ilustrasi
ilustrasi
RMOL. Janji Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menyerap beras lokal dinilai hanya omong kosong alias omdo. Hingga pertengahan Maret ini, beras lokal yang terserap baru 5,7 persen dari target.
Saat ini, Perum Bulog baru menyerap beras petani sebanyak 225.000 ton hingga Maret 2012. Dilihat dari target pengadaan 4,5 juta ton hingga akhir tahun ini, jumlah itu baru 5,7 persen dari total target.
Dirut Perum Bulog Sutarto AliÂmoeso mengatakan, pengaÂdaan terÂsebut masih on the track, bahÂkan lebih tinggi dibanding 2010 dan 2011. Pasalnya, rata-rata peÂngaÂdaan beras tahun ini 20.000 ton per hari. Sedangkan selama dua taÂhun sebelumnya, piÂhaknya hanya mampu melaÂkuÂkan pengÂadaan kurang dari 20.000 ton per hari.
“Puncak pengadaan adalah 2-3 minggu lagi. Diharapkan nanti pengadaan naik menjadi 40-50 ribu ton. Kalau itu tercapai, proÂduksi bagus dan harga stabil renÂdah,†ujar Sutarto usai rapat denÂgar penÂdapat dengan Komisi IV DPR di Jakarta, Senin malam (19/3).
Sutarto merinci, penyerapan terÂbesar berasal dari Jawa TeÂngah 193 ribu ton, disusul Jawa Timur 83 ribu ton, Sulawesi Selatan 21 ribu ton, Jawa Barat 21 ribu ton, serta NTB dan Aceh 6.000 ton. Selain itu, Yogyakarta 3.300 ton, Sumatera Selatan 2.700 ton, Kalimantan Tengah 1.900 ton, dan Lampung 1.700 ton.
Sebelumnya, Menteri PertaÂnian Suswono mengeluhkan renÂdahnya penyerapan Bulog. Petani juga keÂsulitan memasok ke guÂdang BuÂlog. Parahnya lagi, di tengah paÂnen raya, harga pemÂbeÂlian gaÂbah atau beras yang diÂterima petani di bawah harga pemÂbelian pemerinÂtah (HPP).
“Harga beras saat ini di bawah HPP, jadi tak ada alasan lagi buat Bulog untuk tidak membeli sebaÂnyak-banyakÂnya beras seÂbagai caÂdangan paÂngan,†kata Suswono.
Hal itu diketahuinya dari peÂngaÂÂkuÂan petani di Babat, Jawa TiÂmur (Jatim) bahwa harga pemÂbelian gabah kering panen (GKP) hanya Rp 3.150 per kg atau di bawah Harga Pembelian Pokok baru Rp 3.300 per kg serta di baÂwah tingkat pengÂgiÂlingan Rp 3.350 per kg.
Menurut Suswono, hal itu saÂngat disayangkan kaÂrena di teÂngah panen raya, petani malah tidak memÂperoleh harga yang suÂdah diÂtetapkan. Dia mengaku, harga gaÂbah yang lebih rendah dari HPP juga ditemukan di bebeÂrapa daeÂrah lainÂnya. Sebagai BUMN peÂnyangga pangan, seÂharusnya BuÂlog tetap menyerap seluruhnya.
Fenomena tersebut, kata MenÂtan, meÂnunjukkan satuan petugas (satgas) Bulog tidak turun ke laÂpangan untuk langsung membeli beras petani. Pihaknya berharap, Bulog bisa lebih cepat menyerap.
“Kalau lewat Maret dikhawaÂtirkan Bulog tidak bisa memenuhi targetnya menyerap beras petaÂni,†ujar Suswono cemas.
Tambah Raskin
Beredar kabar pemerintah akan menempuh opsi lain guna meÂngantisipasi dampak kenaikan harga BBM, yaitu dengan melaÂkuÂkan penambahan jumlah peÂnyaluran beras untuk rakyat misÂkin (raskin) kepada hampir 18,5 juta rumah tangga sasaran (RTS).
Jika program ini jadi dilakukan pemerintah, maka Bulog haÂrus mengalokasikan seluruh anggaÂran pengalihan BBM untuk menyerap beras petani lokal. “RasÂkin yang diberikan harus mengguÂnakan beras lokal seluÂruhnya, Bulog tidak boleh impor untuk meÂmenuhi rasÂkin,†timpal Anggota Komisi IV DPR Rofi Munawar.
Dia menekankan, hal itu harus dilakukan karena berbagai maÂcam insentif telah banyak diberiÂkan kepada Bulog seperti HPP yang telah dinaikkan dan pengaÂlihan subsidi BBM pun sudah dianggarkan untuk raskin.
Pemerintah berencana menyaÂluran raskin pada 2012, awalnya jumlahnya sama dengan tahun lalu, yakni 3,41 juta ton. Beras rasÂkin sebanyak itu diperuntukÂkan bagi 17,49 juta RTS. Namun karena harga BBM naik, kini raskin ditamÂbah untuk 18,5 juta RTS selama 14 bulan dari biaÂsanya 12 atau 13 bulan saja deÂngan volume 15 kg per bulan per RTS dengan harga tebus Rp 1.600 per kilogram (kg).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Indonesia telah mengimpor beras pada Januari 2012 dari Vietnam mencapai 154,527 juta dolar AS atau setara 266,3 ribu ton. Kemudian dari Thailand per Januari 2012 seÂbesar 35,198 juta dolar AS atau setara 59 ribu ton.
Terakhir dari beras India sebeÂsar 9,197 juta dolar AS atau setara 19,37 ribu ton. Di antaranya di teÂngah panen raya musim rendeng ini, renÂcananya akan datang 14.500 ton beras asal India. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26