Berita

KRISIS EKONOMI EROPA

PKS: Saatnya Indonesia Diversifikasi Ekspor

SELASA, 08 NOVEMBER 2011 | 07:05 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Rasa-rasanya sejauh ini baru politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang membicarakan soal strategi perdagangan luar negeri Indonesia di tengah krisis perekonomian yang melanda Eropa.

Ecky Awal Mucharam, anggota Komisi VI DPR RI, memperkirakan krisis itu akan berlangsung lama. Begitu juga dengan upaya pemulihannya. Berdasarkan dengan asumsi seperti ini, menurut Ecky, sudah sepatutnya pemerintah Indonesia terdorong untuk melakukan diversifikasi ekspor dengan mencari negara-negara tujuan ekspor lain di luar negara-negara Eropa dan yang diperkirakan terkena dampak krisis Eropa.

"Dengan laju pertumbuhan hanya 1-2 persen per tahun, Eropa diperkirakan akan butuh waktu 10 tahun untuk pulih dari krisis. Apalagi Eropa juga diharuskan mengetatkan kebijakan fiskal mereka untuk pulih, maka pertumbuhan ekonomi Eropa akan tertekan pada tahun-tahun mendatang sehingga penurunan daya beli tak terelakkan. Karena itu kita harus mencari pasar lain untuk ekspor produk-produk kita," kata Ecky, Selasa pagi (8/10).

Dalam catatannya, saat ini ekspor non-migas Indonesia ke negara-negara Eropa mencapai 12 persen dari total ekspor non-migas. Ini setara dengan ekspor ke Jepang dan lebih besar dari ekspor ke China dan Amerika Serikat yang sebesar 10 persen. Jepang, Eropa, China dan Amerika Serikat menjadi 4 kawasan tujuan ekspor non-migas terbesar Indonesia yaitu sebesar 45 persen. Diikuti oleh India, Singapura, Malaysia dan Korea.

"Konsentrasinya masih terlalu tinggi, harus ada diversifikasi ke pasar-pasar besar lain yang belum tersentuh seperti Rusia dan Amerika Latin", kata Ecky lagi.

Menurut Ecky, penurunan daya beli Eropa yang merupakan pasar ekspor terbesar china akan membuat negara tersebut mencari pasar baru sehingga mengancam barang-barang ekspor Indonesia di luar negeri dan dalam negeri. Lambatnya pemulihan Eropa juga dikhawatirkan mengganggu pemulihan Amerika Serikat yang merupakan pasar penting juga bagi Indonesia dan China.

"Melihat kondisi demikian diversifikasi menjadi penting, kawasan yang pertumbuhannya tetap tinggi seperti Asia dan Amerika Latin harus dipertimbangkan," kata Ecky. [guh]


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

KPK Tak Gentar Hadapi Praperadilan Mantan Waka PN Depok

Minggu, 03 Mei 2026 | 20:19

Ordal, pada Perspektif Rawls

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:54

KPK Telusuri Duit Panas Cukai ke Pengusaha Rokok

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:23

DPR Geram Ada PRT Tewas: Negara ke Mana?

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:17

Spirit Airlines Jadi Maskapai AS Pertama yang Bangkrut akibat Perang Iran

Minggu, 03 Mei 2026 | 17:03

Renault Triber 2026, Sensasi Mobil Keluarga Rasa Eropa Harga Rp 106 Jutaan

Minggu, 03 Mei 2026 | 17:01

Trump Ragu Terima 14 Syarat Damai Baru dari Iran

Minggu, 03 Mei 2026 | 16:33

DPR Ungkap Ada Skenario Damai di Balik Kasus PRT Tewas di Jakpus

Minggu, 03 Mei 2026 | 16:09

Andi Arief Ingatkan Militer Masuk Pemerintah karena Sipilnya Koruptif

Minggu, 03 Mei 2026 | 15:59

Menlu AS Sambangi Vatikan usai Perseteruan Trump dan Paus Leo XIV

Minggu, 03 Mei 2026 | 15:26

Selengkapnya