ilustrasi
ilustrasi
RMOL.Pemerintah dikritik terkait masih banyaknya penyelundupan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Action pemerintah yang kini ribut memberantas penyelundupan bensin dinilai telat.
Anggota Komisi VII DPR Achmad Rilyadi mengatakan, pemerintah sebenarnya tidak perlu menaikkan harga BBM subsidi jika berhasil menekan penyelundupan.
“Tingkat penyelundupan BBM kita sangat tinggi. Jika itu bisa diÂkurangi, APBN kita akan aman dari lonjakan harga miÂnyak dunia dan tidak perlu meÂnaikkan harga BBM. Pemerintah telat nih basmi penyelundupan BBM subsidi,†katanya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero WaÂcik membantah kegiatan penyeÂlundupan dan penimbunan BBM menjelang kenaikan harga malah bertambah banyak. MeÂnurut Wacik, yang terjadi adalah makin banyaknya penyeÂlundup dan penimbun BBM yang diÂtangÂkap pihak berwajib.
“BuÂkan melonjak tapi ditangÂkapi, kaÂrena menjelang kenaikan baÂnyak orang yang berpikir penÂdek untuk mencari untung deÂngan meÂnyelundupan BBM,†kata Wacik keÂpada Rakyat MerÂdeka, kemarin.
Namun, saat ditanya kenapa baru sekarang dilakukan penangÂkaÂÂpan, Wacik mengaku, pihaknya berÂÂsama BPH Migas terus meÂlakuÂkan pengawasan agar penyaÂluran BBM tepat sasaran.
Ketua Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas (Hiswana MiÂgas) Eri Purnomohadi mengÂaÂtaÂkan, pihaknya sudah melaÂkukan peÂngawasan ketat agar penyaÂlurÂan BBM subsidi tidak disaÂlahÂgunakan.
“Kami sekarang sudah memÂbaÂtasi pembelian yang berlebih. MiÂsalnya biasa yang bisanya beli 10 liter, namun tiba-tiba beli 20 liter kita akan tanyakan. Kami juga puÂnya ukuran tangki mobil seÂhingga tahu kapasitas masing-masing,†katanya.
Eri mengakui, para penyelunÂdup ini akalnya panjang. Karena itu, pihaknya meminta bantuan kepolisian untuk menÂjaga SPBU.
PT Pertamina (Persero) selaku peÂnyalur BBM subsidi meÂlakuÂkan kerja sama dengan Polda Metro Jaya untuk menangani penyalahgunaan BBM subsidi di Jakarta, kemarin.
Vice President Corporate ComÂmunication Pertamina M Harun mengatakan, pengaduan paling baÂnyak adalah terkait pembelian BBM yang menggunakan jerigen.
“Mengatasi penimbunan, PerÂtamina dan Satgas bergerak dan bekerja sama dengan polisi. KaÂmi menerima 113 pengaduan daÂri masyarakat, 60 terkait pembeÂlian dengan jerigen,†ujarnya.
Padahal, pembelian mengguÂnakan jiregen tidak boleh dilaÂkuÂkan kecuali di daerah terpencil seÂpanjang ada rekomendasi. “Nah rekomendasi ini disaÂlahÂgunakan, makanya perlu pengaÂwasan,†cetusnya.
Dia juga meminta masyaÂraÂkat tidak boleh panik terkait renÂcana kenaikan harga BBM subsidi kaÂrena stok yang ada cukup. NaÂmun, stok cukup tidak berarti akan dikeluarkan seperti perÂminÂtaan masyarakat karena kita ada kuota 40 juta kiloliter di 2012.
Sebelumnya, bekas Kepala BaÂdan Pengatur Kegiatan Hilir MiÂgas (BPH Migas) Tubagus HarÂyono menyatakan banyak maÂling dalam pendistribusian BBM subÂsidi. Bayangkan, dari kuota BBM bersubsidi yang disediakan peÂmeÂrintah, hanya 14,47 persen yang sampai ke sasaran atau masyaÂrakat. Artinya, sekitar 85,53 perÂsen BBM subsidi itu tidak tepat sasaran dan diseÂlundupkan.
Tubagus juga mengkritik langÂkah pemerintah yang baru meÂlakukan razia dan penangkapan terÂhadap pihak-pihak yang meÂlakukan penyelundupan BBM menjelang kenaikan harga. “HaÂrusnya pengawasan dan penangÂkaÂpan dilakukan setiap saat. JaÂngan hanya jadi pemadam kebaÂkaÂÂÂrÂan saja sehingga penyeÂlunduÂpÂan bisa dikurangi,†ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26