padi/ist
padi/ist
RMOL. Masalah kebutuhan pangan yang menjadi ancaman nyata warga dunia pada masa mendatang karena jumlah penduduk dunia yang semakin bertambah, mestinya dimanfaatkan Indonesia untuk menjadi negara supplier pangan. Tapi, sayang, yang terjadi malah sebaliknya. Impor komoditi pangan Indonesia justru tinggi.
"Semuanya ini akibat kepemimpinan ekonomi kita yang myiopic (rabun jauh), yakni kepemimpinan yang sibuk dengan kepentingan jangka pendek dan abai dengan kepentingan serta pembangunan jangka panjang," ungkap ekonom Dahnil Anzar Simanjuntak kepada Rakyat Merdeka Online (Senin, 7/11).
Tak hanya itu, hal lain yang membuat Indonesia tetap impor, bukannya mengekspor komoditi pangan, pemerintah sibuk dengan industrialisasi yang justru banyak dikuasai asing dan pada saat yang sama abai dengan pengembangan pertanian yang sejatinya potensi besar negeri ini.
Populer
Senin, 20 April 2026 | 14:11
Sabtu, 18 April 2026 | 02:00
Sabtu, 25 April 2026 | 15:43
Jumat, 17 April 2026 | 17:46
Kamis, 16 April 2026 | 00:32
Senin, 20 April 2026 | 12:50
Kamis, 23 April 2026 | 01:30
UPDATE
Minggu, 26 April 2026 | 08:05
Minggu, 26 April 2026 | 07:36
Minggu, 26 April 2026 | 07:32
Minggu, 26 April 2026 | 07:03
Minggu, 26 April 2026 | 06:42
Minggu, 26 April 2026 | 06:23
Minggu, 26 April 2026 | 06:03
Minggu, 26 April 2026 | 05:48
Minggu, 26 April 2026 | 05:13
Minggu, 26 April 2026 | 05:09