Berita

sby/ist

Peribahasa Baru yang Sindir SBY dan DPR Disebarkan Lelaki Sepuh di Bundaran HI

MINGGU, 25 DESEMBER 2011 | 11:48 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

RMOL.  Seperti pada hari Minggu pagi sebelumnya, Minggu pagi hari ini masyarakat Jakarta tetap memadati kawasan Bundaran Hotel Indonesia. Mereka berolahgara dan bersantai bersama keluarga, teman, atau komunitasnya.

Di antara masyarakat, tampak seorang lelaki tua berjenggot tipis yang sudah berwarna putih dengan memakai pakaian safari abu-abu. Terlihat mencolok, karena di dada dan punggungnya, ia menggantungkan selebaran yang bertuliskan "Proverbs of nowadays; tokoh dan rakyat dalam peribahasa masa kini".

Lelaki tua ini adalah Dedi H. Kadir. Dia bukan warga Jakarta. Tapi, pria berumur 71 tahun berasal dari Bandung dan sampai di Bundaran HI pukul 07.00 WIB. Dedi merupakan pensiunan pegawai swasta di Hotel Indonesia, sebelum merubah nama menjadi Grand Indonesia.


Ternyata Dedi membawa semacam buku saku, yang terdapat 64 peribahasa. Kumpulan peribahasa yang itu adalah bentuk kerisauaannya sebagai anak bangsa terhadap keadaan bangsa ini.  "Kumpulan peribahasa ini adalah untuk mengingatkan kepada pemerintah dan partai politik rasa keprihatinan saya terhadap bangsa ini," jelasnya kepada Rakyat Merdeka Online seraya menyerahkan satu buah buku kumpulan peribahasa tersebut.

Dia menilai Pemerintahan SBY-Boediono gagal dalam memimpin negeri ini. Karena itu dia tidak percaya lagi terhadap pemerintah. "Gagal sih sudah jelas. Dan saya tidak percaya lagi kepada pemerintah. Namun dari kumpulan peribahasa ini mudah-mudahan ada harapan untuk lebih baik," harapnya.

Setiap peribahasa yang ia tulis ia kaitkan dengan keberadaan seorang tokoh. Misalnya;

1. Briptu Norman Kamaru. Karena susu setitik, tawar nilai sebelanga. Artinya tak sengaja sejenak bisa memperbaiki citra Polri.

2.  SBY Jadi Presidenku, tangan mengencang, bahu memikul. Artinya kelebihan urusan, ngurus negara, ngurus rakyat, ngurus partai dan ngurusin badan.

3. Yang terhormat DPR. Kalau tak mau dilimbur ombak, jangan berumah di tepi pantai. Artinya, sudah tahu gedungnya miring, ruangan kerja sumpek, ruangan sidangnya pun tak lagi nyaman untuk tidur dan nonton porno, kok mau-maunya jadi wakil rakyat.

Aksi Dedi tak hanya berakhir hari ini. Dia besok (Senin, 26/12) akan memberikan kumpulan peribahasanya itu KPK. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya