Berita

otje/ist

Blitz

Otje Soedioto, Penyandang Tunanetra dengan Segudang Prestasi

RABU, 21 DESEMBER 2011 | 14:12 WIB | LAPORAN:

RMOL. Meski tunanetra, pria kelahiran 1 September 1950 ini seakan tidak mengalami keterbatasan visual. Berbeda dengan penyandang tunanetra pada umumnya, ia pun tidak memakai kacamata hitam maupun membawa tongkat.

Adalah Muhammad Soedito, pria yang dimaksud. Otje, panggilan akrab Muhammad Soedioto, memang terlahir dengan sempurna. Namun saat menginjak usia satu tahun, Otje terserang penyakit campak. Penyakit ini menyerang saraf yang menghubungkan mata dan otaknya. Sejak saat itu Otje dinyatakan buta total.

Namun, sekali lagi, Otje seakan tidak mengalami keterbatasan visual. Saat Rakyat Merdeka Online berkunjung ke kantornya di kawasan Jalan MH Thamrin, ia tersenyum ramah, dan juga renyah. Tanpa bantuan apapun, ia seakan melihat betul kondisi ruangan dan mengajak untuk berbincang di ruang kerjanya. Dengan mengenakan batik coklat, celana bahan coklat, ikat pinggang dan jam tangan yang warnanya nampak serasi, ia duduk di kursi hitam favoritnya. Ia pun seakan memandang jelas lawan bicaranya.


Otje memang tunanentra. Namun hal ini tidak menghalanginya untuk mengukir prestasi. Sejak kelas 6 SD ia mampu mengetik 220 hurup per menit. Ayah Otje, yang seorang tentara, telah mempersiapkan Otje sejak kecil agar bisa berkomunikasi dengan dunia luar, termasuk mendorongnya untuk les mengetik.

Pada tahun 1979, Otje pun berhasil lulus sebagai sarjana hukum dengan predikat cumlaude di Universitas Diponegoro Semarang. Untuk urusan belajar dan kelulusan ini, Otje mempunyai jurus jitu; belajar melalui diskusi dengan teman-temannya yang kemudian ia rekam.

Di Universitas Diponegoro, Otje pun tidak hanya aktif kuliah. Dia terlibat aktif dalam berbagai organisasi. Baginya, organisasi  adalah alat untuk mencapai tujuan dalam rangka memenuhi kesejahteraan sosial bagi para anggotanya.

Pada tahun 1987, Otje pun pernah dicalonkan sebagai anggota DPR. Namun pencalonan tersebut ditolak karena fisiknya yang tidak sempurna.

"Disini terlihat jelas bahwa diskriminasi masih kental. Pemerintah masih menafsirkan bahwa peraturan secara dogmatis yang harus mampu baca dan tulis latin. Pemerintah masih beranggapan bahwa tunanetra ataupun masyarakat pada umumnya masih harus dikasihani," kata Otje.

Tidak hanya itu, Otje pun pernah menjadi wartawan selama 20 tahun. Ia menjadi news editor, wartawan cadangan, hingga akhirnya menjadi wartawan tetap di Departemen Luar Negri. Prestasi Otje sebagai wartawan pun tak perlu di ragukan lagi. Pada tahun 1982, dia pernah mewawancarai Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher dan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan.

Prestasi lain Otje adalah pernah menjadi staf ahli Dirut PT Pancaniaga sejak tahaun 1979 hingga 1997. Ia pun dipercaya untuk menjadi Ketua I Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) yang membidangi ormas politik dan hak asasi manusia.   

"Anda harus yakin dengan apa yang Anda lakukan adalah benar serta mempunyai prinsip," pesan Otje, yang sangat mengidolakan Bung Karno dan Presiden Kennedy.

Di luar itu, Otje mengatakan bahwa salah satu kekayaan yang ia miliki adalah teman-temannya. Hingga kini, komunikasi dan siltaruhami dengan teman-temannya itu masih berjalan dengan baik.

Di tengah keterbatasan visual, Otje pun terus menikmati hobby-nya, yaitu membaca buku. Ia pun mempunyai koleksi buku yang sangat banyak.

"Beliau adalah pribadi yang smart dengan keterbatasan visualnya beliau akan tetap megupayakan berbagai cara untuk mempunyai berbagai macam buku-buku, jika ada buku best seller beliau harus memilikinya. Beliau mempunyai daya ingat yang tinggi, kreatif dan memiliki daya juang yang tinggi," kata Rani Nugraha, yang sudah tiga tahun menjadi sekretaris Otje. [ysa]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya