Berita

m. aji surya/ist

FROM MOSCOW WITH LOVE (22)

Tepuk Tangan

Oleh: M. Aji Surya
SENIN, 05 DESEMBER 2011 | 07:08 WIB

Bangsa yang suka mencela biasanya bangsa yang minder. Sedangkan bangsa yang miskin apresiasi biasanya bangsa yang sulit maju.
standing ovation di ujung acara. Bahkan, mereka tidak sungkan-sungkan meminta tambahan penampilan dengan cara bertepuk tangan tanpa henti sampai muncul imbuhan atraksi. Kalaupun pertunjukan dinilai top markotop, maka bisa jadi permintaan tambahan itu bisa dua hingga tiga kali. Sampai penonton puas dan pemain lega.

Saya masih mengerti kalau pertunjukan yang baik dan menarik mendapat tepuk tangan. Namun, selama ini yang saya ketahui, semua pertunjukan mendapatkan aksi tepuk tangan penonton dan permintaan tambahan. Bahkan, sebuah penampilan balet yang sudah pasti telah ditonton berkali-kali, seperti cerita Angsa Danau atau Swan Lake, penonton Rusia tetap memberikan tepuk tangannya.

Di Perancis, hal mirip juga terjadi. Ketika pertunjukan usai, penonton sering bertepuk tangan dengan nada yang sama sambil berteriak histeris. Sedangkan di Jerman, penonton meneriakkan kata "zugabe" bermenit-menit sampai ada additional attraction. Mereka ungkapkan kesenangan karena telah dibuat senang.


Sudah pasti dan tidak bisa disangkal, pilot yang mendapat tepuk tangan akan senang hatinya. Pelawak yang ada di atas panggung akan berbinar-binar matanya dan bisa tidur nyenyak saat pulang ke rumah. Penghargaan yang disampaikan oleh orang lain dengan ketulusan pasti memberikan efek positif dalam jangka panjang.

Seorang pilot yang ditepuki ramai-ramai akan membuat landing-landing berikutnya lebih mulus sehingga penumpang yang sedang terlelap tidur tidak kaget dibuatnya. Sedangkan pemain sandiwara di atas panggung yang dihadiahi tepukan dan permintaan tambahan pasti akan memacu diri untuk tampil lebih berkarakter di masa-masa berikutnya.

Mereka yang mendapatkan tepuk tangan namun tidak tampil optimal juga akan tahu diri. Para penerima tepuk tangan itu tahu bahwa apa yang diterimanya hanyalah sebuah penghargaan atas upaya yag dilakukannya. Bukan atas prestasi besar dari usahanya. To win the heart of the spectators, mereka harus lebih banyak berlatih. Sekali zugabe adalah lazim, tapi bila sampai tiga kali merupakan apresiasi atas prestasi.

Tapi yang jelas, tepuk tangan membuat tidak ada pihak yang dipermalukan. Pemain bola yang kalah setelah berusaha keras dan saat pulang mendapat tepukan penonton pasti akan berhati lega dan siap introspeksi. Sedangkan mereka yang kalah dan dipermlakukan publik bisa jadi akan patah semangat dan semakin grogi.

Di sisi lain, kepada para pemain lawan yang memenangi pertandingan, juga layak mendapatkan tepuk tangan dari penonton pihak yang kalah. Dalam diri para pemenang itu akan tumbuh rasa cinta dan memiliki cara pandang positif terhadap penonton yang apresiatif. Intinya, tepukan tangan layak diberikan kepada mereka yang sudah berusaha mencetak prestasi.

Di beberapa bangsa, budaya tepuk tangan positif ini kadang masih minim. Tepuk tangan masih sangat primordial. Hanya diberikan kepada kelompoknya saja. Hanya disampaikan manakala keberhasilan besar ditorehkan. Tepuk tangan bukan diperuntukkan sebuah usaha, tetapi hanya untuk berupa prestasi.

Teriakan yang bernada mengejek dalam aneka bentuk seperti "huuuuu" terkadang dilontarkan kepada kelompoknya sendiri yang kalah atau buruk penampilan. Aneka umpatan dan kritikan yang bersifat subyektif ditebarkan, seolah penonton jauh lebih jago dibandingkan pemain. Tidak kurang-kurang, makian kadang muncul di berbagai media masa sehingga menjadi semacam character assasination.

Tentu saja, bangsa yang demikian itu akan berlaku lebih kejam kepada lawan kelompoknya. Tidak hanya akan diteriaki dengan kata "huuuu", tetapi lawan juga harus siap menerima lemparan botol hingga batu. Makian, cacian dan hujatan kemudian muncul bak virus cikungunya di musim penghujan, menyebar melalui FB, Twitter, BBM dan SMS.

Percaya atau tidak, sikap negatif dan tidak apresitif terhadap sebuah usaha hanya akan memandegkan peradaban. Tidak akan memacu kemajuan. Memperbanyak musuh serta melahirkan masyarakat yang sakit.

Bila saja Anda tidak atau belum percaya dengan hal diatas, cobalah sejenak merenung dan mengamati bangsa-bangsa di dunia. Tetapi jika ternyata benar adanya, sudah waktunya setiap kita membangun sikap positif dan lebih apresiatif.

Penulis adalah warga RI yang tinggal di Moskow, ajimoscovic@gmail.com

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

MNC Siap Lawan Putusan CMNP Lewat Banding hingga PK!

Selasa, 28 April 2026 | 20:09

Menyambut Hardiknas 2026: Mengupas Makna Tema, Filosofi Logo, dan Harapan Pendidikan Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 20:06

RUPS bjb Angkat Susi Pudjiastuti Jadi Komut, Ayi Subarna Dirut

Selasa, 28 April 2026 | 20:02

KAMMI Ingin Perempuan jadi Penggerak Kedaulatan Energi

Selasa, 28 April 2026 | 20:01

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar ke-35

Selasa, 28 April 2026 | 19:59

Prabowo Sempatkan Ziarah ke Makam Sang Kakek Margono Djojohadikusumo

Selasa, 28 April 2026 | 19:47

Jamaluddin Jompa Kembali Jabat Rektor Unhas

Selasa, 28 April 2026 | 19:47

Legislator Golkar Desak Dirut KAI Mundur

Selasa, 28 April 2026 | 19:44

RUPST bank bjb, Susi Pudjiastuti Komut Independen

Selasa, 28 April 2026 | 19:42

Polri Unjuk Gigi, Timnas Silat Sapu Emas di Belgia

Selasa, 28 April 2026 | 19:34

Selengkapnya