Bank Indonesia (BI)
Bank Indonesia (BI)
RMOL.Bank Indonesia (BI) menjanjikan akan memberikan insentif kepada perbankan syariah mulai dari perpajakan maupun aturan penetrasi pasar.
Dengan insentif tersebut, pasar syariah diyakini akan lebih tumÂbuh dibandingkan bank konÂvesional.
Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah mengatakan, pemÂberian insentif akan segera diÂlakukan untuk mendorong pasar syariah menjadi lebih besar. SeÂbab, industri perbankan syariah masih terbilang baru.
“Saya kira pemberian insentif akan menjadi motifasi bank syaÂriah untuk terus maju dan berÂsaing di pasar bersama bank konÂvesional lain,’ kata Halim saat membuka Munas Ke-V dan SeÂminar Nasional Asbisindo berÂtajuk ‘Pengembangan Produk Perbankan Syariah Sesuai keÂbutuhan Masyarakat Indonesia’ di Jakarta, kemarin.
Berdasarkan catatan BI, seÂlama lima tahun terakhir total aset perbankan syariah diklaim menÂcapai 40,5 persen atau seÂbeÂsar Rp 177 triliun.
“Pertumbuhan itu mencakup bank syariah, Unit Usaha Syariah (UUS), maupun BPR syariah. Angka tersebut dua kali lebih ceÂpat daripada pertumbuhan bank konvensional,†ungkap Halim.
Untuk itu, ia mengaku optimis dalam waktu 10-15 tahun ke deÂpan, industri perbankan akan tumÂbuh hingga 20 persen dan perbankan syariah baru 4 persen dari pangsa pasar saat ini.
“Kalau percepatan ekonomi bisa kita pertahankan untuk tumÂbuh seperti sekarang ini, tentu saja waktu yang dibutuhkan akan lebih cepat lagi,†ujarnya.
Halim mengatakan, industri syariah Indonesia saat ini masuk di posisi empat dunia atau di baÂwah Iran, Malaysia dan Arab Saudi. Posisi Indonesia jauh leÂbih baik dibanding Bahrain dan Uni Emirat Arab.
Namun, ia menyadari bahwa tantangan industri syariah ke deÂpan sangat berat. Yaitu pertama, bagaimana memenuhi kebutuÂhan kuantitas maupun meningÂkatkan kualitas sumber daya manusia yang islami.
Kedua, perlunya meningkatÂkan inovasi produk dan layanan yang kompetitif yang memang berÂbaÂsis pada kebutuhan masÂyaÂrakat. Ketiga, keberÂlangÂsuÂngan progÂram sosialisasi dan edukasi keÂpada masyarakat.
“Apalagi siklus kebutuhan proÂduk yang ditawarkan kadang terlalu pendek. Kalau tidak ada inovasi dari pihak perbankan, miÂnat masyarakat terhadap sekÂtor perbankan syariah akan seÂmakin minim,†ungkap Halim.
Halim berharap, industri perÂbankan syariah mampu meÂngemÂÂbangkan dan meningÂkatÂkan proÂduk serta layanannya di masyaÂrakat dengan selalu berÂinovasi sesuai aturan yang ada.
Ketua umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) A Riawan Amin menyambut baik dorong Bank Sentral terÂhadap perÂtumÂbuhan bank syaÂriah ke depan.
“Tanpa ada dukungan dan kerja sama, industri syariah sulit untuk tumbuh,†kata Riawan.
Riawan juga berharap, kebeÂradaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa menjadi satu bagian dalam menjaga stabilitas perÂtumbuhan syariah Indonesia dari dampak krisis global.
“Kami berharap OJK bisa menÂjadi baÂgian dari industri syariah ke deÂpan,†tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26