ilustrasi, daging sapi
ilustrasi, daging sapi
RMOL.Pemerintah Australia akan menggenjot investasi sapi guna meningkatkan konsumsi daging di Indonesia. Menteri perdaÂgangÂan Australia Craig Emerson meÂnyatakan siap bekerÂja sama secaÂra komprehensif dengan Indonesia.
Dengan kerja sama ini, tidak hanya bermanfaat untuk perusaÂhaan besar, tapi juga usaha kecil dan menengah (UKM). MenÂteri Australia membawa deÂlegasi bisnis yang berminat meÂlakukan perdagangan di bidang peÂternakan.
Dalam skema CEPA (CompreÂhensive Economic Partnership AgreeÂment) Indonesia Australia (IA), Australia berÂkoÂmitmen memÂberikan bantuan bagi peÂlaku bisÂnis agar dapat melakukan studi mengenai IndoÂnesia Australia CEPA pada level swasta. PemeÂrintah IndoneÂsia meÂnyambut baik rencana itu seÂbagai peran aktif swasta menÂdukung IA CEPA yang maksimal.
Menteri PerdaÂgangÂan Gita Wirjawan mengatakan, dalam waktu dekat, beberapa produsen daging sapi dari AusÂtralia akan segera masuk untuk menanamÂkan investasinya di Indonesia.
“Tadi mereka (AusÂtralia) memÂÂbawa 20 peternak sapi yang terÂbesar disana. Mereka juga sudah terbuka matanya. SaÂya juga jeÂlasÂkan kepada mereka akan meÂningÂkatkan konsumsi saÂpi,†ujar Gita di Jakarta, kemarin.
Dikatakan, konsumsi rata-rata daging sapi masyarakat Indonesia saat ini baru mencapai 2 kilogram (kg) per orang per tahun. Gita menjelaskan, peluang Australia besar jika konsumsi sapi di IndoÂnesia bisa ditingkatkan menjadi 20 kg per orang per tahun.
“20 kilo dikalikan Rp 70 ribu per kilo dikalikan 250 juta orang. Itu per tahun bisa 35 miliar dolar AS. Dan mereka terbuka mataÂnya. Tidak mungkin kita hanya makan 2 kilo per tahun,†jelasnya. Angka 35 miliar dolar AS terÂsebut setara Rp 315 triliun.
Gita optimistis, konsumsi daÂging sapi bisa ditingkatkan menÂjadi 20 kg per orang per tahun daÂlam waktu 10-15 tahun menÂdaÂtang. Perhitungan itu baru peÂningkatan konsumsi daging, beÂlum termasuk susu dan lain-lain.
Saat ini, telah ada 124 proyek investasi Australia di Indonesia. NaÂmun investasi di bidang peÂternakan sapi belum terlalu baÂnyak. Padahal, sektor peternaÂkan Australia sangat maju.
“Indo Beef sudah dicatat untuk memÂberi sapi. Mereka juÂga komit dalam waktu dekat beÂbeÂrapa peÂrusahaan sudah bisa meÂlakukan investasi di sini. Nilainya kecil,†terang Gita.
Gita menuturkan, selain memÂbahas peluang investasi, perteÂmuÂan bilateral tersebut juga meÂnyinggung soal hortikultura. BerÂdasarkan informasi dari kaÂranÂtina, banyak ditemukan saÂyuran dan buah-buahan yang daÂtang dari luar dan terbukti meÂlangÂgar peraturan. Saat ini, terÂdapat 19 kasus. Dia berjanji akan menyiÂkapi hal tersebut.
“Dalam tiga bulan ke depan, kita harus memberi rumusan yang bisa dipertanggungjawabkan unÂtuk membatasi jumlah pelaÂbuhan. Kita juga harus objektif bahwa saÂyuran-sayuran dan buah-buahÂan yang masuk adalah sehat,†tandas Gita. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26