Berita

ilustrasi/ist

"Negeri di Bawah Kabut" Raih Penghargaan Festival Film Internasional

JUMAT, 16 DESEMBER 2011 | 10:51 WIB | LAPORAN:

RMOL. Film The Land Beneath the Fog (Negeri di Bawah Kabut) berhasil meraih Special Jury Prize untuk Penghargaan Muhr Asia Africa Documentary Awards dalam acara The 8th Dubai International Film Festival 2011 (DIFF) di Dubai.

Film dokumenter panjang karya sineas muda Indonesia, Shalahuddin Siregar, ini bersaing dengan 10 film finalis lain dari beberapa negara di wilayah Asia dan Afrika untuk kategori Film Dokumenter Asia Afrika.

"Penghargaan ini merupakan yang pertama kalinya diterima film dokumenter Indonesia ini mengiringi pemutaran perdananya (World Premiere) pada saat DIFF 2011," kata Sekretaris Pertama/Konsul Fungsi Pensosbud KJRI Dubai, Adiguna Wijaya, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Jumat, 16/12).


Menurut Adiguna, pemberian penghargaan dilakukan dalam acara penutupan kegiatan DIFF 2011 tanggal 14 Desember 2011 di hotel Jumeirah Zabeel Saray yang berlokasi di pulau buatan berbentuk pohon palem di Dubai. Tahun ini sebanyak 36 penghargaan dengan total hadiah dalam bentuk uang sebesar 600.000 dolar AS diberikan untuk kategori film pendek, dokumenter dan features yang kesemuanya berdasarkan tiga kategori utama yaitu Muhr Emirati Awards, Muhr Arab Awards, dan Muhr Asia Africa Awards.

Sementara itu, para juri berasal dari kalangan kritikus film, pelaku industri perfilman maupun sineas terkemuka di kawasan maupun dunia internasional, termasuk pula lembaga The International Federation of Film Critic’s (FIPRESCI).

Produksi film The Land Beneath the Fog ini mendapat dukungan dari Goethe-Institut Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, Ford Foundation dan Blue Post Asia. Proyek film ini mulai terealisasikan pada tahun 2009 melalui program kerja sama Goethe-Institut Jakarta dan Dewan Kesenian Jakarta, yaitu Documentary Cinema Capacity Building Programme: Indonesia-Ten Years After Reformasi.

Sebelumnya, pada tahun yang sama pra-proyek film ini juga turut terpilih untuk dikembangkan lebih lanjut melalui program Doc Station 2009 Berlinale Talent Campus-Berlin International Film Festival bersama 11 proyek film lainnya dari 11 negara yang lolos seleksi dari 3.800 pelamar  yang berasal dari 128 negara.
 
Film ini menggambarkan kehidupan masyarakat petani di desa Genikan, lereng gunung Merbabu, yang mendasarkan mata pencarian bertani mereka dengan kalendar tradisional Jawa untuk menandai pergantian musim bercocok tanam. Film menyoroti mengenai keseharian kehidupan mereka sebagai petani yang terpengaruh oleh perubahan iklim.

Film yang berdurasi sekitar 105 menit ini mengisahkan tokoh Muryati (30 tahun) dan Sudardi (32 tahun) yang berusaha memahami terjadinya perubahan iklim yang tidak menentu yang membuat mereka harus gagal panen lahan pertanian mereka, disamping juga menghadapi polemik rendahnya harga jual hasil pertanian mereka di pasaran.
 
Sementara itu, tokoh  Arifin (12 tahun), dihadapkan pada permasalahan sistem sekolah negeri yang kompleks baginya dan kekhawatiran akan masa depan yang dihadapinya. Secara umum, film ini menyajikan perjalanan visual bagi para penonton untuk melihat lebih dekat keterhubungan antar anggota keluarga di desa Genikan, serta upaya mereka untuk bertahan hidup dari lingkaran kemiskinan yang menjebak mereka.

Sutradara Shalahuddin Siregar mengaku gembira bisa mendapatkan penghargaan ini. Hal ini membuktikan apresiasi dunia internasional terhadap hasil karya sineas Indonesia.

Sutradara Shalahuddin juga menjelaskan bahwa proses awal proyek film yang bernaung di bawah rumah produski Studio Kecil ini dimulai pada tahun 2006 melalui riset yang dilakukannya bersama tim selama dua tahun.

"Proses produksi dan pembuatan film ini memakan waktu empat tahun dan melibatkan empat orang kru dengan dua asisten dan seorang tenaga perekam suara. Tahap penyelesaian film ini memakan waktu selama 18 bulan, hingga siap tayang pada tahun 2011," demikian Shalahuddin. [ysa]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya