Berita

ilustrasi, imunisasi

Bisnis

Orangtua jangan Menolak Anaknya Diimunisasi

MINGGU, 16 OKTOBER 2011 | 00:20 WIB

RMOL.Kalau sebagian orangtua me­nolak memberi imunisasi pada anaknya dengan berbagai ala­san, kekebalan tubuh anak itu bakal lemah. Konsekuensinya, anak yang tidak diimunisasi berisiko cacat seumur hidup, mudah ter­tular penyakit berat, sakit be­rat, bah­kan bisa me­ninggal.

“Mereka yang tidak mau me­ng­imunisasikan anaknya meru­gikan diri sendiri, masyarakat, melang­gar hak-hak anak, Un­dang-Un­dang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Kesehatan. Orang­tua yang menolak mem­be­rikan imunisasi apapun ala­san­nya berpotensi terjadi wa­bah,” kata dr Soedjatmiko.

Ia mencontohkan wabah dif­teri di Jawa Timur, baru-baru ini. Salah satu penyebabnya ada­lah sebagian orangtuanya tidak mengimunisasi anak­­nya secara lengkap.

Difteri merupakan penyakit yang menyerang saluran napas. Penyakit ini disebabkan bakteri Corynebacterium Diphtheriae yang dapat dilihat pada laring, amandel, dan tenggorokan.

Bila seorang anak meng­ala­mi difteri, komplikasi yang di­tim­bulkan pun tidak ringan karena difteri menyumbat sa­luran per­nafasan.

“Jika sudah begini, maka yang dibutuhkan adalah pem­bolongan leher agar anak dapat bernafas,” ujar  dr Soedjatmiko.

Selain itu, katanya, difteri juga dapat menyerang jantung se­hingga menyebabkan aliran darah ke jantung terhambat yang dapat menyebabkan kematian. Ini ke­mungkinan dapat terjadi pada awal pekan kejadian.

Difteri ditularkan lewat  per­nafasan, bersin, pilek batuk dan percikan ludah dari orang yang sudah terkontamonasi bakteri. Namun, kata dr Soedjatmiko, penyakit ini dapat dicegah lewat imunisasi DPT sesuai jadwal.

Vaksin DPT ini merupakan campuran dari tiga vaksin, yaitu untuk mencegah penyakit dif­teri (yang menyerang teng­go­rokan), pertusis (batuk rejan), dan tetanus (infeksi akibat luka yang menim­bulkan kejang-kejang).

Gejala yang muncul di anta­ranya demam, nyeri tenggorokan ringan, nyeri saat menelan, aman­del tertutup selaput lendir, mung­kin terjadi pembengkakan ke­lenjar getah bening di leher dan na­pas berbunyi. [rm]



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya