Berita

syarif hasan/ist

RUU KOPERASI

Syarif Hasan: Sistem Saham untuk Perbaiki Koperasi

SENIN, 03 OKTOBER 2011 | 17:41 WIB | LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK

RMOL. Draf RUU Koperasi yang akan dibahas bersama pemerintah dengan DPR tahun ini memiliki agenda utama memperbaiki kinerja koperasi, salah satunya dengan saham.

Demikian disampaikan Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan, akhir pekan ini.

"Salah satu contoh misalnya, dalam draf itu akan diperkenalkan sistem saham. Sebelumnya penggunaan kalimat ini belum dipakai. Itu adalah salah satu usulan yang akan dibahas pemerintah dan anggota legislatif," katanya.


Menurut Syarif, wacana ini sengaja digulirkan karena koperasi akan sulit berkembang bila finansialnya hanya tergantung dari dana anggota, yakni simpanan pokok dan iuran wajib bulanan.

"Jika sistem saham diperkenankan dalam operasional koperasi, sumber dananya akan mendukung usaha," kata Syarif.

Lanjut Menkop, poin lainnya yang disusun dalam draf itu untuk mendorong kinerja koperasi agar bisa cepat beradaptasi dengan perkembangan pasar. Sedangkan poin lainnya mempertegas mekanisme pengawasan dan manajemen pengelolaan.

Dalam dunia perkoperasian Indonesia saat ini, katanya, dipandang perlu mengubah paradigma yang selama ini banyak menggantungkan harapan pada bantuan pemerintah. Hal ini, khususnya untuk sumber pembiayaan. Sebaliknya kapasitas pemerintah lebih banyak melakukan fasilitasi.

Jika memungkinkan, lanjutnya, koperasi bahkan bisa lebih mapan apabila dilakukan merger untuk memperkuat kinerja melalui permodalan. Akan tetapi, kata dia, keinginan dan harapan itu tergantung dari disetujui atau tidak RUU itu.

Sementara itu, Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM, Untung Tri Basuki, menegaskan bahwa ke depan koperasi memang harus jadi besar. Oleh karena Itu dalam draf RUU banyak hal baru yang dicantumkan guna mendorong usaha koperasi yang terdiri dari orang per orang.

Menurut dia, peluang membesarkan usaha koperasi sangat terbuka, karena bisa mengakomodasi permodalan dari berbagai anggota koperasi lain. Aturan itu, lanjutnya, tercantum dalam Undang-undang Koperasi Nomor 25 Tahun 1992.

"Akan tetapi, masyarakat koperasi jangan langsung bereaksi ketika pemanfaatan istilah dalam draf itu menggunakan kalimat baru. Misalnya, saham, komisaris dan posisi lain yang selama ini dipakai pada perusahaan. Yang penting substansi koperasi tidak dilanggar," ujarnya.

Pergantian kata dalam posisi penanggungjawab koperasi, katanya, agar lebih dinamisdan efisien. Pergantian lainnya yang dirancang ke depan adalah sistem simpanan pokok atau iuran wajib anggota koperasi.

Dalam draf baru, simpanan pokok dan iuran yang telah masuk dalam koperasi, tidak bisa ditarik kembali. Hal ini dimaksudkan agar permodalan koperasi tetap stabil meski ada anggota yang menarik diri keluar dari posisinya.

Anggota yang keluar, kata Untung, harus menjual simpanannya itu kepada anggota lain. Demikian demikian, permodalan koperasi tidak berkurang. "Koperasi akan goyah apabila terjadi rush, dan mayoritas menarik simpanan pokok dan iuran wa-jibnya."

Meski secara resmi belum ada reaksi dari gerakan koperasi terhadap rencana perubahan undang-undang tersebut, muncul kekhawatiran mereka terhadap sistem pengelolaan manajemen koperasi yang mengarah pada kapitalisme.

Artinya, permodalan koperasi bisa dikuasai secara mayoritas oleh penanam saham, meski status keanggotaan lainnya tetap diakui. Jika hal ini terjadi, maka entitas koperasi sebagai gerakan ekonomi kerakyatan, kehilangan jati dirinya. [ysa]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya