BoeÂdiono
BoeÂdiono
RMOL.Wakil Presiden (Wapres) BoeÂdiono mengaku angka kebocoran baÂhan bakar minyak (BBM) berÂsubsidi merupakan angka siluÂman. Sebab, berapapun jumlah BBM bersubsidi ditetapkan diÂpastikan akan bocor dan memÂbengkak jumlahnya.
“Itu angka siluman,†kata Boediono di Jakarta, kemarin.
Menurut Wapres, hal itu juga dikarenakan tingginya selisih harga BBM bersubsidi dengan pasar di luar negeri. Harga preÂmium di negara-negara tetangga seÂperti Thailand, Filipina, VietÂnam dan Malaysia sudah menÂcaÂpai Rp 12 ribu per liter, atau hamÂpir tiga kali dari Indonesia yang hanya Rp 4.500 per liter.
Kondisi ini sangat menarik bagi pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk membeli BBM berÂsubsidi dalam skala besar dan menÂjualnya kembali ke luar negeri.
“Karena sangat menguntungÂkan, siapa yang tidak tergiur. HamÂpir pasti, hakul yakin pasti lewati (kuota),†jelas Boediono.
Namun demikian, sampai saat ini dia tidak bisa memasÂtikan jumlah kebocoran yang terjadi sebab sulit untuk dihitung seÂcara tepat mengingat kegiatan ini berÂsifat ilegal. â€Sayang, kiÂta tidak punya angka yang teÂpat,†aku Wapres.
Boediono menambahkan, konÂdisi ini juga akan terus menyanÂdera AngÂgaran Pendapatan dan Belanja NeÂgara (APBN) karena harus mengikuti harga minyak dunia yang terus meningkat unÂtuk melakukan subsidi.
Untuk itu, menurut Boediono, satu-satunya cara yang efektif mengurangi kebocoran adalah menghilangkan selisih harga BBM tersebut dan menjaÂdikanÂnya sesuai dengan harga keekoÂnomianÂnya dengan menghiÂlangÂÂkan subsidi.
“Daripada BBM menghilang, lebih baik subsidinya dipakai unÂtuk program-program tepat saÂsaÂran, untuk infrastruktur,†ujarnya.
Wapres menilai, Indonesia tiÂdak mungkin langsung menghiÂlangkan subsidi. Perlu beberapa tahun menuju ke arah tersebut. Namun demikian, usaha untuk mengurangi selisih harga tersebut harus dimulai.
Staf Khusus Wapres M Ikhsan mengatakan, dalam temuan BPK, untuk minyak tanah dan gas elpiji kebocoran terjadi 20-25 persen.
“Untuk premium kita belum taÂhu, tapi besar, karena kuota kita tidak pernah mencukupi dan data-data yang ada juga tidak menÂcukupi,†katanya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26