Berita

Hanura Minta Partai Besar Tak Berangus Suara Rakyat

SELASA, 01 NOVEMBER 2011 | 10:57 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Enam partai menengah dan kecil di parlemen, PKS, PAN, PKB, PPP, Gerindra, dan Hanura dikabarkan sedang membuat aliansi untuk melawan rencana partai besar, Demokrat, Golkar dan PDIP, menaikkan ambang batas minimal perolehan suara partai untuk bisa mengirim wakilnya ke Parlemen.

Ditanyakan hal tersebut, Wakil Ketua Fraksi Hanura Sarifuddin Sudding mengaku belum tahu. Meski dia berharap, partai-partai besar tidak memaksakan menaikkan ambang batas menjadi 4 persen, seperti yang disuarakan Demokrat, atau 5 persen yang menjadi usul Golkar dan PDIP.

"Kita tetap berharap partai-partai besar tetap mengakomodir suara-suara publik, jangan memberangus suara rakyat. Karena dengan kenaikan parliamentary treshold yang begitu drastis, berpotensi suara rakyat sekian juta hilang," katanya kepada Rakyat Merdeka Online, (Selasa, 1/11).


Hanura menolak kenaikan ambang batas bukan karena tidak percaya diri tidak bisa mencapainya. Bahkan, kata dia, jangankan 5 persen, 10-15 persen juga partainya siap. Karena pada dasarnya, Hanura juga sepakat dengan penyederhanaan jumlah partai. Tapi, kalau kenaikannya dilakukan secara drastis dari 2,5 persen pada Pemilu lalu menjadi 4 atau 5 persen itu akan menghilangkan suara rakyat.

"Tapi tidak dengan cara seperti itu. Tapi bagaimana memberikan penghargaan terhadap suara-suara yang diberikan rakyat. Jangan sampai hilang begitu saja. Dengan 2,5 persen saja ada 19 jutaan suara tidak diakomodir (di parlemen)," tandasnya.

Kalaun pun ambang batas mau dinaikkan dari Pemilu sebelumnya, menurutnya, tidak melebihi 3 persen. [zul]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Kebijakan Energi Harus Seimbang dengan Perlindungan Daya Beli Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 08:05

Lewat Seminar di Wonosobo, Jateng Nyatakan Perang Terhadap Hoaks

Minggu, 26 April 2026 | 07:36

Jemaah Haji Diminta Selalu Bawa Kartu Nusuk dan Dokumen Resmi

Minggu, 26 April 2026 | 07:32

Menkop Optimistis Kopdes Perkuat Ekonomi Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 07:03

Narkoba Melahirkan Rezim TPPU

Minggu, 26 April 2026 | 06:42

KH Imam Jazuli: Kiai Transformatif Cum Saudagar Gagasan

Minggu, 26 April 2026 | 06:23

Pertemuan Prabowo-Kapolri Mengandung Makna Kebangsaan Mendalam

Minggu, 26 April 2026 | 06:03

Satu Keluarga dengan Lima Nyawa Melayang di Barito Utara

Minggu, 26 April 2026 | 05:48

Tanpa Kubu Tetap

Minggu, 26 April 2026 | 05:13

Pertemuan Menhan dengan Para Jenderal Bukan Sekadar Temu Kangen

Minggu, 26 April 2026 | 05:09

Selengkapnya