Berita

Mahfud MD

Wawancara

WAWANCARA

Mahfud MD: Saya Bisa Tergoda Menjadi Capres Kalau Sering Dimunculkan, Ha-ha-ha

SENIN, 31 OKTOBER 2011 | 07:47 WIB

RMOL. Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD heran kenapa hasil beberapa survei namanya muncul sebagai calon presiden Pemilu 2014.

Apalagi, lanjut bekas Menhan itu, namanya ditempatkan di ja­ja­­ran teratas calon presiden alter­natif.

“Saya merasa tidak punya po­tongan untuk menjadi capres atau cawapres. Saya merasa ti­dak mungkin menuju ke sana,” ujar Ketua MK, Mahfud MD, kepada Rakyat Merdeka, Jumat (28/10).

Saat ditanya apa tidak tergoda untuk maju sebagai capres kalau sering namanya muncul dari hasil survei, bekas politisi PKB itu se­cara berkelakar mengata­kan, ka­lau sering muncul seperti itu lama-lama tergoda juga.

“Saya bisa tergoda menjadi capres kalau sering dimunculkan, ha-ha-ha. Mungkin saya merasa punya potongan juga,” ujar Mahfud dengan tertawa.

Berikut kutipan selengkapnya;


Apa ada niat membuat tim sukses?

Saya tidak per­nah berusaha atau ber­mim­pi men­dapat du­ku­­ngan agar menjadi calon pre­siden atau calon wakil presiden. Apa­lagi membentuk tim untuk me­raih popularitas dan elekta­bili­tas. Tidak akan per­nah saya la­kukan itu.

Namun saya sadar bah­wa politik itu di­namis, semua bisa berkembang ke arah baru. Saya anggap itu sebagai bagian dari dinamika politik saat ini. Tapi saya merasa be­lum layak untuk ke sana.


Seringnya muncul di survei, berarti ba­nyak dukungan, ke­napa tidak berbuat lebih kon­krit?

Saya tidak tahu mengapa saya popu­lar. Saya  tidak pernah beru­saha membangun citra. Saya selalu ingin bekerja sung­guh-sungguh, apa ada­­nya. Tidak pernah takut untuk bersikap tegas dan lugas. Saya tidak takut ke­hi­langan apa-apa apabila harus bersikap tegas dan berani. Saya selalu menjadi berani asal benar. Itu saja.


Sudah ada partai yang me­mi­nang?

Secara institusional dan offi­cial belum ada partai politik yang me­minang. Tapi banyak pim­pinan berbagai partai politik yang se­cara personal mengajak bicara tentang peluang. Saya mengata­kan, saya ini hakim, saat ini tak boleh boleh berbicara soal capres. Apalagi membuat ren­cana politik yang menyangkut diri saya.


Bagaimana tanggapan ke­luarga dengan hasil survei itu?

Tanggapan keluarga saya biasa-biasa saja. Sejak dulu ke­luarga tidak pernah ikut campur urusan saya. Mereka percaya pada saya untuk memilih apapun yang saya kehendaki. Mereka pasti mendukung.


O ya, hasil survei dilakukan banyak lembaga, dan hasilnya berbeda-beda, apa tanggapan Anda?

Ada beberapa lembaga survai yang bisa diper­caya tapi ada yang politis dan pe­sa­nan. Tapi apa­pun jenisnya, kita bisa menyim­pulkan sendiri, mana lem­baga sur­vei yang be­nar-benar obyek­tif dan mana yang hanya berjualan atau di­bayar untuk suatu poli­tical power.

Namun saya senang membaca hasil survei-sur­vei itu semua se­bagai produk ana­lisis. Bukan se­nang karena saya masuk unggu­lan dalam survei. Siapapun yang diberitakan dalam survei, saya senang membaca berita itu.


O ya, hasil survei dilakukan banyak lembaga, dan hasilnya berbeda-beda, apa tanggapan Anda?

Ada beberapa lembaga survai yang bisa diper­caya tapi ada yang politis dan pe­sa­nan. Tapi apa­pun jenisnya, kita bisa menyim­pulkan sendiri, mana lem­baga sur­vei yang be­nar-benar obyek­tif dan mana yang hanya berjualan atau di­bayar untuk suatu poli­tical power.

Namun saya senang membaca hasil survei-sur­vei itu semua se­bagai produk ana­lisis. Bukan se­nang karena saya masuk unggu­lan dalam survei. Siapapun yang diberitakan dalam survei, saya senang membaca berita itu.


Survei itu masih efektif mem­bangun citra seseorang?

Survai bisa bermanfaat untuk memperkenalkan kualitas calon. Tapi masyarakat sekarang sudah pandai, sehingga pandangan dan sikap politiknya tidak bisa di­belokkan oleh survey tersebut. Makanya demi moralitas dan martabat kita sebagai bangsa, sebaiknya kita tidak membodoh-bodohi masyarakat melalui survei yang abal-abal. Sebuah survei itu harus profesional dan obyektif memotret pandangan masya­rakat.


Apa sekarang ini terjadi kri­­sis kepemimpinan di partai, se­hingga nama Anda muncul hasil survei?

Mengenai banyak tokoh partai politik hasilnya sering di bawah elektabilitas. Itu yang menyedih­kan. Bagaimana pun partai politik adalah instrumen penting dalam demokrasi. Kita harus sehatkan partai politik. Sebab, tanpa partai politik, demokrasi akan mati. Tidak boleh kita mengusulkan meniadakan parpol. Itu berten­tangan dengan konstitusi dan akal sehat demokrasi. Parpol sekarang ini oligarkis, bukan demokratis. Makanya banyak yang tidak senang. Pimpinan parpol harus menyadari ini. Jangan egois dan jangan hanya mementingkan diri sendiri.   [rm]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya