Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Beras Pera Lebih Sehat Lho...

MINGGU, 26 FEBRUARI 2012 | 08:02 WIB

RMOL.Anggaran mengkonsumsi be­ras pulen lebih sehat dan ber­gizi dibanding beras pera, tidak se­lamanya benar. Kenya­ta­annya, beras pulen yang cen­derung teks­turnya lebih lembut justru me­miliki indeks glikemik yang tinggi.

“Beras pulen seperti pandan wangi yang lengket, lembut dan lebih mahal itu justru indeks gli­kemiknya lebih tinggi diban­ding beras pera,” kata spe­sialis gizi dari Departemen Ilmu Gizi FKUI/RSCM Fiastuti Wi­tjak­sono di Jakarta, Kamis (23/2).

Seperti diketahui, kadar in­deks glikemik yang tinggi hanya akan menambah berat badan dan gang­guan kualitas tidur. Beban kar­bohidrat yang tinggi pada be­ras pulen malah menjadi pe­nye­bab kadar gula darah pun se­makin tinggi.

“Sebaliknya, beras pera yang cenderung kasar dan tidak begitu enak dimakan justru memiliki indeks glikemik yang rendah, membuat kadar gula dalam tu­buh pun tidak tinggi,” jelasnya.

Selama ini, penggunaan kar­bohidrat dengan indeks glikemik rendah memang biasa di­kon­sum­si untuk diet dan penyakit dia­betes mellitus. Kandungan serat pangan yang tinggi dapat mem­perlambat laju pengoso­ngan lam­bung, sehingga ber­man­faat dalam membantu menu­runkan berat ba­dan. Tentu saja, pola hidup sehat harus dijalani.

Fiastuti mengemukakan, tinggi rendahnya indeks glikemik pada kedua jenis beras tersebut tergan­tung pada cara pengolahan dan memasaknya. Misalnya, beras pera yang memiliki indeks gli­ke­mik rendah akan berubah men­jadi lebih tinggi, jika beras pera diolah lagi menjadi nasi goreng.

Dalam kandungan nasi goreng terdapat kandungan lemak berle­bih dari minyak. Jika ditam­bah­kan daging terutama daging kam­­bing dan sejenisnya, maka indeks glikemik beras pera yang tadinya rendah, naik hingga memiliki indeks glikemik tinggi.

Menurutnya. beras pulen me­mi­liki indeks glikemik yang rendah ka­rena pada saat dimasak cende­rung lebih lembut dan lengket. Saat di­makan pun, nasi pulen lebih mudah dicerna oleh tumbuh di­banding beras pera sehingga pro­ses penye­rapannya lebih cepat.

“Justru karena dicernanya cepat, nasi pulen pun lebih cepat kenyang. Tetapi indeks glise­miknya justru naik secara cepat, tetapi akan cepat lapar pula,” jelas Fiastuti. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

Komisi III DPR Sambut KUHP dan KUHAP Baru dengan Sukacita

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:12

Bea Keluar Batu Bara Langkah Korektif Agar Negara Tak Terus Tekor

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:08

Prabowo Dua Kali Absen Pembukaan Bursa, Ini Kata Purbaya

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:07

Polri Susun Format Penyidikan Sesuai KUHP dan KUHAP Baru

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:06

Koalisi Permanen Mustahil Terbentuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:01

Polri-Kejagung Jalankan KUHP dan KUHAP Baru Sejak Pukul 00.01 WIB

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:58

Tutup Akhir Tahun 2025 DPRD Kota Bogor Tetapkan Dua Perda

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:46

Presiden Prabowo Harus Segera Ganti Menteri yang Tak Maksimal

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:42

Bitcoin Bangkit ke Level 88.600 Dolar AS

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Berjualan di Atas Lumpur

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Selengkapnya