Muhammad Nuh
Muhammad Nuh
RMOL.Untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM pada awal April, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh telah menyiapkan dana tambahan pendidikan dalam APBNP senilai Rp 11,2 triliun.
Dana tambahan pendidikan di Kemendikbud dimaksudkan unÂtuk menambah biaya beasiswa siswa miskin dari Rp 6 juta menÂjadi Rp 14 juta tiap siswa, tambahan biaya operaÂsional sekolah dan tambahan biÂaya beasiswa PerguÂruan Tinggi (PT) lewat program Bidik Misi.
“Kemendikbud juga meÂnamÂbah 10 ribu beasiswa Bidik Misi untuk PTN dan mulai tahun ini, ada 2.000 beasiswa ‘Bidik Misi’ untuk PTS,†kata Nuh di Jakarta, Jumat (16/3).
Kebijakan ini, menurutnya, diÂtempuh agar tidak ada lagi siswa dari keluarga miskin yang putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan akibat faktor ekonoÂmi. Tambahan dana pendidikan khusus diguÂnakan untuk penamÂbaÂhan subsidi siswa miskin dan daerah terÂpencil, terluar dan terÂtinggal. Kuota untuk program Bidik Misi bagi mahasiswa misÂkin yang kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN) tahun ini menÂcapai 40 ribu mahasiswa atau bertambah 10 ribu dari tahun lalu.
Terkait dana tambahan penÂdidikan, Rektor Institut TekÂnoÂlogi Bandung (ITB) AkhÂmaÂloka menambahkan, mahasiswa ITB bisa memahami kebijakan peÂmeÂrintah soal rencana keÂnaiÂkan harÂga BBM.
“Saya yakin pemerintah sudah memikirkan dampaknya. Mudah-mudahan, semua mengerti baik. Keputusan ini sesuatu yang sulit dijalani, tapi ya kita harus meleÂwatinya,†kata Akhmaloka kepaÂda Rakyat MerÂdeka, kemarin.
AngÂgota Komisi X DPR Ahmad Zainuddin mengusulkan agar banÂtuan subsidi siswa miskin ke deÂpan lebih dituÂjukan keÂÂpada peningÂkatan mutu pendidikan.
Dia mengkhawatirkan, bantuÂan kepaÂda siswa miskin dari KeÂmenÂdikÂbud bisa tumpang tindih deÂngan program kementerian lainÂnya. Misalnya, bantuan di bidang keÂsehatan dan sosial yang dibeÂrikan kepada masyaÂrakat miskin sebaÂgai kompensasi keÂnaikan harga BBM.
“Peningkatan program tersebut tidak selalu membutuhkan angÂgaran yang besar. Pemerintah perlu melakukan penghematan anggaran,†ujar kepada RakÂyat Merdeka.
Ia mencontohkan, program subsidi pemerintah seharusnya ditujukan langsung. Misalnya, penghapusan biaya tes masuk pendidikan tinggi atau peÂmeÂrintah benar-benar serius menerÂtibkan atau menghapus segala jenis pungutan di sekolah.
Kememdikbud diharapkan tidak perlu menambah angÂgaÂran.Untuk itu, ia mendesak KoÂmisi X DPR dan Kemendikbud benar-benar mengkaji setiap progÂram yang diajukan dalam AngÂgaran Pendapatan Belanja NeÂgara Perubahan (APBNP) sebelum diÂseÂpakati sebagai suatu kebijakan.
“Kita menginginkan ada kebiÂjakan yang disusun baik dan juga terintegrasi antar kementerian agar program-program yang diÂgulirkan pemerintah tepat guna, tepat sasaran dan ada kordinasi antar kementerian,†tegasnya.
Wakil Rektor Bidang AkaÂdeÂmik dan Kemahasiswaan InsÂtitut Teknologi Sepuluh NoÂvemÂber (ITS) Herman Sasongko berpenÂdapat, subsidi BBM yang dihaÂpus sehaÂrusnya berdampak langÂsung bagi kebutuhan masyaraÂkat, terÂutama di sektor pendidikan.
“Subsidi BBM yang dihiÂlangÂkan seharusnya mampu ditunÂjukÂkan pemerintah lewat progÂram riil. Anggarannya jangan sampai bocor lagi. Misalnya, unÂtuk beaÂsisÂwa agar orang bisa sekolah sampai tuntas, berobat gratis dan ada standar upah miniÂmum regional,†saran Herman.
Selama ini, menurutnya, jumÂlah siswa miskin yang tidak bisa melanjutkan sekolah ke perguÂruan tinggi tetap tinggi, sehingga kebijakan riil untuk mengatasi masalah pendidikan masih seÂtengah hati. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02
Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28
Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26