Berita

Abdullah Hehamahua/ist

UJI KELAYAKAN CAPIM KPK

Kesederhanaan Abdullah Hehamahua Dicap hanya Topeng

KAMIS, 10 NOVEMBER 2011 | 10:34 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Abdullah Hehamahua termasuk salah seorang dari delapan nama calon pimpinan KPK yang layak untuk memimpin lembaga superbody itu. Penasihat KPK itu dinilai sederhana dan tegas dalam memberantas korupsi tanpa bisa diintervensi.

Karena itulah, anggota Komisi III DPR Nudirman Munir, yang dihubungi Rakyat Merdeka Online pagi ini, (Kamis, 10/11), mengaku pada awalnya memasukkan nama Hehamahua sebagai salah satu calon yang layak bersama Yunus Hussein dan Bambang Widjojanto.

Tapi, saat ini politikus Golkar itu sudah mencoret nama Hehamahua. Karena Nudirman tidak puas dengan keputusan Hehamahua saat menjabat Ketua Komite Etik KPK yang bertugas mengusut dugaan pelanggaran kode etik pimpinan KPK.


"Kita sudah melihat ketidakkonsisten apa yang diucapkan dan dilakukan.  Kesederhanaannya hanya topeng. Sudah jelas ada pelanggaran kode etik, bahkan pelanggaran UU. Tapi oleh Abdullah Hehamahua hanya menjerat dengan pelanggaran-pelanggaran kecil. Sehingga tidak tergambar, yang selama ini kita tahu tentang dia. Dia sudah kemasukan politik, bisa diintervensi," tegasnya.

Meski begitu, Nudirman mengakui bahwa Hehamahua termasuk tiga orang dari tujuh anggota Komite Etik yang melakukan dissenting opinion dalam memutuskan terhadap Chandra M Hamzah. Bagi yang melakukan dissenting opinion, Chandra M Hamzah dinilai sudah melanggar kode etik karena bertemu dengan Muhammad Nazaruddin.

Karena itulah, pada saat fit and proper test, Nudirman akan menkonfimasi apakah dissenting opinion itu murni atau tidak. "Tapi last not but least, dia masih yang terbaik di antara 6 Capim KPK lainnya," aku Nudirman. [zul]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Kebijakan Energi Harus Seimbang dengan Perlindungan Daya Beli Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 08:05

Lewat Seminar di Wonosobo, Jateng Nyatakan Perang Terhadap Hoaks

Minggu, 26 April 2026 | 07:36

Jemaah Haji Diminta Selalu Bawa Kartu Nusuk dan Dokumen Resmi

Minggu, 26 April 2026 | 07:32

Menkop Optimistis Kopdes Perkuat Ekonomi Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 07:03

Narkoba Melahirkan Rezim TPPU

Minggu, 26 April 2026 | 06:42

KH Imam Jazuli: Kiai Transformatif Cum Saudagar Gagasan

Minggu, 26 April 2026 | 06:23

Pertemuan Prabowo-Kapolri Mengandung Makna Kebangsaan Mendalam

Minggu, 26 April 2026 | 06:03

Satu Keluarga dengan Lima Nyawa Melayang di Barito Utara

Minggu, 26 April 2026 | 05:48

Tanpa Kubu Tetap

Minggu, 26 April 2026 | 05:13

Pertemuan Menhan dengan Para Jenderal Bukan Sekadar Temu Kangen

Minggu, 26 April 2026 | 05:09

Selengkapnya