Berita

Adhie M Massardi

Year of the Judgement

Oleh Adhie M. Massardi
SELASA, 17 JANUARI 2012 | 06:31 WIB

PRESIDEN Yudhoyono tampaknya punya bakat jadi peramal. Hal ini dia buktikan menjelang tutup tahun 2011. Di RSPAD Gatot Subroto, malam itu Yudhoyono, bak peramal profesional, meramalkan 2012 suhu politik bakal menghangat.

Tapi ramalan Yudhoyono ternyata memang jitu. Buktinya, baru memasuki pekan pertama 2012, suhu politik nasional sudah memanas. Ada Kongres Nasional Perubahan yang dihadiri mahasiswa, aktivis pergerakan, tokoh muda lintas agama, dan para pemuka masyarakat yang kesemuanya merasa geram melihat kondisi bangsa yang makin amburadul tanpa kepemimpinan.

Dari kongres yang digelar di gedung YTKI, Jakarta (5/1), itu lahir kesepakatan bersama tentang perlunya digulirkan perubahan yang nyata, agar melahirkan pemerintahan yang lebih pro-rakyat. Sehingga tidak ada lagi pembantaian terhadap rakyat yang menuntut haknya yang dirampas pengusaha yang dibekingi penguasa.

Sore hari setelah Kongres Perubahan bubar, Jakarta diguyur hujan campur badai. Pohon trembesi yang terlindung di dalam Istana, yang ditanam Yudhoyono dua tahun lalu, tiba-tiba tumbang, mengejutkan banyak orang. Dan masyarakat yang mengikuti kasus itu dari berbagai media massa, langsung berbisik-bisik. Jangan-jangan ini pertanda….

Di Indonesia, politik memang terbagi dalam dua versi. Ada politik yang rasional, dan ada yang irasional. Tapi bagi masyarakat agraris seperti Indonesia, politik irasional lebih banyak mendapat tempat.

Makanya, peristiwa robohnya pohon trembesi di Istana, jadi bahan perbincangan di kafe-kafe dan warung kopi pinggir jalan. Tak ada habis-habisnya. Menjadi lebih hot ketika beberapa hari kemudian meja marmer kokoh di Istana, yang baru saja dipakai Yudhoyono sebagai alas penandatanganan, pecah menjadi sembilan bagian.

Beberapa hari kemudian iring-iringan rombongan mobil Presiden Yudhoyono baku-tabrak di Malang, Jawa Timur. Masyarakat pun kian percaya akan terjadi sesuatu pada pemerintahan Yudhoyono.

Di kalangan pengamat politik rasional, pandangan serupa ternyata juga terjadi. Indikatornya kepercayaan masyarakat yang kian anjlok kepada pemerintahan Yudhoyono. Rakyat yang selama ini diam dirampas hak-haknya, mulai melakukan perlawanan secara heroik. Sementara mahasiswa di kampus-kampus terus melakukan konsolidasi dan melakukan kajian serius terhadap kondisi bangsanya.

Harga kebutuhan hidup kian meroket, sementara pendapatan terus menurun. Penegakan hukum kian terjerumus ke kubangan lumpur. Para koruptor yang berlindung di Istana tampak ketawa-ketiwi di depan kamera TV. Padahal rakyat jelata yang dituduh nyolong sandal, nyolong pisang, sungguh-sungguh dipidana.

Kata kelompok yang kritis, ini negeri seperti pesawat “auto pilot” karena pemerintah lebih asyik memikirkan dirinya sendiri. Tapi hampir semua sektor memang dianggap kedodoran.

Tapi pemerintah bukannya melakukan perbaikan kebijakan. Untuk mengatasi berbagai kritikan dan pemberitaan yang buruk, pemerintah lebih suka mengeluarkan uang milyaran rupiah guna membiayai pemasangan iklan yang menyuguhkan fakta palsu agar memberikan gambaran seolah ada pertumbuhan ekonomi.

Selain menggunakan uang rakyat buat beriklan, ada juga strategi menggaji sejumlah orang untuk memantau situs-situs berita di internet, dan mengomentari secara sinis pernyataan tokoh-tokoh tertentu yang dianggap berseberangan dengan pemerintah.

Tentu saja semua upaya itu tidak akan efektif, karena penderitaan rakyat itu sangat nyata. Pembantaian para petani yang menuntut haknya juga nyata!

Maka diam-diam banyak orang mengharapkan tahun naga ini menjadi tahun penghakiman, Year of the Judgement. Para koruptor diganjar penjara. Para pengkhianat rakyat mendapat laknat. Dan pemimpin yang suka bohong tak bisa ditolong…! [***]


Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya