ilustrasi, pembagian BLT (bantuan langsung tunai)
ilustrasi, pembagian BLT (bantuan langsung tunai)
RMOL. Pemberian bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) atau biasa disebut BLT oleh pemerintah sebagai kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dianggap tidak mendidik masyarakat.
Pengamat ekonomi Ahmad Erani menilai, BLT ini memang sebagai salah satu langÂkah yang harus diambil peÂmerintah untuk membantu beban masyarakat yang tidak mampu.
“Bantuan itu memang harus diÂberikan pemerintah jika harga BBM naik. Tapi kalau bisa jaÂngan teÂrus menerus, kurang menÂdidik masyarakat,†kritiknya.
Anggota Komisi XI DPR InÂdah Kurnia menegaskan, pemÂberian bantuan langsung itu seÂbagai bentuk cari muka (carmuk) pemeÂrintah kepada masyarakat.
“Program itu bukan pencitraan lagi tapi carmuk (cari muka). KaÂÂsihan bangsa ini diberi bantuan cuÂma sementara,†cetusnya keÂpada Rakyat Merdeka.
Anggota Fraksi PDIP ini meÂnilai, pemerintah kurang peduli deÂngan rakyat. Kepedulian mesÂtinya diperlihatkan dengan memÂbantu masyarakat hingga mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Indah juga pesimis BLT pemeÂrintah itu berÂdamÂpak pada peÂnguÂrangan kemiskinan.
“Mana bisa mengurangi keÂmisÂkinan dengan hanya menerima Rp 150 ribu per kepala keluarga. KaÂlau hanya itu, ngapain negara keÂluar anggaran besar untuk biÂrokrasi, nggak perlu lagi biaya tinggi untuk mendanai pemikir-peÂmikir konsep pengentasan keÂmiskinan yang ada di jajaran pemerintah,†sentil Indah.
Dia menilai, kinerja yang diÂlakukan pemerintah ibarat tamÂbal sulam. Targetnya hanya hasil perhitungan di atas kertas, bukan realita.
Namun, Menko Kesra Agung LakÂsono membantah anggapan terÂsebut. “Ah, nggak bener itu (carmuk). Nggak ada pencitraan dari pemerintah dan partai. Saya dari Golkar, ada juga (menteri) yang dari PKS. Jadi tidak cuma Partai Demokrat di situ,†ucap Agung kepada Rakyat Merdeka.
Agung menambahkan, langkah yang diambil oleh pemerintah merupakan kewajiban. “MesÂtinya semua pihak mendukung proÂgram positif ini,†ujar Agung.
Ekonom Iswahyudi Ashari berÂpendapat, pembangunan inÂfraÂstrukÂÂtur lebih dapat meÂlepaskan rakyat dari kemiskinan diÂbanding memÂberi BLT berupa uang tunai.
“Membangun infrastruktur peÂdesaan seperti memberi kail, buÂkan ikan. Masyarakat miskin haÂrus dibantu dengan memÂbaÂngun infrastruktur agar tidak terÂpeÂroÂsok ke dalam jurang kemisÂkinan yang lebih dalam,†sarannya.
Menurut Iswahyudi, pemeÂrintah harus menyiapÂkan progÂram lanÂjutan dalam bentuk penÂciptaan lapaÂngan pekerjaan seteÂlah pemÂberian bantuan langsung tunai berÂakhir. Jumlah penduÂduk yang berÂhak mendapat banÂtuan seÂharusÂnya sudah lebih akurat, mengÂingat pemerintah memiliki proÂgram seÂrupa pada 2005 dan 2008.
Dia menambahkan, pemÂbaÂngunan infrastruktur peÂdeÂsaÂan seperti jalan, jembatan, jaÂriÂngan irigasi dan waduk meruÂpakan program yang mesti diÂsiapÂkan pemerintah, bukan membagi-bagikan uang kepada rakyat.
“Untuk membiayai pemÂbaÂnguÂnan infrastruktur perdesaan diperlukan minimal Rp 20 triliun. PeÂmerintah harus hemat untuk menÂdapatkan dana itu. Bisa deÂngan melalui pemotongan angÂgaran perjalanan dinas yang tahun ini mencapai Rp 18 triÂliun,†jelasnya.
Pemerintah memang telah menentukan 18,5 juta rumah tangga atau kepala keluarga (KK) yang akan menerima BLSM atau BLT sebagai salah satu kompenÂsasi kenaikan harga BBM.
“18,5 juta rumah tangga terÂsebut menjangkau 30 persen rumah tangga dengan tingkat sosial ekonomi terendah di InÂdonesia,†kata Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik.
Menurut Wacik, penentuan 30 perÂsen rumah tangga (18,5 juta) yang akan menerima BLSM Rp 150 ribu per bulan tersebut tidak ada huÂbungannya antara peneÂrima komÂpensasi dengan partai, keÂlomÂpok atau golongan terÂtentu. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26