Berita

Bisnis

Pendiri Econit: Indonesia Pasti Kena Krisis!

RABU, 16 NOVEMBER 2011 | 12:08 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Di akhir 1996 pondasi ekonomi Indonesia dikatakan sangat kuat. Bukan hanya pemerintahan Soeharto yang dengan percaya diri mengatakan hal itu. Analis ekonomi dalam dan luar negeri juga ikut memuji-muji. Lembaga keuangan internasional semisal World Bank dan International Monetary Fund (IMF) apalagi.

Seingat Rizal Ramli, hanya Econit Advisory yang didirikannya yang memiliki pandangan berbeda. Di bulan Desember 1996, Rizal Ramli dan Econit mempublikasikan hasil riset yang menemukan ancaman di depan mata. Menurut riset itu, tahun 1997 akan menjadi the year of uncertainty atau tahun ketidakpastian.

"Ada awan mendung di langit Indonesia. Bisa jadi hujan, bahkan bisa jadi hujan batu," ujar Rizal Ramli ketika menceritakan kembali saat-saat menjelang krisis ekonomi 1997-1998 dalam diskusi di Rumah Perubahan, kemarin siang (Selasa, 15/11).

Banyak yang tidak percaya pada analisa Rizal Ramli dan Econit Advisory itu. Rizal Ramli mencontohkan seorang taipan properti papan atas di Indonesia yang ikut tidak percaya.

Dalam sebuah pertemuan yang diselanggarakan sebuah bank milik pemerintah sang taipan mengatakan bahwa perekonomian Indonesia sedang baik dan akan semakin baik. Analisa Econit, menurut sang taipan, terlalu berlebihan dan salah besar karena faktanya bisnis properti sedang begitu dinikmati. Bukankah ini tanda-tanda perekonomian dalam keadaan yang baik dan semakin menjajikan.

"Pak Rizal orang pintar. Tapi saya orang lapangan," begitu kira-kira katanya kepada Rizal Ramli saat itu.

Rizal Ramli tak mau berdebat. Ia hanya mengajak sang taipan bertemu lagi dengan dirinya setahun yang akan datang.

Tak lama setelah pertemuan itu, Januari 1998 tanda-tanda kehancuran ekonomi Indonesia tampak nyata hingga akhirnya meledak di bulan Mei setelah Soeharto menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan IMF. Sang taipan properti dan kerajaan bisnisnya termasuk yang mengalami kerusakan paling parah akibat hantaman tsunami moneter itu.

Di bulan Oktober 1997, masih cerita Rizal Ramli, dia diundang ke Sekolah Staf Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung. Ini adalah sekolah paling prestisius di kalangan militer Indonesia, tempat perwira menengah senior digembleng sebelum menyandang bintang jenderal di pundak mereka.

Seorang jenderal senior dalam sambutan di depan siswa Seskoad mengatakan bahwa menghadapi siutuasi krisis tugas ABRI adalah membela Soeharto.

"Ketika saya bicara, saya katakan bahwa pandangan saya berbeda. Soeharto tidak akan dapat menghadapi krisis ekonomi dan politik karena sejak awal sudah salah langkah. Ketergantungan pembangunan Orde Baru pada utang luar negeri dan modal asing yang merajalela menjadi semacam bumerang yang balik menyerang dan mematikan," masih cerita Rizal Ramli.

"Jadi yang dibutuhkan dan harus dilakukan ABRI adalah membela Indonesia. Bukan membela Soeharto," sambungnya.

Rizal Ramli merasa perlu menyampaikan hal-hal seperti ini untuk memberikan gambaran tentang kondisi Indonesia hari ini. Menurutnya, apa yang sedang dialami Indonesia sama persis dengan kondisi Indonesia di era 1997-1998. Sayangnya, kebanyakan masyarakat Indonesia, khususnya kaum pengusaha dan kelas menengah, tidak tahu, atau kalaupun tahu tapi tidak mau tahu. Apalagi pemerintah dan berbagai lembaga keuangan asing selalu mengatakan bahwa perekonomian Indonesia dalam keadaan baik-baik saja.

Reaksi seperti itu sama persis dengan reaksi yang disampaikan kalangan pengusaha dan kelas menengah menjelang krisis 1998.

Selain mengutarakan pengalama menjelang krisis 1998, Rizal Ramli dalam diskusi itu juga membagikan fotokopi artikel yang dia tulis di sebuah koran nasional papan atas bulan Mei tahun lalu. Dalam artikel itu, Rizal Ramli membahas krisis ekonomi yang terjadi di Yunani.

Menurut Rizal dalam artikelnya, krisis Yunani terbilang kecil, tapi akan berdampak luar biasa bila telah merembet hingga ke Italia dan Spanyol. Tahun lalu, hanya ada dua jalan keluar yang dapat diambil Uni Eropa. Pertama, mengeluarkan negara-negara khususnya di kawasan Eropa Selatan yang tidak memenuhi standar dari organisasi kawasan itu, atau menyamakan nilai tukar mata uang euro dengan dolar AS.

Bila salah satu atau kedua hal ini tidak dilakukan, maka seluruh Eropa akan menghadapi krisis. Sekarang, itulah yang sedang terjadi di Eropa. Perdana menteri Italia dan Yunani sudah mengundurkan diri. Eropa tertatih-tatih menyeret badannya keluar dari krisis.

Kondisi perekonomian di level nasional dan global saat ini, menurut Rizal Ramli sama dengan kondisi perekonomian nasional dan global menjelang krisis 1998.

Indonesia, sebut Rizal Ramli, boleh merasa bangga karena selamat dari terjangan krisis 2008. Tapi menurutnya, dinamika krisis ekonomi 2008 itu bukannya membentuk kurva V melainkan kurva W. Di kurva W bisa dilihat bahwa ada krisis baru lagi yang akan terjadi sebelum recovery economy tuntas.

"Indonesia pasti akan kena. Pondasi ekonomi Indonesia saat ini tidak sehebat yang dibayangkan. Uang panas 2010 saja lima kali lebih banyak dari uang panas di tahun 1998. Dan kita tahu, sifat uang panas gampang masuk dan gampang keluar," demikian Rizal Ramli. [guh]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Iran Sodorkan 14 Syarat Damai yang Harus Dipenuhi AS

Minggu, 03 Mei 2026 | 09:59

KPK Soroti Aset Mangkrak Rp27,5 Triliun di Sulsel

Minggu, 03 Mei 2026 | 09:20

Ribuan Jemaah Haji Bertahap Bergerak dari Madinah ke Makkah

Minggu, 03 Mei 2026 | 09:14

Ratas Hambalang, Prabowo Matangkan Agenda Pendidikan hingga Hilirisasi Nasional

Minggu, 03 Mei 2026 | 08:51

Mahasiswa Didorong Kembali jadi Kekuatan Pengontrol Sosial

Minggu, 03 Mei 2026 | 08:39

Update harga BBM Terbaru di SPBU Pertamina, BP, hingga Vivo

Minggu, 03 Mei 2026 | 08:27

Perpres Ojol Bawa Angin Segar Bagi Pengemudi Online

Minggu, 03 Mei 2026 | 08:20

Pemerataan Pendidikan Kunci Wujudkan Indonesia Emas 2045

Minggu, 03 Mei 2026 | 08:14

Amien Rais Sebaiknya Segera Klarifikasi

Minggu, 03 Mei 2026 | 07:46

Publik Nantikan Aksi Nyata Dudung Bereskan Masalah MBG

Minggu, 03 Mei 2026 | 07:36

Selengkapnya