Berita

Genjot Dukungan Massa, Sri Mulyani Disarankan Lebih Sering ke Indonesia

SELASA, 08 NOVEMBER 2011 | 12:44 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Kasus bailot Bank Century bisa menjadi ancaman sekaligus peluang bagi mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani bila memang berniat running for RI-1 pada pemilihan presiden 2014 mendatang.

Menjadi ancaman, kalau kasus itu tidak dituntaskan, sehingga satu waktu bisa digunakan musuh politik untuk menyerang Sri Mulyani. Tapi sebaliknya, kasus yang juga melibatkan Wapres Boediono itu bisa menjadi amunisi Managing Director Bank Dunia untuk berkampanye, kalau memang kasus itu dituntaskan dan dia terbukti tidak terlibat.

"Dia harus memperbaiki persepsi publik bahwa dia bukan masalah dalam proses bailout Bank Century. Karena dalam politik perspespi yang lebih menentukan," kata pengamat politik dari 'The Indonesian Institute' Hanta Yudha saat ditanya apa tantangan Sri Mulyani bila maju pada 2014 mendatang.


Tantangan lainnya, Sri Mulyani sampai saat ini belum punya kendaraan atau partai politik. Padahal, untuk maju menjadi capres dan cawepres, terang Hanta, harus mendapatkan dukungan dari partai politik.

Bagaimana dengan Partai Serikat Rakyat Indonesia?

"Saya belum melihat tanda-tanda partai SRI ini punya prospek akan besar, seperti Partai Demokrat di tahuun 2004," ungkapnya saat dihubungi Rakyat Merdeka Online siang ini (Selasa, 8/11).

Elektabilitas dan akseptabilitas mantan petinggi IMF itu, juga harus mendapatkan perhatian. Karena sampai saat ini, Sri Mulyani belum mendapatkan dukungan massa yang kuat, seperti para tokoh lain, seperti Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri. Untuk menutupi lobang tersebut, dia menyarankan, Sri Mulyani yang saat ini tinggal di Amerika Serikat itu lebih sering lagi ke Indonesia.

"Jadi arahnya, melakukan strategi komunikasi politik yang, kalau pun belum political advertising-nya, tapi yang diharus dikembangkan political public relation untuk melakukan pendekatan publik," tandas Hanta. [zul]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Kebijakan Energi Harus Seimbang dengan Perlindungan Daya Beli Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 08:05

Lewat Seminar di Wonosobo, Jateng Nyatakan Perang Terhadap Hoaks

Minggu, 26 April 2026 | 07:36

Jemaah Haji Diminta Selalu Bawa Kartu Nusuk dan Dokumen Resmi

Minggu, 26 April 2026 | 07:32

Menkop Optimistis Kopdes Perkuat Ekonomi Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 07:03

Narkoba Melahirkan Rezim TPPU

Minggu, 26 April 2026 | 06:42

KH Imam Jazuli: Kiai Transformatif Cum Saudagar Gagasan

Minggu, 26 April 2026 | 06:23

Pertemuan Prabowo-Kapolri Mengandung Makna Kebangsaan Mendalam

Minggu, 26 April 2026 | 06:03

Satu Keluarga dengan Lima Nyawa Melayang di Barito Utara

Minggu, 26 April 2026 | 05:48

Tanpa Kubu Tetap

Minggu, 26 April 2026 | 05:13

Pertemuan Menhan dengan Para Jenderal Bukan Sekadar Temu Kangen

Minggu, 26 April 2026 | 05:09

Selengkapnya