama ini menurun?

Intervensi politik bisa dihindari jika bekerja secara terbuka. Kalau kerjanya secara tertutup, bisa terjadi adanya intervensi atau ada pihak yang bermain dengan ke­kuatan politik tertentu. Sekarang ini kepercayaan rakyat terhadap KPU belum optimal.

Sepertinya, Anda yakin se­kali dengan sistem kerja ter­buka?

Sistem ini penting diterapkan karena akan meningkatkan keper­cayaan masyarakat terhadap KPU. Saya berharap, kepenguru­san KPU ke depan bisa semakin dipercaya sejak awal. Jika ma­sya­rakat tidak percaya, tentunya kami akan kerepotan.

Bagaimana dengan Pilkada yang dinilai banyak masalah?

Saya rasa, ini harus dilihat da­hulu persoalan-persoalannya dan penyebab sesungguhnya. Kita tidak bisa mengatakan ba­nyak masalah atau mangana­li­sisnya tanpa kita sendiri mengetahui pesoalan sesungguhnya.

Persoalan pilkada ini memang cukup banyak, karena itulah kita harus mengetahui persoalan se­sungguhnya dan segera meres­pons persoalan itu. Sehingga kita punya jalan keluar yang betul-betul pas.

Apa saja pesoalannya?

Itu beragam sekali. Mulai ada­nya dana yang tidak cukup, in­cumbent yang mempersulit ka­rena dia ikut di dalam pemilihan demi kepentingannya. Ada juga persoalan penegakan hukum yang tidak beres.

Bukan karena penyelenggara Pilkada yang tidak bisa bekerja maksimal?

Ya, ada juga persoalan penye­lenggaranya yang tidak bisa be­kerja atau kerjanya kurang baik dan tidak netral. Karena itu harus segera dibenahi secara serius dengan menganlisis persoalan sesungguhnya.

Sebagai penyelenggara, saya kira harus menyiapkan penye­lenggara-penyelenggara yang bisa bekerja dengan baik, netral, tidak manipulatif, dan punya kapasitas cukup. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Eks Relawan: Jokowi Manusia Nggedabrus

Minggu, 01 Februari 2026 | 03:33

UPDATE

Kesehatan Jokowi Terus Merosot Akibat Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 11 Februari 2026 | 04:02

Berarti Benar Rakyat Indonesia Mudah Ditipu

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:34

Prabowo-Sjafrie Sjamsoeddin Diterima Partai dan Kelompok Oposisi

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:06

Macet dan Banjir Tak Mungkin Dituntaskan Pramono-Rano Satu Tahun

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:00

Board of Peace Berpotensi Ancam Perlindungan HAM

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:36

Dubes Djauhari Oratmangun Resmikan Gerai ke-30.000 Luckin Coffee

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:19

Efisiensi Energi Jadi Fokus Transformasi Operasi Tambang di PPA

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:14

Jagokan Prabowo di 2029, Saiful Huda: Politisi cuma Sibuk Cari Muka

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:18

LMK Tegas Kawal RDF Plant Rorotan untuk Jakarta Bersih

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:06

Partai-partai Tak Selera Dukung Prabowo-Gibran Dua Periode

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:00

Selengkapnya