Berita

dahnil anzar simanjuntak/ist

Indonesia Jangan Terbuai dengan Pujian Internasional

RABU, 09 NOVEMBER 2011 | 06:55 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Dalam diplomasi retorika Internasional, Indonesia kerap bangga dengan pujian negara-negara lain sebagai mitra strategis dan memiliki potensi ekonomi yang luar biasa dengan kerja ekonomi yang baik.

Tapi dipastikan, kalimat manis itu cuma bumbu basa-basi diplomasi internasional untuk menyenangkan hati Indonesia. Karena itu, pemerintah jangan lantas hanyut dalam pujian tersebut sehingga lengah dengan apa yang harus dilakukan.

"Yang paling penting Indonesia harus segera merubah total kepemimpinan ekonominya dengan melakukan kebijakan yang konkret," ungkap ekonom Dahnil Anzar Simanjuntak kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini (Rabu, 9/11).


Dalam perekonomian dunia, diingatkan, Indonesia cuma menjadi pasar potensial bagi perekonomian dunia dan strategis yang menguntungkan negara-negara produsen. Tetapi Indonesia gagal menjadi negara yang mampu meningkatkan produksi melalui investasi.

"Karena investor ogah datang menanamkan modalnya di Indonesia karena high cost economy yang sampai detik ini tak kunjung diselesaikan," ucap dosen Fakultas Ekonomi Untirta, Serang, Banten ini.

Akibatnya, negara-negara tetangga yang paling diuntungkan dari fakta karut marutnya biaya ekonomi tinggi di Indonesia. Investor lebih memilih menginvestasikan modalnya di negara yang berdekatan dengan Indonesia. Agar mereka mudah memasarkan produknya ke Indonesia mengingat Indonesia pasar yang sangat potensial.

"Negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura paling diuntungkan dengan karut marut biaya ekonomi yang tinggi di Indonesia. Untuk mendorong investasi tumbuh, pemerintah berhenti sekedar beretorika. Agar ekonomi kita kuat dan sebagainya, mulai benahi birokrasi dan infrastruktur kita segera mungkin," tandasnya menyarankan. [zul]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Kebijakan Energi Harus Seimbang dengan Perlindungan Daya Beli Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 08:05

Lewat Seminar di Wonosobo, Jateng Nyatakan Perang Terhadap Hoaks

Minggu, 26 April 2026 | 07:36

Jemaah Haji Diminta Selalu Bawa Kartu Nusuk dan Dokumen Resmi

Minggu, 26 April 2026 | 07:32

Menkop Optimistis Kopdes Perkuat Ekonomi Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 07:03

Narkoba Melahirkan Rezim TPPU

Minggu, 26 April 2026 | 06:42

KH Imam Jazuli: Kiai Transformatif Cum Saudagar Gagasan

Minggu, 26 April 2026 | 06:23

Pertemuan Prabowo-Kapolri Mengandung Makna Kebangsaan Mendalam

Minggu, 26 April 2026 | 06:03

Satu Keluarga dengan Lima Nyawa Melayang di Barito Utara

Minggu, 26 April 2026 | 05:48

Tanpa Kubu Tetap

Minggu, 26 April 2026 | 05:13

Pertemuan Menhan dengan Para Jenderal Bukan Sekadar Temu Kangen

Minggu, 26 April 2026 | 05:09

Selengkapnya