Indonesia sangat mungkin mengambil
keuntungan maksimal dari krisis yang tengah melanda kawasan Eropa dan Amerika
Utara. Namun sayangnya, model pemerintahan yang dikembangkan SBY dan Boediono tidak
memiliki kejelian untuk melakukan hal itu. Sebaliknya, pemerintahan SBY terlalu
sibuk untuk mengurusi persoalan pencitraan yang membuat rakyat semakin tak percaya pada pemerintahan SBY.
“Presiden kita lebih senang membuat
album dan mengatakan itu adalah komunikasinya dengan rakyat. Siapa di antara
Anda yang merasa berkomunikasi dengan SBY setelah mendengar lagunya,†sindir anggota Komisi I DPR RI dari Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB) Lily Wahid dalam diskusi di Rumah Perubahan 2.0 di
Duta Merlin, Jakarta, Selasa siang (15/11).
Krisis ekonomi yang tidak terkendali, sebutnya, memungkinkan
seorang pemimpin yang tidak dapat membaca dinamika realita ekonomi dan politik
nasional maupun global, akan terjungkal.
“Persekongkolan politik SBY dan
Sekretariat Gabungan tidak akan mampu menyelamatkan SBY bila krisis ekonomi
telah berubah menjadi krisis politik,†ujar
Lily lagi.
Selain dipicu faktor ekonomi, krisis politik di Indonesia
juga akan dipicu oleh faktor kepercayaan rakyat pada pemerintah yang semakin
lemah. Kok menteri yang tersangkut kasus suap dibiarkan,†kata Lily lagi. [guh]