RMOL. Tahun ini, Natal bersama masyarakat Indonesia di Belanda, yang akan diselenggarakan besok (Senin, 26/12) akan sangat meriah. Ini karena pemuda-pemuda Papua yang tergabung dalam grup band bernama Abresso Band tiba di Den Haag akan tampil menghibur.
Abresso band sendiri sempat diterima oleh KUAI KBRI Den Haag Umar Hadi di ruang kerjanya (Jumat, 23/12).
Ketika berbincang dengan Rakyat Merdeka Online di Den Haag, Sekretaris I Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI George Bisay Lekahena mengatakan band asal ujung timur Indonesia ini akan tampil dalam acara Open House yang digelar di Wisma Duta, Senin (26/12) dalam rangka perayaan Natal.
"Abresso Band Papua didatangkan khusus untuk memeriahkan perayaan Natal ini,†ungkap George Bisay.
Bisay kemudian memaparkan riwayat singkat Abresso Band Papua.
Abresso Band didirikan pada awal tahun 80an di Jakarta dengan personilnya terdiri dari pemuda-pemuda Papua yang merantau ke Jakarta diantaranya Akon Bonay (pemain bass), Boyke Phu (drummer), Dicky Mamoribo (keyboard), Ian Gebze (guitar), Robby Wambrauw (keyboard) dan Sandhy Bethay (vokal), dengan jenis musik yang diusung bergenre reggae pop, juga diselingi dengan beat berkarakter khas daerah Papua.
Kata Abresso berasal dari bahasa suku Atham (Arfak) Manokwari, Propinsi Papua Barat yang berarti "Salam"
Perjalanan karir Abresso band di blantika musik reggae Indonesia, berawal dari keikutsertaan Abresso pada Show Reggae Nite Ancol, pertengahan tahun 1980-an, dimana saat itulah menjadi awal mula demam musik reaggea di Indonesia hingga sekarang ini.
Abresso juga pernah tampil di Christmas Island dan di Port Moresby, Papua Nugini bulan Nopember 2006 dalam rangka misi kebudayaaan.
Tahun 1997 Abresso band merintis rekaman sendiri dengan hits-nya "I Wonder†dan “Ada Urusan Apa" yang disponsori oleh salah satu tokoh pemuda Papua, Yoris Raweyai.
Abresso juga berperan penting dalam merintis lahirnya grup vokal Rio Grime, yang secara khusus mengangkat musik dan lagu-lagu daerah di tanah Papua ke dalam bentuk musik pop daerah yang ringan dan mampu dinyanyikan oleh siapa saja.
Di tingkat blantika musik nasional, talenta grup Abresso mendapat banyak perhatian dan apresiasi dari berbagai kalangan sesama artis dan pemerhati budaya, misalnya mengadakan pertunjukan dengan kolaborasi musik daerah dan pop modern.
Abresso tidak secara khusus memproduksi album sendiri, walaupun ada juga beberapa karyanya yang diproduksi dalam kapasitas terbatas yang ditujukan dalam rangka kemanusiaan bagi korban bencana alam di Wondama, Propinsi Papua Barat, juga mengingat berbagai hal dan kesibukan tawaran
show dari berbagai pihak, maka kini group band Abresso tetap mencoba meramu karya-karyanya dalam album ke-2 yang saat ini sedang dalam persiapan.
Abresso pun mengalami regenerasi personil musisinya dengan merekrut beberapa anggota baru akan tetapi cirri khas dari grup Abresso sebagai
the real ethnic ber-
genre reggae tetap dipertahankan sebagai
trade mark-nya.
[arp]