Berita

Arwani Thomafi/ist

PPP Tetap Ingin Ambang Batas Parlemen 2,5 Persen

KAMIS, 27 OKTOBER 2011 | 15:46 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Pemilihan umum yang digelar di Indonesia menggunakan sistem proporsional. Karena itu wacana peningkatan persentase ambang batas masuk parlemen harus tetap mempertimbangkan keberlangsungan sistem proporsional itu sendiri.

"PT (parliamentary treshold) 4 persen itu akan semakin meningkatkan derajat disproporsionalitas. Makin tinggi PT maka akan semakin mengingkari sistem proporsionalitas yang kita anut," kata Sekretaris Fraksi PPP Muhammad Arwani Thomafi kepada Rakyat Merdeka Online (Kamis, 27/10).

Karena itu. menurutnya, kalau mau konsisten menjaga keberlangsungan sistem proporsional yang telah diterapkan selama ini, maka ambang batas itu sebaiknya tidak melebihi angka 3 persen.


"Angka 2,5 persen yang selama ini sudah berjalan, sudah cukup baik. Angka 2,5 itu cukup toleran. Kalau 4 persen akan banyak suara yang hilang, sia-sia. Ini bertolak belakang dengan bagaimana (tujuan) Pemilu itu bisa menyalurkan suara dan memiliki keterwakilan (di DPR)," ungkapnya.

Jurubicara DPP PPP ini melihat usul pemerintah tentang ambang batas 4 persen sebagaimana termaktub dalam Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) Revisi UU Pemilu yang disampaikan pemerintah tadi malam sejalan dengan apa yang diinginkan Partai Demokrat. Partai penguasa itu memang selama ini menyatakan bahwa ambang batas itu sebaiknya 4 persen.  

Kalau begitu apakah PPP akan mendekati Demokrat agar ambang batas hanya 2,5 persen?

"Ini kan masih DIM. Nanti ada pembahasan-pembahasan. Kita akan tetap mencoba mencari titik temu, agar keinginan untuk memperbaiki sistem Pemilu, memberbaiki kualitas penyelenggaraan Pemilu itu menjadi tujuan utama dari revisi UU. Ini bukan persoalan kalah menang, apalagi ketika revisi UU Pemilu ini mengabaikan komitmen kita untuk melaksakanan proporsional dengan lebih baik," jawabnya. [zul]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Kebijakan Energi Harus Seimbang dengan Perlindungan Daya Beli Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 08:05

Lewat Seminar di Wonosobo, Jateng Nyatakan Perang Terhadap Hoaks

Minggu, 26 April 2026 | 07:36

Jemaah Haji Diminta Selalu Bawa Kartu Nusuk dan Dokumen Resmi

Minggu, 26 April 2026 | 07:32

Menkop Optimistis Kopdes Perkuat Ekonomi Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 07:03

Narkoba Melahirkan Rezim TPPU

Minggu, 26 April 2026 | 06:42

KH Imam Jazuli: Kiai Transformatif Cum Saudagar Gagasan

Minggu, 26 April 2026 | 06:23

Pertemuan Prabowo-Kapolri Mengandung Makna Kebangsaan Mendalam

Minggu, 26 April 2026 | 06:03

Satu Keluarga dengan Lima Nyawa Melayang di Barito Utara

Minggu, 26 April 2026 | 05:48

Tanpa Kubu Tetap

Minggu, 26 April 2026 | 05:13

Pertemuan Menhan dengan Para Jenderal Bukan Sekadar Temu Kangen

Minggu, 26 April 2026 | 05:09

Selengkapnya