RMOL. Meski sulit untuk muncul pada pemilihan presiden 2014 mendatang, bukan berarti tidak ada peluang sama sekali calon muda untuk bersaing. Pasalnya, masih ada peluang tokoh muda untuk maju.
Pertama, mengamendemen UUD '45 agar memberikan peluang munculnya capres independen. Kedua, kaum muda harus segera masuk ke gelanggang pertandingan dengan berkompetisi dengan sehat di partai-partai politik.
Tapi untuk syarat yang pertama, yaitu mengamandemen UUD 1945 tentu tidak mudah. Karena saat ini, dari seluruh total anggota MPR, hanya anggota MPR dari DPD saja yang berniat untuk melakukan amandemen.
"Anggota MPR dari partai politik kelihatannya belum memberikan peluang untuk itu. Karena itu, wacana amandemen ini pun kelihatan sulit terealisasi," kata Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay.
Hal itu dikatakan Saleh pada acara Perspektif Indonesia yang digelar DPD di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (Jumat, 2/12) dengan tema Siapa Presiden Versi Kaum Muda? Juga hadir sebagai pembicara lain Direktur Polmark Indonesia Eef Saifulloh Fatah, Ketua Balitbang DPP Golkar Indra J Piliang, dan Ketum Umum DPP KNPI Taufan E.N Rotorasiko.
Sedangkan pilihan kedua, bersaing melalui partai politik, juga agak sulit. Karena kaum muda yang terjun ke partai politik butuh waktu yang tidak singkat untuk bisa tampil jadi pemimpin. Kompetisi di partai politik tidak hanya mengharuskan seseorang memilki kapasitas personal, tetapi harus juga memiliki kemampuan finansial. Persoalan finansial ini pastilah menjadi ganjalan tersendiri bagi kaum muda.
"Di Indonesia, faktor uang masih memegang peranan penting. Agar bisa bersaing, seorang politisi perlu modal yang cukup besar. Di samping untuk modal bertanding di internal partai, sang politisi juga memerlukan biaya lain untuk membina jaringan dan konstituen," tandas Saleh.
[zul]