Berita

Guruh Soekarnoputra

Wawancara

WAWANCARA

Guruh Soekarnoputra: Stop, Dikotomi Tua Muda Menjadi Capres 2014

JUMAT, 04 NOVEMBER 2011 | 08:54 WIB

RMOL.Bangsa ini hendaknya tidak terjebak dikotomi tua muda menjadi calon presiden Pemilu 2014. Yang penting orangnya brillian, negarawan, dan tidak korupsi.

Begitu disampaikan putra Bung Karno, Guruh Soekarno­putra kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, Rabu (2/11).

“Saya menilai Puan Maharani belum pantas menjadi capres 2014. Jangan ditafsirkan saya ku­rang suka terhadap orang muda. Saya mendukung calon muda bila orangnya brilian,’’ ujarnya.

Anggota Komisi X DPR itu menegaskan,“Stop, dikotomi tua muda men­jadi capres. Umur jangan dibuat sebagai penilaian. Melihat pe­mimpin itu harus se­cara lengkap. Mulai dari segi moral, mental, dan spiritual.”

Berikut kutipan selengkapnya;

Apa ini penjegalan bagi Puan Maharani?

Ini bukan penjegalan. Saya melihatnya secara obyektif, apa adanya. Ini bukan soal tua dan muda.

Pemimpin tua pun kalau masih mempunyai kemampuan dan se­mangat membenahi bangsa ini, saya pasti mendukung. Kenapa dilarang-larang. Yang penting memenuhi persyaratan seperti yang tercantum dalam UUD 1945 dan peraturan lainnya.

Kenapa tidak setuju Puan Ma­­harani menjadi capres, itu kan keponakan Anda?

Dari segi kematangan dan jam terbang ber­politiknya belum cu­kup. Begitu soal wa­wa­san da­­­lam hal pe­­­­nge­ta­hu­an be­lum cukup. Se­bab, menjadi pre­siden seka­rang ini memerlukan ke­mam­­puan luar biasa. Sebab, bangsa ini terlalu ba­nyak ma­salah.

Apa Megawati Soekarno­putri me­negur Anda setelah me­lon­tarkan per­nyataan itu?

Keadaannya bia­sa saja, tidak dite­gur. Kalau mau tang­ga­pan Bu Me­ga, sila­kan tanya­kan lang­sung kepada beliau.

Apa Anda masih menilai la­yak Me­ga menjadi capres dari PDI Perjuangan?

Itu juga tanyakan kepada beliau.

Barangkali Anda siap men­jadi capres 2014?

Intinya, seluruh anak bangsa, sejak kecil harus mmpersiapkan diri menjadi pemimpin bangsa dan negara.  Ini merupakan pe­ngab­dian kepada negara dan rakyat.

Apa Anda sudah siap me­ngabdi?

Saya dididik orangtua saya, Bung Karno, bahwa kewajiban kita adalah mengabdi. Kita seba­gai manusia harus mempersiap­kan diri menjadi pengabdi pada Tuhan.

Beliau (Bung Karno) menga­takan, manusia tidak bisa me­ngabdi kepada Tuhan jika tidak mengabdi pada umat manusia, syaratnya itu. Kewajiban dasar kita adalah mengabdi. Dalam kon­­teks berbangsa dan berne­gara, tentu kita harus mengabdi pada bangsa dan negara.

Apa mungkin PDI Perjua­ngan mendukung Anda men­jadi capres?

Nggak tahu. Yang jelas, saya kurang setuju de­ngan sistem ke­par­taian kita dengan banyak partai.  Ba­gi orang awam, ba­nyak partai me­nun­jukkan negara itu menjunjung de­mokrasi. Padahal, demokrasi itu bu­kan patokannya ba­nyak partai.

Sekarang ini par­­tai tidak men­ja­lan­kan fungsinya de­ngan baik. Ma­lah memecah be­lah, meng­kotak-kotakkan rakyat. Pada­hal ideolo­gi kita satu, yaitu Pan­­casila.

Oh ya, apa syarat menjadi ca­pres?

Tentunya harus berwawasan luas, banyak pengalaman, dan banyak bidang yang dikuasainya.  Misalnya menguasai ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan pendidikan.

Bagi saya, syarat seorang pre­siden tidak perlu memiliki pen­didikan akademis yang tinggi. Yang palling dibutuhkan  adalah tingkat kearifan sosial yang tinggi dan mendekati taraf ke­sem­purnaan.

Bagaimana dengan ideologi?    

Saya melihat banyak orang ber­politik bukan untuk satu per­juangan ideologi,­ tapi perjua­ngan untuk kelompok. Muncul­nya sifat pragmatis dalam per­juang­an politiknya, bukan ber­dasar­kan ideologis.

Contohnya?

Amandemen UUD 1945 sam­pai empat kali. Ini sudah melen­ceng dari semangat, jiwa, dan hakekat proklamasi kemerde­kaan kita.

Kenapa seluruh partai diharus­kan berideologi Pancasila. Se­bab, banyak partai berkeinginan tidak berideologi Pancasila. Ke depan tantangan bangsa kita le­bih berat. Makanya, kita harus memiliki de­rap langkah dan tu­juan yang sa­ma. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

UPDATE

H+3 Lebaran Emas Antam Stagnan, Buyback Merosot Rp80 Ribu

Selasa, 24 Maret 2026 | 10:01

NTT Butuh Alat Berat dan Logistik Mendesak Pasca Banjir dan Longsor

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:47

Rahasia AC Mobil Tetap Beku di Tengah Kemacetan Arus Balik Lebaran 2026

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:40

Prabowo Telepon Presiden Palestina, Tegaskan Solidaritas dari Indonesia

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:34

Harga Minyak Anjlok 11 Persen

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:22

Menanti Pembukaan Bursa Usai Libur Lebaran: Peluang dan Risiko di Pasar Saham RI

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:01

Saham-saham Asia Terbang Usai Keputusan Trump

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:44

Iran: Tidak Ada Negosiasi dengan AS, Itu Berita Bohong untuk Manipulasi Pasar

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:33

Pasar Saham AS Melonjak Setelah Trump Tunda Serangan ke Iran

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:18

Leonid Radvinsky Wafat: Jejak Sang Raja Platform OnlyFans yang Fenomenal

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:07

Selengkapnya