ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Anggaran mengkonsumsi beÂras pulen lebih sehat dan berÂgizi dibanding beras pera, tidak seÂlamanya benar. KenyaÂtaÂannya, beras pulen yang cenÂderung teksÂturnya lebih lembut justru meÂmiliki indeks glikemik yang tinggi.
“Beras pulen seperti pandan wangi yang lengket, lembut dan lebih mahal itu justru indeks gliÂkemiknya lebih tinggi dibanÂding beras pera,†kata speÂsialis gizi dari Departemen Ilmu Gizi FKUI/RSCM Fiastuti WiÂtjakÂsono di Jakarta, Kamis (23/2).
Seperti diketahui, kadar inÂdeks glikemik yang tinggi hanya akan menambah berat badan dan gangÂguan kualitas tidur. Beban karÂbohidrat yang tinggi pada beÂras pulen malah menjadi peÂnyeÂbab kadar gula darah pun seÂmakin tinggi.
“Sebaliknya, beras pera yang cenderung kasar dan tidak begitu enak dimakan justru memiliki indeks glikemik yang rendah, membuat kadar gula dalam tuÂbuh pun tidak tinggi,†jelasnya.
Selama ini, penggunaan karÂbohidrat dengan indeks glikemik rendah memang biasa diÂkonÂsumÂsi untuk diet dan penyakit diaÂbetes mellitus. Kandungan serat pangan yang tinggi dapat memÂperlambat laju pengosoÂngan lamÂbung, sehingga berÂmanÂfaat dalam membantu menuÂrunkan berat baÂdan. Tentu saja, pola hidup sehat harus dijalani.
Fiastuti mengemukakan, tinggi rendahnya indeks glikemik pada kedua jenis beras tersebut terganÂtung pada cara pengolahan dan memasaknya. Misalnya, beras pera yang memiliki indeks gliÂkeÂmik rendah akan berubah menÂjadi lebih tinggi, jika beras pera diolah lagi menjadi nasi goreng.
Dalam kandungan nasi goreng terdapat kandungan lemak berleÂbih dari minyak. Jika ditamÂbahÂkan daging terutama daging kamÂÂbing dan sejenisnya, maka indeks glikemik beras pera yang tadinya rendah, naik hingga memiliki indeks glikemik tinggi.
Menurutnya. beras pulen meÂmiÂliki indeks glikemik yang rendah kaÂrena pada saat dimasak cendeÂrung lebih lembut dan lengket. Saat diÂmakan pun, nasi pulen lebih mudah dicerna oleh tumbuh diÂbanding beras pera sehingga proÂses penyeÂrapannya lebih cepat.
“Justru karena dicernanya cepat, nasi pulen pun lebih cepat kenyang. Tetapi indeks gliseÂmiknya justru naik secara cepat, tetapi akan cepat lapar pula,†jelas Fiastuti. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26
Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48
Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06
Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01
Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17
Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37
Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16
UPDATE
Jumat, 02 Januari 2026 | 14:12
Jumat, 02 Januari 2026 | 14:08
Jumat, 02 Januari 2026 | 14:07
Jumat, 02 Januari 2026 | 14:06
Jumat, 02 Januari 2026 | 14:01
Jumat, 02 Januari 2026 | 13:58
Jumat, 02 Januari 2026 | 13:46
Jumat, 02 Januari 2026 | 13:42
Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41
Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41